KEHILANGAN SAHABAT

Qurina Amalia
Karya Qurina Amalia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 September 2016
KEHILANGAN SAHABAT

Hai kamu! :)

Aku ingin menceritakan semua kegelisahanku tentang hidupku. Mungkin ini murni sebuah curahan hati yang sudah lama memenuhi rongga hati hingga tak muat lagi dan seperti ingin meledak lalu mati. Eh, jangan! Bukan-bukan, aku belum mau mati. Hanya saja, mudah-mudahan aku meledakkan kegelisahan hidupku ini di tempat yang tepat. Ya, semoga.

Aku bingung ingin memulainya darimana, karena aku merasa hidupku tak ada yang beres dan sepertinya tak akan baik-baik saja. Mungkin aku terlalu pesimis. Ya habis, mau bagaimana lagi? Dulu aku memiliki kehidupan di tengah-tengah orang-orang yang selalu menasihatiku, bahkan ketika aku hanya meliriknya, mereka mampu membuatku semangat untuk memandang hidup. Tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku merasa "jauh" sejak perpisahan itu. Perpisahan yang aku sesali mengapa harus terjadi sampai-sampai aku takut dan tak berani lagi menyapa. 

Menyapa mereka, dan terlebih lagi menyapamu. Aku malu kepadamu, dulu kita begitu dekat bukan? Kita sudah seperti sahabat, kamu selalu ada saat aku sedih dan gundah. Kamu selalu ada untuk menghibur dan menyemangati jiwaku yang mati. Dulu kita begitu dekat bukan? Ya, tapi itu dulu. Kini aku merasa kita semakin menjauh, dan aku tak habis mengerti mengapa tiba-tiba jarak melebar sebegitu elastis dan waktu merenggang melesat sebegitu cepat. Bahkan yang aku tak habis mengerti, mengapa aku meninggalkanmu? 

Hai kamu, tahukah bahwa aku rindu? Aku rindu dengan kata-kata indahmu, yang katamu, tak akan pernah ada yang mampu sepertimu, bahkan penyair puisi paling romantis sekalipun! Haha, kamu memang paling jago membuat siapapun yang mendengarmu terkesima dan terpesona. Kata-katamu telah membuatku jatuh cinta, jatuh yang sejatuh-jatuhnya. Kamu ingat? Dulu, aku mampu mengeja huruf demi huruf, kata demi kata yang kamu rangkai bahkan di luar kepala. Begitu berkesan dalam benakku karena selalu kuulang-ulang setiap hari, bahkan setiap waktu. Aku takut kalau-kalau suatu hari nanti aku melupakan walau satu huruf saja. Dulu aku begitu takut kehilangan semua kebersamaan kita. Hingga sejak perpisahan itu, perpisahan yang aku tak tahu persis kapan, kebersamaan kita sekarang seperti tinggal kenangan. 

Hai kamu, tahukah bahwa aku ingin mengulang semua kebersamaan kita dulu? Seperti ketika aku menyapamu, bertanya padamu, dan menceritakan semua kegelisahanku padamu. Kamu memang pendengar dan penasihat terbaik. Dan aku ingin bisa melakukannya seperti dulu, tapi entah sampai sekarang aku belum mampu. Aku ingin mendengar kembali semua nasihat-nasihatmu, mendengar kembali cerita yang selalu membuatku terkagum. Hmm... bagiku, kamu juga seorang pencerita terbaik. Karena dari ceritamu, aku bisa merasakan begitu dalamnya lautan hikmah, hingga kadang-kadang aku ingin tenggelam selamanya-lamanya bersama cerita-ceritamu. Aku seperti ingin memanggil semua orang di dunia, untuk mendengarkan ceritamu juga. Kamu selalu ingin bercerita, kamu bilang, ada begitu banyak cerita yang belum kamu ceritakan, dan aku berjanji akan selalu menjadi pendengar setiamu. Ah, tapi itu dulu, sekarang aku melanggar janji itu. 

Hai kamu, ingat tidak? Dulu, setiap pagi dan malam, kita selalu bertemu dan saling mengobrol tentang banyak hal. Kamu juga ingat tidak? Tempat favorit kita dulu? Sambil bersandar di jendela, kita berdua duduk bersisian. Aku duduk menatapmu sambil sesekali menatap langit. Karena sesekali aku butuh waktu untuk mencerna dan merenungi kata-katamu. Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi sebenarnya, di antara kita, aku lah yang merasa paling beruntung bisa mengenal dan dekat denganmu. Karena aku tahu satu hal, tak semua orang bisa mengenalmu dan menjadi sahabatmu. Tidak semua orang bisa seberuntung aku. Aku begitu beruntung bisa menjadi sahabatmu, bisa bertemu lebih sering denganmu dibandingkan orang lain. Yo u   a r e   r e a l l y   s p e c i a l, bagiku tidak akan ada yang bisa menggantikanmu. Siapapun itu. 

Waktu kian beranjak meninggalkan aku yang kini sendirian dan kesepian. Karena kamu juga turut pergi bersamanya. Bukan, ini bukan salahmu, bukan karena kamu yang berjalan begitu cepat, hanya saja aku yang tak lagi bisa berjalan. Aku pincang entah sejak kapan. Lalu sejak itu, perjalanan hidupku terasa sangat panjang dan terasa sangat melelahkan. Aku tak tahu kapan kakiku akan pulih, mungkin aku akan berjalan tertatih-tatih untuk bisa menyusulmu kembali. Aku ingin kita bisa menjalani hidup beriringan lagi, seperti dulu. Seperti setiap hari, setiap pagi dan setiap malam. Aku ingin kita bisa bersama lagi, saling bercerita dan menceritakan banyak hal berdua. Aku ingin kamu menghiburku dengan kata-katamu yang indah, membangkitkan kembali semangat dalam jiwaku yang retak, aku ingin kamu mengingatkanku dan menasihati hatiku yang sekarang terasa begitu rapuh. Hingga akhirnya, aku mampu menjalani kembali hidupku yang sebelumnya terasa sangat kering dan hambar menjadi kembali manis dan indah. Aku harap, kamu masih mau kembali mengiringiku, duduk dan berjalan bersisian denganku... menjadi sahabatku. 

Sahabatku, maafkan aku yang telah meninggalkanmu, bahkan pernah melupakanmu. Aku takut kelak suatu hari kamu akan datang padaku dan aku tak lagi bisa mengenalimu. Aku takut, kelak aku akan ditanya tentangmu, dan aku tak tahu harus bilang apa. Maka setelah tulisan ini selesai, aku akan melepas semua ketakutan dan keraguanku. Aku akan mencoba menyusulmu, menyapamu, dan kita kembali seperti dulu. Aku sungguh merindukanmu. Jadi, kumohon tunggu aku. 

 

teruntuk Al-Qur'an sahabatku,

kemarin, sekarang, dan nanti.

 

sumber thumbnail: http://www.imgrum.net/user/indonesiaquran/654932182/1069921662169914428_654932182

  • view 926