Novel Ini Mimpi, Tapi Bukan #2

Aydi Rainkarnichi
Karya Aydi Rainkarnichi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
Novel Ini Mimpi, Tapi Bukan #2

Postingan sebelumnya...

Memfokuskan ke tulisan lagi, kembali menatapnya, kembali membukanya, inikah catatan sesungguhnya dalam buku yang ditemukan tadi? Iyakah?

Lantas membacanya. Cukup mengejanya dalam hati. ("Ini Mimpi, Tapi Bukan" postingan pertama)

?

***

?

Di sudut ruang, siapa gerangan duduk-duduk di atas lantai? Itu aku, anak kecil kemarin sore yang baru bisa mengkali membagi angka, baru lancar mengeja kata, baru suka membaca, apapun tulisan ingin rasanya kubaca. Tapi, sekarang sedang tidak, hanya sibuk mencoret kertas dengan krayon warna warni.

Sesekali aku menoleh ke arah kakakku yang sedari tadi diam di situ, di atas kursi ditemani notebook kecil menyala di atas meja. Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan, ini penting. Tapi, kakak perempuanku itu sedang sibuk, sibuk dengan tugas sekolahnya seperti halnya aku.

Melirik ke arahnya lagi. Curi-curi pandang, Mencuri-curi kesempatan. Hingga kudengar tak jauh dari telinga ini, sebuah ucap dalam hening.

"Horeey!... Akhirnya selesai deh. Pegel juga."

Aku semringah, kini saatnya bertanya ini itu, tanpa harus malu, tanpa harus ganggu si kakak yang lucu itu. Sosok periang yang suka girang sendiri, juga penyayang.

"Kakak, Kak!"

"Iya, ada apa?"

"Kenapa ya pegunungan warnanya biru?"

"Hm, pegunungan itu jaraknya jauh, Dek."

"Kenapa jadi biru? Padahal daun pohon di gunung kan banyak yang hijau?"

"Antara mata dan pegunungan, ada ruang yang menghalangi yaitu udara. Udara dipenuhi oleh molekul-molekul kecil, debu, unsur seperti oksigen maupun unsur dan senyawa lainnya. Kandungan air di udara cenderung memantulkan cahaya dominan berwarna biru. Mungkin begitu."

"Aku nggak ngerti, Kak."

"Hehehee, kamu akan tahu, kamu akan memahaminya nanti."

"Mengapa air berwarna biru juga."

"Nggak juga tuh, air yang kakak minum ini warnanya orange."

"Iih, itu kan perasan jeruk. Maksudnya aku itu air laut, Kakak.."

"Heheehe. Nanyanya aneh-aneh ih. Kemarin bertanya kenapa hidung Doraemon berwarna merah. Sekarang...."

"Yaaa.. Kakak. Kan ini beda lagi. Kenapa air biru juga?"

"Tuhan pencipta alam semesta sudah menetapkannya demikian. Hehehee.." Tertawa kecil, seperti kebingungan menjawab pertanyaan anak kecil.

"Yah, Kakak. Aku juga tau itu mah. Oke deh, Kak. Nanti tanya lagi boleh kan?"

"Ya boleh dong. Eh, Dek. Tolong ambilin buku cerpen di dekat kamu itu!"

"Cerpen apa?"

"Apa ya?"

"Apa judul bukunya?"

"Judulnyaa.. Apa yaaa..? Hehee.."

"Iih, Kakak."

Jeda, sejenak, mencari-cari. Kemudian menanyakan lagi.

"Yang mana? Judulnya apa?"

"Dibilangin dari tadi judulnya 'Apa ya?', ketemu? Itu yang warna biru."

"Huuh.. Judulnya apa ya? Apa ya? Apa? Ternyata memang 'Apa ya' gitu?. Judul yang terasa sangat aneh. Membingungkan. Yang ini kan?"

"Iya, sinikan!"

"Nggak ada judul lain apa? Hahaa."

"Itu judul bukan judul aslinya, kakak tempel sendiri. Biar bikin penasaran orang."

"Hah?"

"Hahaaha. Kena deh, Kakak kerjain," ucapnya sambil melet-melet.

"Au ah.." kubalas melet-melet pula.

Aku sibuk, kembali. Bermain-main dengan warna, lagi. Gunung warna biru, daratan warna cokelat, hijau persawahan, pepohonan pun ada, matahari kuning, langit biru muda berbaur dengan warna jingga. Ceritanya sedang melukiskan senja.

"Pensil krayonku hampir habis, nanti beliin ya, Kak!" Ucapku disela-sela menggambar pemandangan.

"Em, iya," singkat, jawabnya.

Kakak mulai sibuk dengan bacaannya. Kira-kira apa yang dibaca kakak ya? Aku akan tahu, bila saja membacanya.

?

***

?

--- Bersambung...

?

*) Apabila kamu tidak menemukan lanjutannya, kemungkinan cerita yang ada di sini belum ter-update. Untuk itu, sebaiknya kunjungi saja blogku di -> ceritafiksibelumselesai.blogspot.co.id

  • view 134