Kertas di Genggaman Istri Sis

Puput Setyaningsih
Karya Puput Setyaningsih Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 November 2016
Kertas di Genggaman Istri Sis

Malam ini gaduh di rumah Sis. Pria berusia lebih dari sepatuh abad ini mengerang kesakitan. Sudah 3 jam dia menahan sakit. Sudah beberapa hari pula ia mengeluhkan bagian dalam perutnya yang kadang bergejolak. Istri dan anak perempuannya kebingungan. Hari telah malam, para tetangga sudah pulas tidur. Sis terus mengerang. Istrinya tahu Sis memang tidak mampu menahan sakit terlalu lama.

"Aduh ... sakit banget ini, Bu," kata Sis merajuk. Si anak perempuan mengambil segelas air putih dan memberikan pada ibunya.

"Minum dulu Pak, besok pagi baru kita ke klinik," ujar istrinya untuk menenangkan Sis.

"Aku nggak betah Bu, sekarang saja kita ke sana," Sis merengek pada istrinya.

Akhirnya, Sis dibawa ke klinik di kota kecamatan yang buka 24 jam. Istrinya membawa motor memboncengkan Sis. Si anak perempuan tidak bisa ikut. Dia hanya berdiri di depan pintu dan melihat orangtuanya berboncengan. Deru mesin motor memecah hening malam. Lama-kelamaan orangtuanya menjauh seperti ditelan kegelapan.

"Gimana pak, udah mendingan belum," tanya istrinya saat telah pagi. Sis hanya menghela nafas sambil mengangguk. Sis dipasangi infus dan telah diberikan obat oleh perawat tadi malam, sesaat setelah mereka tiba di klinik. Di daerah sepi seperti ini, tidak ada dokter yang mau menginap di klinik. Mereka hanya berjaga pagi sampai sore, itu saja bergiliran. Si istri hanya bisa terdiam. Saat itu juga terdengar derap langkah dari luar. Seorang dokter perempuan muncul di depan pintu kamar rawat inap. Dokter tersebut berkata bahwa Sis harus dirujuk ke rumah sakit. Sambil memeriksa detak jantung Sis, ia menanyakan kepemilikan jaminan kesehatan pada keluarga Sis.

Istri Sis menjawab, "Punya Dok, tapi saya nggak tahu gimana pakainya,".

"Ibu datang ke fasilitas kesehatan pertama yang tertera pada kartu. Ibu bawa kartunya 'kan?" jawab dokter tersebut sambil bertanya.

"Ya, ini Dok," istri Sis menyodorkan kartu jaminan kesehatan milik Sis kepada dokter.Si dokter mengamati sejenak kartu jaminan kesehatan milik Sis.

Dia mengembalikan pada istri Sis sambil berkata,"Bu, ini minta rujukannya harus di Puskemas,".

Si istri dan Sis saling menatap. Mereka seperti saling berbicara, tanpa mengucap kata. Sis dan istrinya hanya tahu, kartu ini diberikan ketua RT untuk warga miskin seperti mereka. Istri Sis memegang kartu itu erat-erat. Bagi istri Sis kartu ini adalah uang untuk membayar kesehatan suaminya.

Pagi itu juga Sis dan istrinya menuju Puskesmas. Sis diperiksa sebentar walau tujuannya ke tempat ini untuk mencari surat rujukan. Sis, walau masih sedikit meringis-ringis menahan sakit, memilih ikut istrinya. Kasihan istrinya harus mengurus suami yang bahkan untuk membayar kesehatan dirinya saja tidak mampu. Antrian cukup panjang. Sis duduk di samping istrinya. Si istri berbincang dengan seorang pria sesama pencari rujukan yang duduk di belakangnya.

"Sakit apa, Pak?" tanya istri Sis kepada orang di belakangnya.

"Ada benjolan di pundak. Kata dokternya saya harus ke rumah sakit," jawab orang tersebut sambil memegang pundaknya sendiri.

"Kalo saya mau cari surat rujukan untuk suami saya, dia sakit di bagian perutnya," istri Sis tahu orang itu tidak bertanya, tapi dia bilang begitu saja. Kadang orang hanya butuh didengarkan. Lawan bicaranya hanya mengangguk tanda mengerti. Tak berapa lama, petugas memanggil nama Sis. Si istri tergopoh-gopoh menuju petugas dan mengambil surat rujukan.

“Besok Ibu bisa ke rumah sakit membawa surat ini,” kata petugas tersebut kepada istri Sis sambil menyodorkan kertas. Istri Sis menerima surat tersebut. Ia mengajak Sis segera pulang.

Keesokan harinya, mereka datang ke rumah sakit. Sis duduk kembali di ruang tunggu. Istrinya duduk di samping Sis, membolak-balik kertas yang diperolehnya dari puskesmas kemarin. Ia membaca sejenak surat tersebut. Tertera pada kolom nama Siswanto Riyanto. Istri Sis seketika terperanjat. Nama suaminya hanya Siswanto. Nama itu yang tertulis di KTP, kartu keluarga, dan buku nikah. Istri Sis menjadi gelisah. Khawatir satu-satunya surat pengganti uang tersebut tidak dapat digunakan berobat suaminya.

Dia memberanikan diri bertanya kepada petugas yang kebetulan lewat. Petugas tersebut justru kembali bertanya kepada istri Sis. “Lah ini ‘kan nama suami ibu, kenapa Ibu malah tanya ke saya?” ucap petugas tersebut kepada istri Sis. Istri Sis bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu benar nama suaminya, pastinya. Petugas di rumah sakit tersebut dapat melihat kebingungan dari wajah istri Sis. Dia kemudian memberikan saran.

“Lebih baik ibu kembali ke puskesmas untuk membetulkan nama suami ibu,” kata si petugas. Istri Sis mengangguk, sedikit kecewa. Tapi dia juga menyadari, kesalahan penulisan nama ini dapat menghambat proses berobat suaminya. Dari kejauhan dia melihat suaminya, duduk dengan tenaga lemah. Istri Sis hanya mengucapkan terima kasih kepada petugas tersebut lantas menghampiri suaminya.

“Pak, surat ini katanya tidak bisa digunakan berobat,” istri Sis memberitahu suaminya atas keganjilan surat rujukan tersebut. Sis menatap istrinya sambil mengernyitkan dahi. Si istri melanjutkan perkataannya.

“Aku ke puskesmas dulu Pak, benerin surat ini. Bapak tunggu di sini saja. Biar nggak kecapekan,” ucap istri Sis. Istri Sis kemudian segera keluar ruang tunggu rumah sakit. Sis melihat istrinya menjauh. Degup jantungnya bertambah. Badannya tambah panas dingin. Sambil terus melihat istrinya, wajah Sis semakin basah karena keringat.

Istri Sis setengah berlari menuju petugas yang kemarin mengurusi surat rujukannya di puskesmas. Dia hampir tidak mempedulikan ada beberapa orang yang sedang menunggu giliran antrian.

“Bu, ini nama suami saya keliru. Suratnya tidak bisa dipakai di rumah sakit,” kata istri Sis sambil terengah mengambil nafas. Petugas puskesmas tersebut melihat sejenak surat rujukan dan meminta kartu jaminan kesehatan miliki Sis. Petugas itu kembali melihat istri Sis sambil berkata,”Ini nggak bisa dibenerin di sini, Bu,”.

“Data utama kartu ini ada di kantor jaminan kesehatan. Kami tidak bisa mengubah di sini, Bu,” lanjut petugas tersebut menjelaskan pada istri Sis. Istri Sis sempat sedikit geram. Ingin rasanya marah. Bukankah kemarin petugas ini juga yang membuatkan surat untuk suaminya. Tapi ia sadar, marah tidak akan menyelesaikan masalahnya. Dia tahu saat berhak marah tetapi dia mampu tidak marah, itulah sabar. Sabar, sabar. Dia mengucapkan terima kasih kemudian segera keluar dari puskesmas. Menuju kantor jaminan kesehatan yang dimaksud petugas puskesmas tadi.

Istri Sis menunggu proses perbaikan informasi data diri suaminya dengan gelisah di kantor jaminan kesehatan. Dia menengok jam dinding di ruangan tersebut, hari sudah menjelang siang. Dia melihat petugas di depannya, cantik dengan polesan riasan wajah. Wajah si petugas memang cantik, tapi istri Sis tahu, perempuan di depannya seperti lelah. Seperti dirinya. Si petugas pun menyodorkan kembali surat perbaikan identitas Sis. Istri Sis menerima dengan perasaan lega. Dia ingin segera ke rumah sakit, suaminya telah menunggu.

Istri Sis setengah berlari menuju ruang tunggu rumah sakit, tempat suaminya menunggu dari pagi. Dia mencari-cari Sis di sekeliling ruangan. Namun, Sis tidak ada. Istri Sis kebingungan mencari suaminya. Beberapa orang yang ada di situ melihat istri Sis. Istri Sis bertanya dimana suaminya yang tadi menunggu di ruangan ini. Seseorang memberitahunya, tadi ada seorang bapak duduk di ruang tunggu rumah sakit sendiri dan tiba-tiba tidak sadarkan diri. Petugas medis kemudian membawanya ke ruang IGD. Tapi entah bagaimana keadaannya. Istri Sis tiba-tiba merasa semakin pening. Tapi ia terus berlari menuju ruang IGD. Genggaman pada kertas yang dicarinya tadi sangat erat. Entah kertas ini akan menjadi penolong bagi suaminya atau justru tidak sama sekali. Istri Sis hanya berlari menggenggam kertasnya semakin erat.

  • view 168