INDONESIA DI ABAD 21

Rabel Foundation
Karya Rabel Foundation Kategori Ekonomi
dipublikasikan 18 Januari 2017
INDONESIA DI ABAD 21

INDONESIA DI ABAD 21

Sebagaimana para peneliti mengemukakan bahwa, Poros Ekonomi Dunia pada abad ke-21 ini, telah mengarah ke belahan Asia-Pasifik. Hal itu dapat kita lihat bahwa Asia dewasa ini telah menunjukkan eksistensinya pada dunia. Pandangan ini diperkuat oleh laporan IMF, bahwa 10 negara Asia termasuk Indonesia kini memiliki PDB (Produk Domesti Bruto) yang hamper setara dengan Amerika Serikat yakni 16 Triliun US Dollar dalam setiap tahunnya. Bahkan, jika diukur berdasarkan statistic, AS hanya menciptakan permintaan baru sebesar 400  miliar US Dollar, sedangkan Asia meningkat tajam hingga 1 Triliun US Dollar dalam kurun 1 tahun.

Kompetensi Ekonomi Global yang semakin dinamis dan kompetitif ini, menghendaki perlu adanya antisipasi terhadap gencatan maupun ancaman akibat persaingan global yang semakin ketat ini. Terlebih bagi Indonesia yang merupakan salah satu Negara kontributor ekonomi Asia. Sebab, kekuatan hegemoni Asia pada sector ekonomi yang menunjukkan kemajuan sangat signifikan ini sangatlah potensial menghadapi gejolak ancaman dan tantangan. Amerika dan Negara-negara kompetitor lainnya tentu tak kehilangan akal untuk memporak-porandakan kekuatan dan kedaulatan bangsa, baik dari segi ekonomi – politik, dan terlebih dari segi pertahanan dan keamanan bangsa. Bahkan sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, kemudian berdampak pada dinamisnya perubahan konsklasi dunia dan semakin tak tertata.

Sebagai bangsa kita harus memandang ancaman ini secara serius. Selain karena alasan diatas, lebih dari itu, jika kita melihat Negara-negara, Asia-Pasifik berdasarkan kekayaan alamnya, Indonesia adalah Negara yang kekayaan alamnya sangat banyak di bandingkan Negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Bahkan kekayaan alam Indonesia dapat menjamin kelangsungan hidup dunia ke depannya. Maka, agar dapat merumuskan langkah-langkah strategis untuk melakukan antisipasi. Terlebih dahulu kita harus mengidentifikasi potensi-potensi konflik yang dapat dijadikan Amerika atau bahkan Negara-negara competitor lainnya, sebagai “pintu masuk” untuk memporak-porandakan kekuatan bangsa, baik dari segi untuk melemahkan kekuatan ekonomi atau demi meraup keuntungan dari sumber daya dan kekayaan bangsa. Juga baik dari segi regional maupun dari segi nasional.

Dalam konteks regional setidak-tidaknya terdapat dua scenario konflik yang perlu kita antisipasi, yakni :

Pertama, melalui konflik Laut China Selatan. Melalui konflik ini, Negara-negara yang tidak bersengketa dalam konflik ini, memiliki kesempatan besar untuk melakukan politik adu domba melalui kekuatan aliansi yang terbangun atas konflik ini. Dan ini merupakan potensi besar bagi competitor ekonomi Asia, untuk memecah belah poros kekuatan ekonomi Asia dan sekaligus memcah belah kekuatan Negara-negara Asia di kancah global.

Kedua, melalui issue Papua (Pro-Kontra Integrasi Papua). Melalui konflik ini, dapat mennjadi magnitut oleh Negara-negara Pasifik Selatan yang memiliki kesamaan ras seperti, PNG, Fiji, Vanuatu, Solomon Island dan lain sebagainya. Dan Negara-negara yang memiliki kepentingan besar terhadap kekayaan sumber daya alam Papua seperti Amerika, Inggris, Belanda dan lain sebagainya. Untuk memberikan dukungan politiknya terhadap kemerdekaan Papua.

Dalam konteks nasional, setidak-tidaknya terdapat dua potensi konflik yang perlu di antisipasi, yakni :

Pertama, melalui konflik SARA. Resistensi terhadap konflik SARA di Indonesia merupakan potensi besar untuk memporak-porandakan persaatuan bangsa.

Kedua, melalui konflik politik. Resistensi terhadap konflik politik baik secara horizontal maupun vertikal juga merpukan sebuah ancaman nasional yang patut kita antisipasi.

Oleh karenanya, dalam rangka menjaga stabilitas lintas sektor, maka peningkatan terhadap peran setiap elemen bangsa menjadi penting. Sebab, hal ini bukan hanya menjadi tanggunga Pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh anak bangsa terlebih bagi generasi muda. Generasi muda sudah selayaknya memberikan andil besar dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kehadiran Rabel Foundation dalam hal ini, adalah wujud membuka cakrawala atas narasi besar tantangan ini, dalam pandangan secara global, regional maupun nasional. Sehingga gerakan yang senantiasa akan dibangun, akan berpucuk dan berlandas kajian yang kami kemukakan.

Demikian tulisan ini kami kemukakan, semoga kita senantiasa dapat bersatu padu menggagas gerakan besar demi mempertahankan kedaulatan bangsa.

 

Jakarta, 18 Januari 2017

 

Salam Hormat,

 

Rabel Foundation

 

  • view 128