#malam bumi (satu): “Kak, kucing kan juga lebaran”

Puti
Karya Puti  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 Oktober 2016
#malam bumi (satu):   “Kak, kucing kan juga lebaran”

  1. “Kak, kucing kan juga lebaran”

Keluargaku bukan pecinta kucing, bukan pula pemelihara kucing, apalagi membeli kucing yang harganya berjuta-juta. Hanya saja, ayahku suka sekali memberi makan kucing, ya kucing jalanan yang biasa mampir ke rumah-rumah. Suatu ketika seekor kucing tak hanya lagi mampir, tapi juga tidur di beranda hingga pernah juga ia melahirkan di rumahku.

Kini entah kucing generasi keberapa darinya yang ada di rumahku, waktuku yang telah habis di luar rumah bahkan luar kota itu membuatku tak tahu menahu kabar-kabar kecil itu. Tapi, adik-adikku selalu tahu.

Tepat beberapa hari menjelang idul fitri tahun ini salah satu adikku bertanya,

“kak harga **i*** (makanan kucing) berapaan ya?”

“gatau, dua puluh ribuan kali”, jawabku sok tahu

“kenapa emang?”, tanyaku penasaran sambil berpikir untuk apa adikku beli makanan kucing. Maklum, kucing-kucing yang mampir ke rumahku diberikan makanan yang sama seperti apa yang kami makan, jika ada daging maka porsi daging ada juga untuknya, jika adanya ayam atau ikan ya tentunya dia akan makan yang sama juga walaupun porsi besar hanya untuk bagian kepala, ceker, atau tulang-tulang sayap dan dada. Jika tidak ada ketiganya, ya ayahku akan tetap memberikannya makanan walaupun hanya sekedar sambal dan nasi.

Walaupun kadang aku suka berpikir, apakah kebiasaan ini akan mengubah perilaku dan selera makan alaminya, bukankah seekor kucing harusnya selalu makan makanan berbau daging karena seorang karnivor? Tapi pikiran itu teteplah bergeming dalam kepalaku saja. Bukankah lebih menyakitkan melihat makhluk hidup sekeliling kita kelaparan hingga terkulai sedang kita memiliki makanan walaupun hanya nasi dan sambal? Perihal ia akan makan atau tidak, itu adalah pilihannya.

 Adikku tidak menjawab, lalu pergi ke kamar bersama handphonenya.

 

Keesokan harinya di suatu sore aku lihat ia datang membawa sebuah kantong besar, tampak jelas seperti kantong supermarket, begitu ia keluarkan isinya ternyata makanan kuciing yang kemarin ia tanyakan kepadaku harganya.

“Jadi ***** (nama adikku) beli? Buat apa ***** beli?”, tanyaku

“Ya buat dikasih kucing lah kak. Masa kita doang yang lebaran, makan enak, kucing kan juga pengen lebaran, dikasih makan enak.”

Tiba-tiba aku terdiam, entahlah seperti tertohok dengan kata-katanya juga tak menyangka adikku punya kepedulian yang tak pernah kusangka.

Sebenarnya juga aku merasa malu, bisa-bisanya aku tak bisa peka dengan hal semacam itu.

 

 Aku atau bahkan kita kadang suka lupa, bagaimana menaruh empati dan peduli pada lingkungan sekitar, bukan hanya kepada manusia tapi juga makhluk hidup lainnya. Padahal jika dipikir-pikir mereka sering datang di sekeliling tapi kesibukan membuat kita selalu lupa bahwa kita bukan hanya hidup sendiri di dunia. Kesibukan kadang membuat kita egois dan hanya memikirkan diri kita saja.

 

 Entahlah, yang pasti, aku akan belajar lebih peka lagi.. Menyadari dan lebih peduli pada hal-hal sekitar.

 “Put, lo kemana aja? Baru sadar kurang peka?” kayanya bakalan ada yang ngomong gini abis baca tulisan di atas wkwkwk

 

Kepada yang selama ini kurang saya peka-in, saya minta maaf

#loh wkwkwk

-ppppppppp-

Tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui melainkan hanya untuk berbagi. Ambillah sisi terbaiknya, ingatkanlah jika ada yang salah dan keburukan yang ada padanya.

  • view 282