Peka

Puti
Karya Puti  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Mei 2017
Peka

 

X: “Kamu tuh harus belajar liat lingkungan sekitar, ngerasain apa yang ada di sekitar”
P: “Peka maksudnya?”
X: “Pinter, iya peka”
P: (kemudian diam dan lanjut mendengarkan saran) wkwk

Seseorang pernah menyampaikan pesan dan tiba-tiba saja saya teringat. Setelah kurang lebih dua bulan saya mengenalnya. Tapi entah bagaimana, dia menambah daftar manusia yang merasa bahwa saya memiliki ketidakpekaan itu dan ada baiknya diperingati. Saya bersyukur akan hal itu, namun tiba-tiba membuat saya sedikit merenung.

 …

Maaf, tampaknya kata yang patut disampaikan. Ada tindakan kepekaan yang memang sengaja dikurangi dan dibatasi, agar tidak ada kebaikan yang pada akhirnya menjadi salah arti.

Rasa kepekaan pada akhirnya harus memilih porsi yang berbeda, tergantung pada siapa ia diperuntukkan.

Kata ingin harus dikendalikan dengan menahan diri. Tapi, membatasi peka bukan berarti memang sudah mengetahui dan mengerti segala.

Jangan memberi tanpa arahan yang jelas, sebab tak semua mudah dimengerti tanpa kata, bukan?

Yang jelas manusia ini  tetap manusia biasa, yang bisa lupa, tak sadar, dan segala kekhilafan lainnya.

Kepada yang pernah mengatakan/ merasakan seperti pada dialog di atas dalam hal apapun,
mohon maaf atas perlakuan yang tak menyenangkan :)

Terima kasih atas pesan baiknya, terima kasih pula sudah mengingatkan.

Semoga walaupun tetap dibatasi, tak mengurangi kepekaan saya pada hal kebaikan yang Ia sukai.

  • view 66