Krisis Kepemimpinan Bangsa Pasca 19 Tahun Reformasi

Rabel Foundation
Karya Rabel Foundation Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Juni 2017
Krisis Kepemimpinan Bangsa Pasca 19 Tahun Reformasi

Senin, (5/6/2017) - Konfederasi Mahasiswa Nusantara(KMN), menggelar diskusi yang bertemakan “Krisis Kepemimpinan Bangsa Pasca 19 Tahun Reformasi”. Diskusi yang cukup alot ini berlansung dari pukul 19.30-21.00 WIB di Cafe Baileys, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Alfian Akbar Balyanan sebagai Presiden Konfederasi Mahasiswa Nusantara di awal diskusi menggarisbawahi beberapa point penting yang harus menjadi jiwa dan spirit perjuangan seluruh anggota KMN berhadapan dengan krisis kepemimpinan yang sedang kita alami. "Persoalan kita adalah matinya nurani pemimpin di Negeri kita. Rezim sekarang sedang mempertontonkan keadialan yang terstruktur, penindasan masif terhadap nilai-nilai kemanusian serta hilangnya perdamaian negeri dari negeri tercinta ini," demikian Alfian menuturkan keprihatinannya. Karena itu, KMN mesti menunujukan keberpihakanya pada nilai-nilai yang sudah terkhianati itu, demikian lanjut Alfian.

Pada kesempatan yang berbeda Ilham Satria selaku Sekjen KMN, mengingatkan kembali motif yang mendorong lahirnya KMN. Berbagai krisis dan penyimpangan yang terjadi semenjak masa Orba hingga sekarang menurut Ilham berawal dari krisis kepemimpinan yang tidak pernah menunjukan titik cerah. KMN menurutnya adalah wadah yang siap bersinergitas dan punya komitmen untuk berani membuat terobosan baru dan mendukung lahirnya Pemimpin yang berintegritas.

Hal ini kemudian dipertegas kembali oleh Riedho Dharman agar para pemimpin penting berjiwa pancasilais. Paparnya, pemimpin kita sekarang tidak lagi bertindak sesuai ideologi pancasila. Pemimpin kita telah "memunggungi" ketentuan-ketentuan vital yang digariskan dalam pancasila.

Aulia Rahmah, selaku Direktur keuangan KMN, melihat masalah kepemimpinan yang semakin menjadi-jadi itu menaruh harapan penuh pada KMN untuk menjadi tempat yang sentral bagi setiap orang untuk dilatih serta ditempa jiwa kepemimpinannya. Harapan yang sama datang dari Daud Wilton Purba yang menyoroti persoalan demokrasi yang semakin tidak berjati diri. Demokrasi kita terlampau bebas sehingga kehilangan titik kendali. Lagi-lagi dia tegaskan KMN adalah wadah yang menampung setiap aspirasi untuk menata kembali wajah demokrasi yang asli.

Pada bagian akhir dari diskusi ini Rian Agung menyentil soal apatisme mahasiswa berhadapan dengan persoalan krusial bangsa. Ia berharap KMN harus menjadi simbol kebangkitan Mahasiswa Indonesia. Mahasiswa terlampau apatis dan tidak jeli melihat persoalan bangsa. Berjuang untuk kemaslatan bersama adalah harga mati bagi mahasiswa.

 

Rian Agung

(Departemen Media & Informasi Konfederasi Mahasiswa Nusantara)

  • view 161