Perempuan Penunggu dan Titik Rindu

Nasyrah Purnama Sari
Karya Nasyrah Purnama Sari  Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 25 Maret 2016
Perempuan Penunggu dan Titik Rindu

Aku hanya tak ingin menjadi perempuan penunggu yang terjebak rasa yang dipermainkan? oleh waktu.

Bila aku harus menarik perahuku lebih dulu dan harus berlayar lebih dulu, maka akan aku lalukan itu.

Dan semua itu, jika aku cukup nyali untuk terhempas lebih dulu oleh gemericik air bahkan hantaman ombak yang aku tahu, suatu waktu bisa saja menerjang perahuku dan membuatnya luluh lantah. Dan aku? Aku masih berharap, dapat diselamatkan? waktu, dan bertepi tepat dipelabuhanmu.

Ah, tapi tetap saja..rasa egoku dan rasa maluku lebih besar ketimbang keberanianku dalam angan-angan itu. Mungkin ini bagian? dari sisi wanita yang harusnya kau pahami.

Apa aku harus berlayar lebih dahulu? Atau aku cukup duduk tenang, menunggumu ditepian dermagaku?

Ah, lagi-lagi aku didera bingung dan kini aku dijebak oleh waktu yang selalu menciptakan rindu yang menyebalkan, ia selalu datang kapan tanpa pernah memberi kabar lebih dulu. Dan itu, menyedihkan. Saat aku didekapnya dalam ramai yang tiba-tiba menjadi sunyi.

Mungkin saat ini aku hanya akan jadi perempuan? penunggu. Menunggumu dan menyiapkan pertemuan kita. Biarkanlah aku menikmati moment menunggumu, karena hanya sepersekian orang yang tetap mau menunggu. Dan aku, ingin menjadi salah satunya.

Karena aku akan menikmati moment menunggumu, sama seperti yang keara lakukan pada sena.. dan yang sena lakukan? pada keara.

Biarlah aku menunggu dan merekamnya dalam? tuliskanku.

Kini aku tergugu
Terbelenggu oleh rindu
Yang diciptakan jarak dan waktu
Yang selalu ragu
Walau untuk sekedar berkata "apa kabarmu?"

Biarkan aku tetap menunggumu..
Menunggu,
Hingga dibatas waktu..
Apakah kita akan bertemu disatu titik rindu,
Atau kita hanya akan saling berlalu..

Biarkan aku tetap menunggu hal itu.

?

Catatan:

Entahlah dari mana datangnya tulisan ini, saya tibatiba terjebak dalam kata-kata yang keluar begitu saja, mengalir apa adanya dalam hati..yang selalu memaksa untuk segera menuliskannya. Dan semua ini berawal dari membaca novel jodoh, fahd pahdepie. Tiba-tiba saya ingin kembali seperti sena, yang menuliskan apa saja untuk keara. Dan ternyata saya tak pernah bisa berhenti menulis, seperti yang selalu saya ingin lakukan.