Transformasi Gerakan

Rabel Foundation
Karya Rabel Foundation Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 April 2017
Transformasi Gerakan

(Transformasi Gerakan Sebagai Produk Gerakan Yang Relevan Terhadap Realitas Sosial)

Transformasi Gerakan merupakan suatu pendekatan secara teoritis dan aplikasi perubahan karakter gerakan sosial (social movement). Sebagian ilmuwan telah menggambarkan periodisasi fase-fase gerakan sosial, sebagaimana yang digambarkan oleh Singh (2001, 890) yang dibaginya menjadi tiga periode yakni : Klasik, Neo - Klasik dan New social movement. 

New social movement lahir dari perkembangan masyarakat (post industrial) di Amerika Utara dan Eropa Barat (Meluci, 1980). Gerakan baru ini lahir sebagai antitesa atas gerakan konvensional (marxisme klasik) yang sesungguhnya meruduksi bahkan meniadakan gerakan konvensional tersebut. 

New social movement hadir sebagai kritik terhadap gerakan marxis yang selalu mengarahkan revolusi proletarian yang berakar dari statafikasi sosial dan menyampingkan bentuk protes lainnya (Oeman Sukmana, Gerakan Sosial).

Perbedaan antara kedua fase gerakan ini baik Neo-klasik (marxis klasik) dan NsM (new social movement) dapat dilihat dari beberapa karakteristik yakni : 1. Ideology dan goals, 2. Tacties, 3. Structure, 4. Participants of contemporary movement. 

Artinya sudah jelas bahwa dari sisi ideologi atau tujuan terdapat perbedaan kontras. Marxis klasik menekankan gerakan pada redribusi ekonomi dan stratafikasi sosial sedangkan new social movement menekankan gerakan pada aspek non-ideologis, dengan demikian maka artikulasi terhadap taktik, struktur dan partisipasinya pun antara kedua fase ini pun berbeda walaupun masih terdapat beberapa kesamaan kesamaan terhadap mobilisasi.

Terjadinya perubahan-perubahan mendasar teehadap karakteristik gerakan adalah merupakan sebuah keniscayaan atas berkorelasinya karakter gerakan dan realitas sosial. 

Di indonesia, new social movement tak lagi relevan untuk di terapkan, mengingat karakteristik new social movement ini telah digunakan sebagai instrumen penumbangan rezim otoritarian pada tahun 1998. Sehingga karakter gerakan tersebut telah menjadi perhatian khusus bagi para pakar ilmu sosial, politik, militer dan lain sebagainya untuk di kaji dan dijadikan sebagai bahan antisipatif terhadap gerakan serupa dan untuk melindungi kekuasaan negara dari ancaman revolusi. Selain faktor-faktor lain yang menyebabkan inrelevansinya gerakan tersebut. 

Dengan demikian maka, seyogianya gerakan sosial harus tetap bertransformasi mengikuti arah isu global dan realitas sosial, sehingga tetap dapat meng'updete' relevansi zaman dan senantiasa menemukan sintesis bagi perkembangan karakter gerakan. 

Jika menggunakan skema dialektika (Hegel) dalam menjawab kontradiksi atas karakter gerakan pada kedua fase sebagaimana uraian diatas, maka Neo-klasik ditempatkan menjadi tesis, New social movement ditempatkan sebagai antitesis sedangkan Transformasi gerakan ditempatkan sebagai sintesis atas kontradiksi tesis dan antitesis tersebut. 

Sebab, Transformasi gerakan ialah akumulasi dari fase-fase gerakan yang berpijak pada realitas sosial karena dapat menjadi titik temu dan juga senantiasa dapat mengartikulasi isu global yang saling berkoneksi satu sama lain. 

Transformasi gerakan hadir untuk memobilisasi opini global (mobilizing global opinion) dalam titik sentral serta mengartikulasikan karakter dan manifesto gerakan pada titik sentral tersebut secara strategis.

Transformasi gerakan ialah artikulasi yang berangkat dari teori Lawrance M. Friedman "The Legal System", yang menitikberatkan social change pada tiga aspek yakni : 1. Regulations, 2. Social Structure (Institusions), 3. Culture. Artikulasi teori Lawrance M.Friedman inilah yang kemudian di akumulasi menjadi format gerakan. 

Dengan demikian, Transformasi gerakan ini menjadi relevan baik secara teori maupun aplikatif sehingga menjadi produk gerakan baru yang ditawarkan pada fase baru gerakan sosial. Sehingga gerakan sosial baru ini (transformasi gerakan) dapat mengilhami khazanah gerakan demi perbaikan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah yang baik dalam rangka menyambut gelombang peradaban generasi.

(Alfian Akbar Balyanan)

  • view 154