Novel Ini Mimpi, Tapi Bukan

Aydi Rainkarnichi
Karya Aydi Rainkarnichi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2016
Novel Ini Mimpi, Tapi Bukan

Ini Mimpi, Tapi Bukan

Oleh: Aydi R.

?

Dendang lagu dangdut masih terngiang di telinga. Kulihat sesuatu tepat dihadapan, seakan meminta untuk dipungut. Buku catatan siapa ini kasih, bikin tak enak hati. Tergeletak di bawah lantai di samping lemari. Hendak kusapu, tapi sayang sepertinya masih baru, tak pula berdebu. Sampulnya bukan merah jambu, tak bergambar, hanya hitam polos agak kelabu. Hm? Kunamakan saja catatan hitam? Tak lah, memangnya berisikan catatan kriminal? Eh, tapi mungkin saja.

Sapu kubuang, kuambil buku hitam tanpa nama itu diiringi rasa penuh cemas, khawatir, takutnya itu catatan utang dari Mbak Minarti warung sebelah yang sengaja dikirim ke kamarku oleh angin-angin malam. Ah, terlalu lebay, aku kan gak punya utang, cuman kemarin siang saja makan gorengan bayarnya belakangan karena gak bawa dompet berisi uang.

Tubuh kurubuhkan, kini duduk di pinggir ranjang, tempat tidur kawanku yang sudah tak ditempati lagi. Mengambil nafas panjang, menghirup udara sedalamnya, mumpung masih segar. Kapan lagi coba, dapat kurasakan udara cantik begini, kalau sudah siang hilanglah kecantikannya.

"Ini buku siapa?" Sebuah tanya disela nafasku.

Buku dibolak-balik, lembaran kubuka acak, "dari mana harus kumulai membacanya?" ucapku seketika itu juga.

Mengawalinya dengan membuka halaman pertama, itu jawaban dari pertanyaanku barusan. Hanya saja, baru membacanya sudah dibuat kesal, masa dihadapkan dengan kata-kata, "Silakan baca, bila kau suka. Kalau? tak suka, jangan dibaca!" Begitu buku itu menyambutku. Tapi, aku merasa penasaran menggebu, menggebuk jari tanganku untuk membuka lembar yang lain.

"Kamu juga tentunya penasaran, bukan? Iya, kan? Ngaku lah?"

"Mungkin, buka saja halaman lanjutannya."

"Tuh kan penasaran?"

"Ya sudah, ayo bacakan saja. Tulisan seperti itu gak kelihatan olehku kalau tak pakai kacamata."

"Bagaimana aku memulainya? Seperti apa seharusnya?" Tulisan di lembaran berikutnya. Aku membacakannya.

"Ih, seperti pertanyaanku barusan."

"Pertanyaan yang mana?"

"Pertanyaan dalam hati. Kau takkan dengar."

"Dalam hati? Beuh. Kau ini, pantaslah. Ya, sudah. Kau baca sendiri saja, nanti ceritakan padaku, yah! Saya ada urusan lain dulu, mau nyiapin makan dulu. Bersih-bersih kamar kan sudah beres."

"Iya. Apa, kamu mau makan lagi? Yang tadi, barusan bukan makan?"

"Jeh, siapa yang mau makan lagi. Saya kan bilang, mau nyiapin makan, buat anak-anak yang lain."

"Bilang dong dari tadi, tambahin kata 'buat anak-anak' kek. Biar lengkap. Hehehee."

"Hahaa, Kau pura-pura tak mengerti saja. Sudahlah, bercanda saja Kau ini. Saya pergi dulu."

"Ya."

"Mau kubawakan makanan?"

"Gak usahlah."

"Minuman?"

"Tak!"

"Gorengan, gorengan?"

"Kagak!"

"Ya sudah."

"... Eeehh. Kalau ke mari lagi, bawa kerupuk orange yang kecil-kecil itu ya!"

"Siap, bisa diatur."

Memfokuskan ke tulisan lagi, kembali menatapnya, kembali membukanya, inikah catatan sesungguhnya dalam buku yang ditemukan tadi? Iyakah?

Lantas membacanya. Cukup mengejanya dalam hati.

?

***

?

-- Lanjutannya ... ("Ini Mimpi, Tapi Bukan" #2)

?

*) Apabila kamu tidak menemukan lanjutannya, kemungkinan cerita yang ada di sini belum ter-update. Untuk itu, sebaiknya kunjungi saja blogku di ceritafiksibelumselesai.blogspot.co.id

  • view 200