Pesantren Story #1 : Deep Breath in the Night

Muhammad Arif Rizaldi
Karya Muhammad Arif Rizaldi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 September 2016
Pesantren Story #1 : Deep Breath in the Night

Suatu malam yang kelam, di sebuah Pesantren, tempatku menimba ilmu. Suasana sunyi bercampur hawa gerah yang menggila akibat pemanasan global yang tak kunjung usai. Ya, malam sudah kehilangan hawa-hawa dingin yang menjadi ciri khasnya. Namun suasana sunyi tetap menjadi sebuah adat di Pesantren tempat tinggalku ketika malam, karena malam adalah waktu paling istimewa bagi kawan santri untuk merehatkan jiwa dan raganya setelah seharian menjalankan aktivitas, dikarenakan sistem yang diberlakukan adalah semi modern, yang menerapkan prinsip Ya Mondok, Ya Sekolah.

Sejenak ku menggambil nafas dalam, sedalam dalamnya dan menghembuskannya dengan sesuka hati. Ku ulang berkali-kali, dan ternyata lega rasanya. Serasa beban dan fikiran kembali jernih. Sambil sesekali ku seruput secangkir kopi hangat hitam kental yang rasanya manis bercampur pahit yang membuat ketagihan penikmatnya. Malam hari, waktu yang indah namun singkat. Bagiku, waktu yang baik untuk begadang, sambil mengevaluasi diri untuk hari ini dan kedepannya.

Sejenak lagi, ku tarik lagi nafasku dalam-dalam, ku isi lembah paru-paruku dengan oksigen malam. Ku mencoba melirik kedalam asrama tempat tinggalku, suara dengkuran, suara batuk, bahkan suara kentut mengisi keheningan diantara nyenyaknya tidur teman seperjuangan. Tiba-tiba seberkas senyum menghiasi raut wajah ini secara spontan. Mereka itu, kadang jadi teman, kadang pula menjadi lawan. 6 tahun lamanya aku bersama mereka. Mengarungi seluk suka duka kehidupan.

Beberapa saat, datanglah tiga kawanku, yang ternyata belum masuk ke alam mimpi. Sambil membawa secangkir kopi masing-masing, tak lupa sebungkus rokok ditangan salah satu dari mereka. Aku tersenyum padanya, dan begadangku pun semakin menyenangkan. Kami bercanda, menggosip, dan menghirup asap rokok sebagai kaum penghisap. Namun suasana yang semakin larut memaksa kami untuk segera berhijrah ke alam bawah sadar. Dan untuk sejenak yang terakhir, ku habiskan sisa rokok yang sudah berada pada batas filternya, menghirup udara yang sudah bercampur asap, dan menghembuskannya perlahan, rasanya super sekali.

Sooko, 22 September 2016

  • view 184