Eggcellent

Qonitina Bilqisti
Karya Qonitina Bilqisti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 26 Januari 2017
Eggcellent

Dalam sebuah kegiatan, saya berkesempatan untuk main sebuah games dengan anak-anak usia 13 tahun. Gamesnya simpel. Nilai yang ingin ditanamkan (dan semoga tertanam) adalah tentang teamwork. Eggcellent adalah nama games yang saya pilih. Dalam waktu 10 menit saya minta mereka melakukan sesuatu agar satu butir telur yang saya berikan tak akan pecah ketika dijatuhkan. Saya bekali mereka dengan alat yang bisa digunakan; gunting, double tip, kertas koran, sedotan.  Ada 4 kelompok putra dan 4 kelompok putri.

Sambil menunggu, saya bergerilya.  Penasaran, what will they do? Dari gerilya inilah saya belajar sesuatu yang baru. Hampir semua kelompok putri melakukan hal yang sama; sibuk membalut telur dengan sedotan dan koran. Gunting yang ada tidak banyak digunakan, hanya sesekali.

Yang menarik adalah kelompok putra.

“Ini sedotannya kenapa dipotong-potong?”

“Biar nanti waktu telur jatuh, sedotan yang udah dipotong-potong bisa meredam tekanannya, Mbak.”

Di kelompok lain. Saya melihat seorang bocah sedang berusaha melengkung-lengkungkan kertas koran.

“Mau dibuat apa kok dilengkungkan?”

“Parasut, Mbak.”

“Kenapa kepikiran buat parasut?”

“Benda yang berat kalo dijatuhkan pake parasut ga akan hancur.  Kaya terjun payung itu, Mbak.”

It means, mereka memanfaatkan semua alat itu dengan maksimal.

Maka, inilah kesimpulannya;

Perempuan itu fokus pada hasil. Tidak berfikir panjang tentang cara, sehingga membuatnya cenderung mengabaikan apa yang dimiliki. Segala effort tertuang pada ‘pokoknya jadi sesuai harapan’.  Sedangkan laki-laki fokus pada cara. Jika cara benar maka hasil akan sesuai harapan. Effortnya tertumpu pada ‘gimana caranya biar jadi sesuai harapan’. Alhasil, mereka mencari jalan keluar dengan memanfaatkan segala yang ia miliki.

Maka wajar saja jika perempuan sedang dirundung masalah ia akan berubah menjadi sensitif kuadrat. Karena fokusnya memang pada ujungnya, gimana biar semuanya selesai. Akibatnya ia akan mengabaikan apa yang bisa dilakukan dari apa yang dimiliki. Yang penting masalahnya teratasi. Logika perempuan memang kurang, maka wajar jika ia tidak berfikir panjang. Udah cara berfikirnya begitu, ditambah pula dengan main perasaan. Mantap sekali kan? Hingga tak jarang adegan-adegan sinetron menjadi salah satu bagian yang tak bisa dihindari ketika perempuan dilanda masalah. Sebagai akibatnya, tak jarang kaum adam, kaum yang logikanya jalan, melabel ini semua dengan sebutan lebay. Wahai kaum adam, ketahuilah perempuan tak penah meminta untuk menjadi seperti ini lantas Allah kabulkan. Ini sudah dari sananya, sepaket dengan status perempuan yang tersandang sejak ia ada di dalam rahim ibu :)

Dan duhai kaum hawa, mari kita juga berhenti melabel kaum adam dengan ungkapan ‘nggak berperasaan’ atau ‘kurang peka’. Mari hargai itu sebagai kelebihan, bukan kekurangan laki-laki. Kalo laki-laki juga main perasaan, kebayang ga gimana kehidupan rumah tangga? Waktu yang satu nangis-nangis yang lain bukan menenangkan tapi malah ikutan nangis, haha. Dari games kecil-kecilan kemarin, kalo dibandingkan ternyata hasil akhir yang diupayakan kelompok putra lebih baik dari kelompok putri.

Jadi mari kita ubah penilaian kita selama ini, apa yang sering kita sebut-sebut sebagai kekurangan itu kita ganti dengan menyebutnya sebagai kelebihan. Bukan kekurangan laki-laki itu kurang peka, tapi kelebihan laki-laki adalah realistis. Bukan kekurangan perempuan itu ga bisa berfikir panjang, tapi kelebihan perempuan adalah berfikir cepat.

  • view 60