Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 6 Juni 2016   19:03 WIB
Ironi Pendidikan di Indonesia

Ironi Pendidikan di Indonesia

By: Putri Al Fatih

=

Menulis tentang dunia pendidikan, saya jadi teringat mata kuliah perkembangan peserta didik, filsafat pendidikan, serta belajar dan pembelajaran. Mata kuliah dari fakultas pendidikan yang mengajarkan kepada kita betapa pentingnya pendidikan di Indonesia.

Dari sumber yang saya baca, berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report yang dirilis UNESCO 2011, tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat indeks pembangunan rendah. Indonesia berada di peringkat 69 dari 127 negara dalam Education Development Index. Sementara, laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, setiap menit ada empat anak yang putus sekolah.

Bayangkan, setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Semua itu terjadi dengan sebab, dan sebab utama adalah perekonomian. Sayangnya, kebanyakan orang di Indonesia menyia-nyiakan pendidikan hanya karena mereka merasa uang yang dimiliki sangat berlebihan. Sangat berbanding terbalik dengan ironi pendidikan yang ada. Satu wajah menghadapi kenyataan bahwa pendidikan adalah harta berharga, dan sisi wajah lainnya mengabaikan pendidikan dengan alasan banyak uang untuk kembali mengenyam pendidikan.

Lucunya negeri ini, demikian sebuah film yang dibintangi oleh Reza Rahardian menggambarkan pendidikan dan realitas negeri ini. Ketika ada banyak wajah menghadap kepada matahari dengan susah payah, ada saja wajah yang selalu menghadap rembulan merencanakan ketidakadilan. Selain kemiskinan, pendidikan yang tidak merata juga diakibatkan karena kurangnya tenaga pendidik. Jangan salah, guru di Indonesia itu sangat banyak. Tetapi, yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil atau wilayah 3T sangatlah kurang, bahkan bisa dibilang tidak ada.

Sementara, di daerah tersebut minat serta motivasi anak-anak sangat tinggi dalam pendidikan. So, kita bisa apa? Sebagai mahasiswa saya hanya bisa menyerukan gerakan-gerakan pendidikan. Berharap lulusan dari fakultas pendidikan, tidak hanya menginginkan menjadi PNS dengan jutaan sertifikasi. Tetapi, dengan kerelaan hati mereka benar-benar berjuang untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Menurut data Kemendiknas 2010 akses pendidikan di Indonesia masih perlu mendapat perhatian,  lebih dari 1,5 juta anak tiap tahun tidak dapat melanjutkan sekolah. Sementara dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar terdapat lebih dari 54% guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan dan 13,19% bangunan sekolah dalam kondisi perlu diperbaiki.

Berdasarkan data, perkembangan pendidikan Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Menurut Education For All Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahun dan berisi hasil pemantauan pendidikan dunia, dari 127 negara, Education Development Index (EDI) Indonesia berada pada posisi ke-69, dibandingkan Malaysia (65) dan Brunei (34).

Data pendidikan tahun 2010 menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. Ketika data pendidikan sudah berbicara, kita sebagai bagian dari perkembangan dan penurunan pendidikan di Indonesia bisa berkata apa? Hanya berharap semua berjalan sesuai UU yang berlaku. Bahwa, setiap warga Indonesia berhak mendapat pendidikan dan negara wajib membiayai.

 

Karya : Putri Al Fatih