Fangirl Muslimah: Euforia Fatih dan Pemaknaan Identitas

Mutsla Qanitah
Karya Mutsla Qanitah Kategori Renungan
dipublikasikan 13 November 2016
Fangirl Muslimah: Euforia Fatih dan Pemaknaan Identitas

Selama ini, citra atau imej dari seorang fangirl dan seorang muslimah adalah dua citra yang sangat berbeda, meskipun mungkin tidak sepenuhnya bertolak belakang. Toh, muslimah juga bukannya imun terhadap perasaan mengagumi orang lain. Yang dimaksud muslimah disini tentu para wanita beragama Islam yang menyadari identitasnya sebagai muslimah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara manifes dalam wujud cara berpakaian, berbicara, dan berperilaku, maupun secara laten berupa kepercayaan dan nilai-nilai keislaman yang dianut.

Nyatanya, identitas yang satu bisa menegasikan identitas yang lain. Hal ini saya saksikan sendiri ketika Jumat, 11 November lalu saya diberikan kesempatan untuk menjadi pembawa acara dalam sebuah talkshow inspiratif bertema “Heaven on Earth: Success with Quran” yang diselenggarakan oleh SALAM UI dan Wardah. Acara ini bertempat di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Kampus UI Depok. Masyarakat Depok dan sekitarnya berdatangan dan memenuhi lokasi hingga ke lantai 2 dan selasar masjid.

Maklum, pembicara yang datang tidak tanggung-tanggung: Fatih Seferagic, seorang qari Amerika berkebangsaan Bosnia yang menjadi viral beberapa tahun belakangan karena suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Quran. Usia Fatih yang masih muda dan parasnya yang tergolong tampan juga menjadi daya tarik tersendiri. Fatih memang sedang mengadakan tur ke 10 kota di Indonesia. Sebelum mengisi di UI, Fatih sudah terlebih dahulu nongol di Masjid Istiqlal serta kampus UIN Jakarta. Selain Fatih, hadir pula brand ambassador Wardah, Dian Pelangi, dan salah satu pemeran utama film Ketika Mas Gagah Pergi, Hamas Syahid Izzudin. Bisa ditebak sendiri jenis kelamin mana yang lebih banyak memenuhi masjid.

Animo kaum wanita terhadap hadirnya Fatih barangkali masuk akal bagi sebagian besar orang. Jangankan para remaja dan dewasa muda yang masih lajang, ibu-ibu yang membawa anak pun ramai turut berdesakan bersama hadirin lain agar dapat melihat Fatih lebih dekat. Yang membuat saya heran dan sedikit banyak miris adalah perubahan sikap yang sangat kontras dari para muslimah ini. Saat Fatih belum hadir, kondisi masjid masih relatif terkendali, hadirin perempuan yang hampir semuanya mengenakan pakaian tertutup dan jilbab panjang menutupi dada duduk dengan tenang dan teratur.

Namun, begitu Hamas dan Fatih muncul di depan hadirin, tempat ibadah yang seyogyanya tenang dan syahdu berubah menjadi layaknya venue untuk konser K-Pop. Para muslimah ini serempak mengeluarkan jeritan kagum yang bisa terdengar hingga keluar masjid. Gestur sekecil apapun dari Fatih ibarat sihir yang membuat penonton kompak histeris. Mereka berdesakan maju sambil memegang kamera masing-masing. Salah seorang hadirin perempuan sampai harus dibopong keluar karena nyaris pingsan di tengah sesaknya lautan manusia. Panitia yang jumlahnya terbatas pun kewalahan mengendalikan massa.

Saat talkshow berlangsung, saya sempat mengobrol dengan Dian Pelangi di belakang area tempat dua pembicara lain duduk. Saya bertanya mengenai reaksi hadirin di dua venue sebelumnya. “Oh di UIN tadi jauh lebih parah, Dek,” jawab Dian. “Disini mendingan, ada backstage-nya. Di UIN tadi nggak ada, jadi kita harus lewat depan. 80% hadirinnya kan perempuan, duh waktu lewat Fatih sampe ditarik-tarik, dijambak gitu,’’ tambah Dian sambil geleng-geleng kepala. Saya yang baru pertama kali melihat langsung “keganasan’’ para muslimah yang serempak berubah menjadi fangirl tulen di hadapan idolanya hanya bisa tercengang membayangkan cerita Dian.

“Yang paling parah, Dek, tadi ada satu yang pakai niqab kaya gini (menunjuk salah satu panitia yang mengenakan cadar) sampe nyelip lewat belakang panggung terus narik-narik tangannya Fatih gini,” lanjut Dian sambil menarik lengan kanan saya untuk mempraktekkan ucapannya.

Dari sini, bisa dilihat seberapa kuat sebenarnya suatu identitas tertanam dalam diri seseorang. Tentu saja mengagumi seseorang yang memang menginspirasi merupakan hak setiap orang. Apalagi jika orang yang selama ini hanya dikagumi dari jauh dan terasa mustahil untuk digapai tiba-tiba ada di depan mata. Akan tetapi, hal ini tidak sepatutnya melunturkan identitas yang posisinya lebih fundamental di dalam diri.

Dalam kasus ini perlu dipertanyakan pula apakah status sebagai fangirl sudah menjadi sebuah identitas atau hanya sekedar dorongan sesaat sebagai bagian dari crowd effect. Jika ini yang terjadi, maka dampak dari kegagalan dalam mengelola rasa kagum bisa dibilang lebih parah lagi. Identitas yang sudah lama dimiliki dikalahkan oleh perasaan kagum membuncah yang hanya sementara. Bisa jadi pemaknaan dari identitas fundamental ini belumlah sempurna.

Selain itu, dalam konteks yang sama, menjaga nilai dan norma agama juga merupakan kewajiban bagi setiap pemeluknya. Perilaku dari pemeluk suatu agama tentu akan mempengaruhi citra dari agama itu sendiri di mata orang lain, sehingga menjaga nama baik dan norma agama merupakan tanggung jawab bersama. Jika dengan melihat orang yang dikagumi saja sudah menghilangkan rasionalitas walau sekejap dan membuat kita mengesampingkan norma (dalam kasus ini misalnya norma interaksi dengan lawan jenis), maka pemaknaan kita terhadap konsep diri dan rasa kagum benar-benar harus dievaluasi kembali.

Rasa kagum yang sehat semestinya terwujud dalam keseimbangan antara logika dan unsur perasaan, yang pada akhirnya menghasilkan rasa hormat terhadap ruang gerak dan privasi orang yang dikagumi serta pertimbangan terhadap aspek keselamatan orang tersebut. Pengagum yang secara “tidak sengaja” mencederai idolanya bisa jadi belum layak disebut sebagai pengagum yang baik.

Mengagumi seseorang itu wajar. Namun mengagumi seseorang sampai kehilangan identitas diri dan mengesampingkan norma, disinilah batas kewajaran itu dipertanyakan. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesali hal-hal yang dilakukan karena dorongan sesaat, dan jangan sampai kelalaian yang kita lakukan atas nama pribadi membawa citra yang kurang positif bagi agama atau kelompok identitas lain yang kita miliki.

  • view 230