#1 DIVING

Mutsla Qanitah
Karya Mutsla Qanitah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 September 2016
#1 DIVING

Ini adalah cerita yang aku harus peras otak agar bisa mewujud. Ini adalah cerita tentang tiga puluh hari gado-gado, dimana penderitaan dan bahagia bercampur aduk sampai tak jelas lagi mana peluh mana gaung tawa. Ini adalah cerita yang aku usahakan sekeras-kerasnya agar di masa depan jadi pemantik senyum dan bukan penggugah sesal. Ini adalah cerita tentang enam puluh pria dan wanita, datang dari mana mana minta dididik jadi orang berguna. Ini adalah cerita tentang harapan-harapan yang diharapkan tak hanya tinggal harapan. Cobalah simak, beritahu aku kalau di akhir nanti kau masih tak bisa lihat betapa tak enaknya jadi kami, betapa ruginya tak jadi kami.

Ini bukan pertama kalinya aku tinggal di tempat ajaib bernama asrama. Bukan pertama kalinya aku harus menekan ego kuat-kuat agar yang senang bukan aku saja, tapi semua. Bukan pertama kalinya aku mau tak mau harus berbagi ruang privasi, yang duh, dengan empat ekor adik-adikku di rumah rasanya memang tak pernah kumiliki. Bukan pertama kalinya aku dipaksa mengurus diri sendiri saat banyak manusia seusiaku masih diurusi induk semangnya. Bukan pertama kalinya kerjasama jadi kebutuhan pokok dan saling pengertian jadi sebuah usaha yang niscaya.

Ini adalah kali kesekian aku mendekam di tempat rusuh nan merepotkan bernama asrama. Kali kesekian dimana hal yang boleh kulakukan rasanya sedikit sekali dibanding yang tak boleh. Kali kesekian aku terdaftar dalam pasukan tempur, bersama-sama melawan musuh yang kalahnya entah kapan: diri sendiri. Kali kesekian aku dimarahi hanya karna tak pakai sepatu yang benar atau menggantung baju di jendela barang sebentar. Kali kesekian waktuku untuk berleha-leha menikmati masa muda dirampas dengan kejamnya.

Lalu dimana ada beda? Kali pertama, aku yang sedikit terlalu naif berhasil dijebak Abi, baru sadar kalau tidak akan sering pulang setelah tiga bulan. Kali kedua kupikir sudah terbiasa, ternyata tetap saja banyak mengomelnya. Kali ketiga apalagi, sudah disuruh belajar, disuruh masak untuk satu kompi pula. Tapi kali ini, aku sadar bahwa aku yang memilih untuk menyelam. Bersesak nafas ria agar dapat melihat cantiknya kedalaman yang tak dapat dilihat dari permukaan. Lalu saat aku muncul kembali, paru-paruku akan jadi lebih kuat, kakiku lebih kokoh, tanganku lebih jauh menggapai. Maka kunikmati sesaknya, kunikmati hanyutnya, kunikmati himpitannya. Kunikmati, kunikmati, kunikmati.

  • view 156