0.5 pagi

am sigit
Karya am sigit Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 April 2016
0.5 pagi

hari ini tawa membiru

merapuh dalam rindu

kutengadah

dan kutemukan wajahmu disana

menatapku hangat

...dalam bingkai awan memutih

kau membelaiku mesra

dalam sentuhan, kau berbisik pada angin

dan kuteriakkan, 'sampaikan salam rindu, sayang dan cintaku untuknya!!!'

kau pun tersenyum tersipu

penuh malu…


-Juli 2010-

 

             Matahari memelukku saat tulisan ini membaur diatas halaman putih, menyatukan semua perasaan yang kupunya di pagi hari. Kisah sedih, senang, tangis, tertawa, bingung, percaya, jauh, rindu, dan cinta. Aku ingin percaya, bahwa meski kita terpisah oleh jarak, hati kita tersambung erat. Aku ingin meyakini, bahwa meski kita tak bersama, hati kita selalu menyatu. Jariku sejenak membeku, menekan papan hitam dengan barisan huruf alfabetik. Rasa dan kata bergantian memenuhi imaji terdalam, ingin saling didahulukan. Mata ini terpejam, dan sejenak kubayangkan dirimu tergambar di tengah inderaku.

 ”Mas..jangan telepon dulu ya?! Ibu udah mulai nanya-nanya tuh..”

”Hayo..hayo..ibu tanya soal apakah??hihi..”

”Mas, dont make it as joke, please?? Ibu nanya dari semalam sms-an sama siapa? Apa de' balikan lagi dengan mas?”

”If i made it serious..i’m afraid you will stop smiling dear..i’m sorry..”

 

 “…selalu muncul satu dunia, dalam setiap detik mata kita terpejam…”. Aku memikirkan dirimu pagi ini, mengayuh dalam lamunanku, aku berharap kita bertemu. Aku senang ketika kamu memberikan kecupan hangat lewat deringan nada mesra, dan mengingatkanku untuk selalu tertawa. Kamu lalu akan dengan senang hati membuatkan kopi-susu dan nasi goreng kesukaanku, dan kita akan menghabiskannya dengan canda. Kita akan bercerita tentang apa yang kita suka atau tidak suka. Kita akan berdiskusi tentang hari-hari. Sekali lagi jariku membeku. Bertanya, rasa apa yang kini kupunya.

 “Aku sangat mencintaimu…itu sebabnya aku akan terus mendoakan kebahagiaanmu..”, gumamku dalam, sambil menautkan jari-jariku yang mulai berkeringat. Mungkin benar hidup itu seperti secangkir kopi dalam film ’ghost of girlfriend past’. Ketika kita tidak berani mencintai seseorang dengan segala yang kita punya, pada akhirnya, kita akan meminumnya sendiri: bahwa sakit seperti apapun tidak akan bisa dibandingkan dengan rasa penyesalan karena meninggalkan cinta yang kita punya. Perlahan, kopi ini mulai terasa dingin, sama seperti hari dan hati yang kupunya. Sebuah obsesi kompulsif yang sama dalam mencari simpul resep-resep rahasia yang mampu membuat kita ada di alam yang berbeda.

 

             “Mas lagi apa? De' baru aja pulang..miss u so much :’) “

            “De' lagi sibukkah?? Sms Mas gak dibales?? :’( “

            “Mas udah makan? Udah solat?”

            “De' hati-hati di jalan ya..loving u..”

            “Why you keep asking??Please be patience..”

            ”I’ve been calling you, but no answer..”

            “Mas..i had nightmare..”

            “De'..i can’t sleep..”

 

Hmm..cinta dan kesetiaan bagaikan dua hal yang berlainan, walau keduanya berkorelasi positif dalam suatu hubungan. Setiap orang memungkinkan untuk memberikan cinta kepada siapapun yang diinginkannya, sedangkan kesetiaan akan selalu berhubungan dengan komitmen seseorang kepada sesuatu. Mengingatkanku terhadap suatu bentuk yang lebih tinggi dari kepercayaan dan cinta itu sendiri. Sejenak, jariku membeku. Bertanya, apa yang kini kupunya.

 

 “Honestly..There’s nothing you can do, Bro..”

“Just enjoy, sob..by the pain, you can feel happiness..it’s one stage of life that you must go through to make yourself stronger..it’s sound classic, but that’s the fact..”

“Dengan niat..itu sudah bagian dari usaha kok..slow but sure, hehe..i know you can..trust yourself. Hidup itu terdiri dari banyak hal, bukan hanya cinta..think about that”

“Nikmatin..selagi bisa dinikmati..banyak-banyak doa, mungkin Tuhan rindu suara lo..!!”

“Lo tau yang terbaik buat diri lo..sabar dan senyum terus ya..!!”

 

 ‘To love is to admire with the heart and to admire is to love with the mind..’ Perlahan aku bangkit dan membuka jendela. Kuhirup dalam-dalam udara yang tersisa di pagi ini. Membiarkan angin memenuhi ruang-ruang kosong di sudut rumah, membiarkan debu memenuhi rongga paru, membawa pesan yang berbeda. Tentang embun dan rasa sepi. Tentang hujan yang menjemput dan membagi cerita. "Sayang..apa ku harus belajar melupakanmu? Sementara seluruh hatiku ada padamu dan telah lekat denganmu". Aku menghela nafasku, “Mungkin aku harus bersabar untuk ikhlas dan setia kepadamu…”

 

 ‘Tuhan..aku tidak meminta malaikat untuk menemaniku

tidak juga bidadari untuk menjadi pendampingku

.....yang kuinginkan hanyalah seseorang yang

hanya dengan senyumnya mampu menjadi

penyembuh doa-doaku

 

kuharap aku tidak berlebihan..’

-Juli 2010-

 

  • view 103