Saya Lupa Pernah Memiliki Garuda

Putri Al Fatih
Karya Putri Al Fatih Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Juni 2016
Saya Lupa Pernah Memiliki Garuda

Saya Lupa Pernah Memiliki Garuda

By: Putri Al Fatih

 

Tuhan dari segala kehidupan nampaknya telah murka kepada kita. Siapa? Ya, kita! Siapa lagi jika bukan warga Indonesia yang semena-mena terhadap diri sendiri. Menyendiri seolah memiliki segalanya, padahal sang penyair ternama WS. Renda berkata kepada orang miskin di dalam selokan : Jangan bilang dirimu kaya jika tetanggamu memakan bangkai kucingnya!

Dengar? Ya, bagaimana bisa kita sedemikian tuli?

Lalu, satu hal lagi yang kita tak bisa elakkan dari kehidupan kita yang tidak mati pun tidak bernafas. Ada uang! Kalian tahu itu, kan? Segepok uang berserakan di kantong badut-badut jalanan kota yang sesak akan keserakahan! Apa kita juga buta dengan yang demikian???? Hah????

Orang di luar sana setengah mati dengan tangis dan jerit belas kasih menjadi duta keselamatan, kesehatan, kecukupan, kependidikan, yang konon cerita legenda untuk orang kita! Nah, kita???? Sampai hati memurkakan kebaikan Tuhan, mengabaikan kasih dan sayang kepada sesama yang kekurangan.

Tidak, di sini aku tidak akan berbicara menuduh! Akupun mengutuk diri sendiri dengan ironi negeri ini, bahkan aku lupa kita punya pelindung turunan Tuhan. Ideologi yang satu tiada dua, PANCASILA!

Akaiiii!

PANCASILA diperdebatkan dengan satu masalah kemiskinan. Era yang tidak pantas lagi untuk dipertanyakan. Hampir satu abad sudah, tak banyak yang bisa diperbincangkan. Selain gosip murahan mahasiswa, dan ibu kost sebelah rumah.

Satu membicarakan pemerkosaan di bawah umur.

Yang satunya lagi mengutuk pembunuhan disertai pemerkosaan dan nafsu bejat kepribinatangan!

Mahasiswa cantik malah ngegubris pasangan muda yang katanya ‘anak jalanan’ elit ngajak dia makan malam.

Nah, anak SD tak lagi bermain boneka, lompat tali? Bekel, kelereng, atau congklak? Halah, yang bertanya pun tak lihat perkembangan masa!

Sudah mana jeman kalau budak SINTANG kate mah!

Jadi, mau dipertanyakan tentang satu dari panca pun sulit. Yang berkuasa bertindak, yang gaji pun tak berani mewalan. Kan duit itu sumber dari segala sumber hukum sekarang, kan? Mau berteriak sedikit sudah pasti peluru terbang ke surga. Nah, pembela ini bukan kebenaran tetapi hanya kebetulan lewat pelataran kebenaran. Yang katanya menjunjung keadilan, tetapi bayaran. Ya, sama saja dengan kambing di kandang! Berteriak minta makan, tak kemana-mana. Yang bergotong royong minta santunan untuk anak jalanan, toh pada akhirnya nyalon dari dewan perwakilan. Lalu, serombongan preman dengan minuman keras di tangan, sedang bermusyawarah untuk saling mensosialkan nikmatnya bernafsu bejat hingga kematian!

Jadi lupa kalau pernah punya pelindung bersayap tujuh belas dengan perjuangan yang tidak ada duanya. Garuda, maaf saya lupa jikalau kau masih berdiri gagah. Karena kini kami tidak lagi bisa merasakan kehangatan naungan sayapmu. Atau sesekali merasa kagum haru dengan kegagahan dirimu.

Maaf!