Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 6 Juli 2016   19:16 WIB
H1 : Aku Benci Lebaran

H1: Aku Benci Lebaran

 

Aku benci lebaran.

Ketika aku harus setengah mati menahan kantuk di masjid karena ikut anak-anak di kampungku takbiran. Kata Ibu, kalau aku tidak ikut maka keluarga kami dianggap sombong, sok suci, sok kaya, dan sangat tidak agamis. Paham yang aneh pikirku.

Aku benci lebaran.

Ketika pada pagi hari aku dipaksa bangun, mandi, sholat subuh, makan, dan berangkat ke masjid untuk sholat id. Sungguh, sholat yang tidak kusuka. Dua rakaat penuh ceramah yang hanya bisa bikin ibu-ibu dan mbak-mbak nangis. Apalagi, lima kotak amal yang seolah memiliki kaki mengemis kepada jema’at yang hadir.

Aku benci lebaran.

Ketika harus sungkeman dengan Bapak dan Ibu. Ketika harus minta maaf kepada kesalahan yang pasti diulangi. Dipaksa menangis karena nasehat orang tua, padahal setelah hari itu semuanya seperti angin lalu. Tidak berbekas.

Aku benci lebaran.

Ketika banyak tamu datang menghabiskan uang kami dengan meminta THR. Saudara yang merasa paling miskin, dengan mengumpulan anak-anak mereka dan menjadi kaya seketika.

Aku benci lebaran.

Ketika aku tidak lagi melihat Bapak baik-baik saja. Beliau kini kembali dengan kebiasaannya. Marah-marah, mengeluh dan selalu saja membawa pendidikan anak-anaknya sebagai beban dalam hidupnya.

Aku benci lebaran.

Ketika Ibu dan adik-adikku harus berhemat setengah mati. Menyusun kembali keuangan yang dipakai ketika lebaran, agar kami tidak kelaparan dan aku masih bisa menempuh pendidikan.

Aku benci lebaran.

Karena selalu saja di keluarga kami, lebaran hanyalah proses melihat ke depan. Banyak tanggungan, hutang, dan berbagai kebutuhan yang harus dibayar. Kami tidak bisa bahagia ketika datang hari kemenangan. Kami memiliki hari tidak hanya hari ini. Dalam hidup kami, Tuhan pemilik maaf dari segala kesalahan kami. Tetapi tidak dengan segala hal yang kami lakukan kepada dunia. Hutang harus dibayar, pendidikan harus dibiayai, dan semua keperluan memerlukan uang untuk hidup.

Itu kenapa aku benci lebaran. Karena aku harus melihat tidak adanya uang di tabungan kami. Sanak-saudara sudah mendapat bagiannya masing-masing. Pendidikan harus tertangguhkan karena uang habis. Biaya hidup harus kembali berhutang demi setoples kue dan sebotol minuman soda.

Apapun penjelasan hadits dan ulama tentang hari kemenangan. Aku tetap benci lebaran. Terserah manusia menilai apa, dan bagaimana. Karena kebencianku hanya akan dimaafkan olehNya. Yang memiliki hari kemenangan, dan memilikiku, kami sekeluarga.

 

Karya : Putri Al Fatih