Mati Juga Lo Akhirnya, Menjadi Hantu

Aydi Rainkarnichi
Karya Aydi Rainkarnichi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2016
Mati Juga Lo Akhirnya, Menjadi Hantu

Hujan pun merintik siang ini, sejam berlalu, rintiknya menjam seakan jarum seukuran 1 milimeter turun dari langit menusuk-nusuk kulit, perih, namun tak sampai berdarah dan merintih. Andaikan hujan mampu merobek kulit, tentu manusia tak akan menginginkannya. Hujan, aku kehujanan. Kuingin cepat sampai rumah, menatapnya dari balik kaca. Memotretnya dari balik kamera, sayang, smartphone habis batrenya.

Baiklah, lumayan lama tak ngepost sesuatu ke blog, ada beragam alasan yang membuatku tak lagi rutin nulis, sakit lah, gak mood lah, males lah, dan yang membuat cukup jengkel adalah mati listrik dan atau kuota habis. Sehingga, akibatnya, banyak hal yang kulewatkan di grup Whatsapp One Day One Post, berita-berita kekinian, pula kelanjutan cerita detektif Conan dalam memecahkan motif tersangka kasus racun sianida itu di media online.

Ada yang berbisik tak berisik. Hei, sekarang mati listrik! Mau sampai kapan memandang layar aku yang hitam legam? Lamunanku terusik. Aha, mungkin batre cadangan bisa membantu memulihkan tenaga si smartphone yang mati rasa, koma berpuluh ribu detik lamanya. Tapi, lagi-lagi sayang, indikator batre menunjukkan sisa tinggal 3% menuju mati, lagi.

Lihatlah aku, kini layar berwarna warni tak hitam seperti tadi. Cepat nyalakan internetnya, mungkin ada sesuatu di facebookmu. Hasutan dahsyat bagi pemilik smartphone masa kini. Menunggu nama provider muncul di bilah notifikasi, lumayan lama, banget malahan. Hm, nyala sih nyala, hello... sinyalnya pada mudik ke mana? Teringat sesuatu... puisi lama yang pernah kutulis, Dear Tri, judulnya.

Konon katanya provider selular yang satu ini tak tahan kalau mati listrik lama melanda tower-tower yang sepi, hidup sinyalnya tak kuat lama, sejam dua jam, jadilah ia menjadi jombie. Sinyalnya hilang, putus nyambung, kadang bukan hanya putus-putus lagi, melainkan tiada layanan samasekali. Dalam keadaan mencekam seperti ini, dapat kupastikan sulit terhubung dengan siapa pun di jagat maya sana. Bilapun si sinyal nampak batang hidungnya, tanda H+ seakan kosmetik belaka, masih berasa G tanpa embel-embel plus-plus. Janganlah tanya kecepatan internetnya berapa, mungkin setara siput mogok olah raga lari, bentar konek, bentar-bentar nggak.

Pergolakan batin semakin kuat menggoyahkan pondasi yang dilanda galau. Mestikah pindah kelain hati dalam kondisi seperti ini? Dia telah menemaniku sekian lama, kontraknya pun masih dua tahun lagi, berakhir Maret 2018 dan akan terus diperbaharui setiap ngisi pulsa. Apakah aku tega pindah kelain hati, ketika provider lain berlomba-lomba dalam kemahalan? Bersabarlah, smartphoneku berbisik. Saat ini mah, ambil saja hikmahnya, itung-itung melatih kesabaran. Hehehee... Hehehee... Kasian deh lo... ledek si smartphone.

Batre menunjukkan 0,0001%...

Hei, smartphone. Selamat tinggal, mati juga lo akhirnya, menjadi hantu.

?

*) Selengkapnya, sila kunjungi blogku di -> ceritafiksibelumselesai.blogspot.co.id

  • view 109