Bisa Dua Bahasa itu Sehat dan Keren

Qurina Amalia
Karya Qurina Amalia Kategori Kesehatan
dipublikasikan 18 Desember 2017
Bisa Dua Bahasa itu Sehat dan Keren

Halo guys! Ini dia sosok suara di balik ujian listening yang menghebohkan dunia maya. Sejak video “suara di balik ujian listening” diunggah oleh akun Skinnyfabs, kecaman komentar berdatangan dari netizen karena dianggap turut andil dalam menyebabkan nilai ujian bahasa inggris mereka jeblok. Andhika Wira pemilik akun ini pun tidak tahan dan akhirnya membuat video klarifikasi. Hahaha. Selain Skinnyfabs, akun Fathia Izzati juga sempat membuat netizen takjub dengan video yang diunggahnya. Video “21 accents” yang diupload tahun 2013 lalu itu kini telah ditonton lebih dari 8 juta kali loh. Wow. Aniway, mereka adalah sedikit contoh dari orang-orang yang menguasai lebih dari satu bahasa. Hmm, ternyata selain keren tanpa mereka sadari mereka juga lebih sehat loh.

So, kenapa bahasa bisa bikin kita lebih sehat?

Jawabannya sederhana, guys! Belajar bahasa asing yang bukan bahasa ibu kita adalah salah satu bentuk latihan yang baik untuk otak. Ini bisa dijelaskan dengan konsep neuroplastisitas dimana pengalaman dan proses belajar akan memodifikasi struktur dan fungsi otak. Then, otak yang terlatih dengan menguasai macam-macam bahasa (setidaknya 2 bahasa) akan jauh lebih berkembang, lebih bugar dan akhirnya; lebih sehat. Otak yang sehat terlihat dari kemampuan kognitif yang lebih baik daripada mereka yang hanya menguasai satu bahasa saja.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada warga Skotlandia menjalani tes kecerdasan pada tahun 1947 yaitu ketika mereka berumur 11 tahun. Lalu pada tahun 2008 dan 2010 mereka dites kembali untuk melihat kecerdasan mereka ketika berumur 70 tahunan. Dari 853 responden, 262 orang memiliki kemampuan bahasa asing dan hasilnya menunjukkan bahwa mereka memiliki nilai yang lebih tinggi dalam kemampuan membaca, kecakapan bicara dan pengetahuan umum daripada mereka yang hanya menguasai satu bahasa.

Demensia dan Alzheimer

Demensia, atau bahasa awamnya ‘pikun’ wajar terjadi saat kita memasuki usia tua guys. Saat kita tua, organ dan jaringan tubuh kita juga ikut menua dan kemampuannya pun semakin menurun termasuk otak. Eits, ternyata ada yang tidak wajar dengan orang yang bisa dua bahasa.. karena, demensia pada orang yang menguasai dua bahasa terjadi 4,5 sampai 5 tahun lebih lambat bahkan bisa dicegah. Hebatnya hal ini juga berlaku terhadap penyakit alzheimer.

Selain itu, menguasai dua bahasa juga berdampak baik untuk kesehatan mental loh. Wah! Seorang Psikolinguistik bernama Ellen Bialystok mengatakan bahwa kemampuan menguasai dua bahasa dapat meningkatkan sistem eksekutif otak. Sistem eksekutif otak adalah fungsi otak dalam hal pengendalian diri, memori dan adaptasi. Penelitian lain juga menemukan, orang dewasa yang menguasai dua bahasa memiliki hasil yang lebih baik dalam tes atensi dan konsentrasi. So, bagus banget kan untuk kesehatan mental?

Stroke

Kecacatan akibat stroke salah satunya adalah kehilangan kemampuan berbicara dan berkomunikasi guys. Sebuah penelitian terhadap 600 penderita stroke di India menemukan bahwa pemulihan kognitif dua kali lebih tinggi pada orang yang menguasai dua bahasa daripada mereka yang hanya menguasai satu bahasa saja. Hal ini karena kemampuan menguasai dua bahasa bermanfaat dalam meningkatkan cadangan kognitif (cognitive reserve) yaitu kemampuan otak untuk memperbaiki masalah akibat kerusakan atau cedera.

Jadi, tertarik menguasai dua bahasa? []


Halo teman-teman^^ kalau menurut kalian tulisan ini bermanfaat jangan lupa like, comment, dan sharenya! thankyouuu, arigatouu, xiexie, gomawoo, syukron!!

Referensi
(1) Alladi, Suvarna., Bak, Thomas H., Duggirala, Vasanta., et.al. 2013. Bilingualism delays age at onset of dementia, independent of education and immigration status. U.S.A: Annals of Neurology tersedia di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24198291 diakses pada 17 Desember 2017.
(2) Anonim. 2014. Learning second language 'slows brain ageing'. [artikel] tersedia di http://www.bbc.com/news/health-27634990 diakses pada 17 Desember 2017.
(3) Anonim. 2015. Bilingual skills enhance stroke recovery, study finds. [artikel] tersedia di http://www.bbc.com/news/uk-scotland-edinburgh-east-fife-34879608 diakses pada 17 Desember 2017.
(4) Bialystok, Ellen., Craik, Fergus I.M., dan Luk, Gigi. 2012. Bilingualism: Consequences for Mind and Brain. U.S :National Institute of Health tersedia di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3322418/pdf/nihms365696.pdf diakses pada 17 Desember 2017.
(5) Vince, Gaia. 2016. Why being bilingual works wonders for your brain. [artikel] https://www.theguardian.com/science/2016/aug/07/being-bilingual-good-for-brain-mental-health diakses tanggal 17 Desember 2017.

  • view 140