#malam bumi (tiga): Terima Kasih, Bu

Puti
Karya Puti  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 20 Oktober 2016
#malam bumi (tiga): Terima Kasih, Bu

 

Kuperkenalkan padamu seseorang, aku mengenalnya setahun lalu dalam keputus-asaan mengerjakan satu tahap penelitian menuju mahasiswa tingkat akhir. Enam bulan aku menunggu, membuang waktu, bahkan ketika temanku selesai, aku belum juga memulai. Lalu kami mencari jalan, ada cahaya menerangi, Alhamdulillah sebuah jalan terbuka. Dan semenjak itu aku diperkenalkan.

Ada banyak cerita tersampaikan dalam perjalanan, cerita sederhana yang rasanya mengena tepat membawa perasaan entah kenapa.

Bulan itu adalah bulan terberat, minggu-minggu penuh tekanan, saat itu beliau bertanya, kenapa tidak pulang saja ketika ada transportasi yang cukup mudah menuju rumah, kenapa harus mengurung diri sendirian dalam tembok bernama kosan. Jawabanku sederhana, mengatakan bahwa aku belum bisa karena ada banyak hal yang harus diselesaikan, ah menyakitkan betul mengatakannya. Temanku menyinggung bahwa aku sedang bersiap menuliskan pertanggungjawaban, bahwa aku sedang menggenggam sebuah amanah yang rasanya besar membuatku sibuk tak karuan. Padahal bukan karena itu permasalahannya. Lagi-lagi bukankah setiap orang hanya dapat melihatnya dari luar?

Lalu kemudian beliau mengatakan

“Oh gini ya sibuknya anak sekarang? Sampai tidak mau pulang,” ucapnya

“Pulang Puti, kasian ibu kamu pasti nyariin, pasti kangenlah sama anaknya tidak pulang-pulang.”

Aku hanya mengatakan iya, karena sudah terpaku dan membeku tak tahu apa yang harus diucapkan, hatiku pilu dan aku memilih diam. Karena keadaan itu, beliau selalu menyuruhku pulang setiap akhir pekan ketika kami bertemu. Dan sejak penelitian tugas akhirku berjalan, aku menurutinya. Pertanyaannya setiap Jum’at selalu sama, “hari ini pulang ga? Pulang aja kan besok kantor tutup jadi libur tidak bisa ke lab juga kan?” Entah kenapa sejak saat itu aku mengerti, awalnya tampak seperti kode, beliau membawa perasaannya sebagai orang tua. Seakan memberikanku pesan bahwa sesibuk apapun seorang anak harus selalu mengusahakan bertemu dengan orang tuanya. Apalagi jika jarak hanya berbatas dua kali transit kereta. Walaupun nyatanya dua kali transit bukanlah jarak yang sedekat tampaknya. Tapi bukankah sudah ada kemudahan yang murah tersedia?

Ah terlalu sentimental bukan?

Kubagikan padamu cerita lain, suatu pagi menuju kantor, aku bertemu dengannya di persimpangan, beliau memberiku tumpangan dengan motornya. Aku mengangguk dan mengatakan ikut dengannya.

Kami melewati sebuah masjid, masjid yang besar dan indah menurutku. Indah, karena masjid tak hanya dibangun untuk tempat ibadah rutinitas harian, tapi juga madrasah. Sering kudengar dari luar anak-anak bersahutan di bagian sisi masjid, menjawab pertanyaan bu gurunya. Waw, masjid kembali menjadi pusat memulainya peradaban dan pembelajaran. Entah, bagiku itu menyenangkan. Di masjid itu terdapat sebuah banner bertuliskan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” dan ada tambahan kecil di bawahnya “menyediakan takjil gratis”. Kemudian, beliau berkata kepadaku  

“Enak ya ada takjil gratis, biasanya mahasiswa ngejarnya takjil gratis ya” ucapnya

“Hehe iya, Bu,”jawabku

“tapi suka lupa ya, kadang kita mau enaknya aja tapi tidak mau ngasih infaq ke masjidnya, padahal mereka kan butuh biaya juga” ucapnya lagi.

Aku terdiam, rasanya jleb sekali. Kata pemberian dan gratis memang kadang menyihir kita. Kadang kita hanya ingin mendapatkan enaknya tanpa memberikan balas budi, walaupun hanya dengan doa.

Hal yang sama seperti yang Ibuku lakukan jika dapat pemberian dari tetangga sejak aku kecil.

“Iya Put, kalau dapat makanan atau apa dikasih orang lain harus kita balikin lagi, misal kalau dikasih makanan ada piringnya, piringnya harus dibalikin lagi dan diisi lagi piringnya ya,” pesannya padaku kala itu.

 

Ya, bahwa pemberian harus selalu dibalas dengan pemberian pula, setidaknya doa.

Dan hanya doalah yang bisa kukirimkan sebagai balasan itu kepada beliau.

Kepadamu, kuucapkan terima kasih sedalam-dalamnya dari lubuk hatiku, terima kasih telah membantu berbagai proses perjalananku menjadi sarjana, terima kasih sudah mengingatkan kebaikan. Semoga kebaikan pula yang akan kau terima, semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat yang indah penuh dengan kebahagiaan sebagaimana kau selalu membahagiakan orang lain pula. Semoga kebaikanmu menjadi amal penolongmu kelak di akhirat.

Tulisan ini didedikasikan untuk pembimbing teknis penelitian kp dan tugas akhir, Almh Ibu Ari. Semoga Allah melindungimu selalu.

-ppppppppp-

Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui melainkan hanya untuk berbagi. Ambillah sisi terbaiknya, ingatkanlah jika ada yang salah dan keburukan yang ada padanya.

  • view 193