#malam bumi (dua) : “Put, jodohmu yang mana?”

Puti
Karya Puti  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 Oktober 2016
#malam bumi (dua) : “Put, jodohmu yang mana?”

  1. “Put, jodohmu yang mana?”

Malam, hujan mulai sering datang bukan? Tulisan-tulisan penggalauan mulai kembali muncul dan menyeruak di seluruh permukaan media sosialku, apalagi ketika pas dengan turunnya sang hujan. Penggalauan orang-orang itu mengingatkanku pada sesuatu.

Ketika melakukan penelitian di luar kampus kala itu, aku bertemu dengan banyak orang baru dengan sikap dan budaya yang beragam. Tapi satu yang kusuka, mereka selalu terbuka, menghargai dan membantu setiap mahasiswa termasuk aku. Pernah sekali kutanya kenapa kepada beberapa orang, jawabannya bahwa itu adalah budaya yang ditetapkan di tempat itu, selain itu, mahasiswa adalah aset untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas lagi dan beberapa jawaban lain yang kurang kuingat detailnya.

Lucunya, penelitianku yang agak nyeleweng dari apa yang seorang Biolog harusnya lakukan membuatku harus bermain-main dengan berbagai alat dan mesin-mesin yang cukup berat. Ditambah lagi, semua alat yang kugunakan ternyata ada di dalam divisi lain dalam balai itu dan semua karyawannya adalah laki-laki. Hal itu membuat aku harus selalu meminta tolong dan berkoordinasi dengan bapak-bapak di ruangan tempatku bekerja. Agak ragu dan sungkan pada awalnya, syukurnya, mereka adalah orang-orang yang selalu mau membantuku walaupun berkali-kali, tentunya ketika alat itu macet setiap kali kugunakan. Bahkan pernah ada yang sengaja menemaniku menunggui pembakaran bahan penelitianku, katanya kasian sendirian di tengah-tengah bengkel besar berisi mesin-mesin atau hanya ingin melihat apakah semuanya baik-baik saja, atau walaupun tidak ditemani pasti beberapa kali mereka mengunjungi tempatku bekerja. Entah hanya untuk sekedar bertanya maupun bercerita.

 “Put, jodohmu yang mana?” Tanya seorang Bapak yang beberapa menit lalu datang dan melihatku bekerja

“Hah? Maksudnya, Pak? Hahah mana Puti tau Pak.. hehe” jawabku sambil cengengesan, agak syok juga ketika ditanya.

“Loh kok bisa gatau? Harusnya kan tahu” jawabnya

Aku pun kebingungan

“Loh iya toh coba kan Allah udah bilang “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…” iya toh?” katanya melanjutkan sambil menerjemahkan Ayat ke-26 surat An-Nur.

“Oh ayat itu, Pak? Kalo itu Puti tau…” jawabku masih sambil cengengesan

“Yang gatau itu kan siapanya, ya ga? Kalau yang mana ya tinggal berkaca sudah baik atau belum, ya kan?” tanyanya

“Hehe iya, Pak” jawabku

Tiba-tiba kepalaku bergidik ingin bertanya karena teringat kisah seseorang yang pernah kukenali

“Pak tapi pernah kejadian, beliau baik banget cantik lagi, sholehah banget, tapi nikahnya sama laki-laki yang waktu itu pernah playboy gitu, Pak ngegodain banyak cewek, temen saya juga pernah digodain. Itu gimana Pak?” tanyaku

“Ya itu salah ceweknya” jawabnya singkat

“Kok bisa gitu, Pak?” tanyaku cepat, tidak terima bagaimana bisa wanita itu yang salah.

“Kalau dia tau, laki-laki itu tidak baik dia kan bisa mencari yang lebih baik. Wanita itu juga bisa memilih laki-laki seperti apa yang ingin ia nikahi. Jika ia tahu laki-laki itu tidak baik, tapi dia mau saja dinikahi laki-laki itu, bararti kan dia yang tidak baik.” jawab Bapak itu sambil menjelaskan.

Tiba-tiba aku terdiam, diam-diam memikirkan sambil mencatat suhu-suhu pembakaran bahan-bahan penelitianku. Hatiku masih tak percaya dan tak terima bagaimana bisa seorang perempuan disalahkan begitu saja dalam hal ini. Tapi lidahku kelu dan aku juga tak tahu apa yang ingin kutanyakan lagi, aku pun tak suka berdebat panjang akan hal yang belum kupahami sedalam-dalamnya.

“Put, itu kan menurut pandangan Bapaknya, namanya juga pandangan orang, yaudahlah yaa..” kataku dalam hati.

 

“Saya tinggal dulu ya,” ucap Bapak itu untuk pamit

“iya, Pak mangga,” jawabku

 

Setelah hari itu kadang-kadang perbincangan itu masih suka bergelayut dalam otakku, mencari jawaban bagaimana bisa semuanya menjadi salah si perempuan. Entahlah, kuakui hatiku sedikit tidak bisa menerima setiap kali kubayangkan bagaimana baiknya seniorku itu. Tapi seketika hati dan pikiranku pelan-pelan menemukan pandangan baru ketika menonton sebuah ceramah dari seorang ustadz.

“…Perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)…”    

“Maka setiap laki-laki yang baik harus berusaha memperjuangkan perempuan-perempuan yang baik, begitu pula perempuan baik harus berusaha memilih dan memperjuangkan laki-laki yang baik. Berusaha memantaskan diri sebaik-baiknya dan juga memilih pasangan sebaik-baiknya dengan meminta petunjuk dan ridhoNya.”

 

Itu adalah cuplikan ceramah dari Ustadz Salim A Fillah yang kutonton dalam keisengan hahah. Kata-katanya sepertinya tidak sama persis insya Allah intinya sama, mohon dimaafkan manusia yang suka lupa ini hehe. Banyak ceramah beliau tersebar di youtube, mangga kalau mau dicari hehe *bukan promosi wkwk *bisi ada yang penasaran,

Cuplikan ceramah Ustadz Salim A Fillah yang kutonton itu membuka pandanganku yang tadinya mungkin sempit, kata tak terima dalam hatiku sedikit-sedikit hilang. Aku tak menyalahkan seniorku juga tak menyalahkan laki-laki itu, perkara mengapa seniorku memilih laki-laki itu pastilah dia sudah berpikir dan berdoa meminta petunjukNya sedimikian rupa, bahwa ia juga pasti berusaha mendapatkan pasangan terbaik, mungkin Allah telah memantapkan hatinya dengan petunjukNya bahwa laki-laki itu adalah pasangan terbaik untuknya. Bukankah setiap kita hanya memandang perkara itu dari luar? Tak pernah ada yang tahu setiap detail perjalanan kecuali yang menjalankannya. Tentang laki-laki itu, jelas bahwa ia memperjuangkan pasangan terbaik untuk dirinya.

 

Intinya, kita hanya perlu berkaca sudah seberapa baikkah diri kita, apakah kita sudah memperjuangkan menjadi sebaik-baiknya manusia, memantaskan diri dalam waktu yang ada.

Jadi sudah baik belum, Put? *sambil nanya sama diri sendiri.

Semoga kita (para perempuan khususnya saya) menjadi perempuan yang selalu semangat dan istiqamah berjuang dan semoga kita juga kelak diperjuangkan dengan laki-laki yang baik pula aamiin

*mari para perempuan katakan aamiin…

 

#cmiiw

-ppppppppp-

Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui melainkan hanya untuk berbagi. Ambillah sisi terbaiknya, ingatkanlah jika ada yang salah dan keburukan yang ada padanya.

  • view 242