Aku Pergi Ya? Kan Udah Ada Dia

PUTRI DURROTUL HIKMAH
Karya PUTRI DURROTUL HIKMAH Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 07 November 2017
Aku Pergi Ya? Kan Udah Ada Dia

Aku Pergi Ya? Kan Udah Ada Dia

Rasa sayangku sepertinya tak pernah kamu sadari. Seperti halnya patah hatiku yang teramat menyakitkan, saat kamu memilih bersama orang yang kamu pikir jauh lebih baik dariku. Lalu mau sampai kapan? Pertanyaan itu selalu muncul dibenakku, aku lelah karena terus terbayang memori indah yang pernah kita lalui dulu.

Sebenarnya aku takut mengganggu kau dan dia. Tapi... jujur, aku rindu padamu, bahkan sangat rindu. Aku ingin bercerita banyak padamu. Aku ingin melihat tawa lepasmu. Aku juga ingin duduk satu jam, dua jam dengamu. Entah saling berdebat hal kecil atau saling diam. Intinya aku rindu saat berada di sampingmu. Tuhan... Jika kau tahu siapa yang kumaksud, tolong beritahu ini padanya agar dia peka. Bisa saja aku berani memberitahunya sendiri. Namun aku takut jika rindu-rinduku ini malah mengusiknya.

Kamu bukan penyihir. kamu juga bukan tokoh-tokoh dalam cerita fiksi. Tapi mengapa kamu memiliki kekuatan untuk membuatku memperhatikanmu tanpa menoleh sedikitpun ke arah lain? Padahal aku tahu, kau meninggalkan luka di hatiku. Semuanya tentang dirimu yang kini hilang menjadi serangkaian luka yang tak dapat aku tulisankan hanya dalam kata-kata.

Ketika itu aku merenung di pantai. Deburan ombak datang menyapa semua. Kulihat ia meninggalkan bekas luka pada karang. Menyakiti lalu pergi bersama... ah sudahlah. Kenapa aku belum bisa menerima bahwa nyatanya kamu telah pergi bersama dirinya. Meninggalkan dekap hangat yang masih sangat terasa hingga sekarang. Meninggalkan senyum, yang entah memiliki makna apa di dalamnya.

Sayang...
Tapi ini sulit.
Ilusi dirimu terus menerus datang menghakimi diri. Terlepas dari temu canggung tak berisi. Seberapa banyak luka yang kau torehkan? Seberapa banyak langkahmu jauh dari hadapanku? Dan seberapa banyak mereka untuk  menggantikan? Tapi kenyataannya aku masih terpaku pada sosok dirimu.

Dan pada akhirnya...
Aku tersadar. Jika dia ingin hilang, biarkan saja hilang. Jika baginya kepergian adalah tualang, lepaskan saja langkahnya menjadi kenang. Sebab hati yang untukmu akan terus berserang di dadamu. Pesanku untukmu, lupakan saja aku. Buanglah ingatanmu jauh-jauh tentang ''kita'' yang dulu pernah ada. Dan terakhir, titipkan salamku untuk gadis yang di sampingmu itu. Katakan padanya kutitipkan mimpi kita dulu, silahkan kau wujudkan mimpi itu dengannya.

Terima Kasih.

  • view 32