Simpangan di Ujung Tanduk

Puput Setyaningsih
Karya Puput Setyaningsih Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 November 2016
Simpangan di Ujung Tanduk

Lembaran sinar jingga menembus awan sore. Membentuk garis lurus, seolah tanpa batas. Garis lurus yang ujungnya samar. Setajam apapun Kiran mencoba melihat, hasilnya tetap samar. Terbersit di pikirannya, mungkin memang tak ada ujungnya. Atau sebenarnya ada. Tapi dia saja yang tak tahu. Langit sore memang indah walaupun tak semua orang dapat benar-benar menikmatinya.

Kali ini pun Kiran harus kembali asyik dengan setumpuk dokumen hasil penelitian di pangkuannya. Ia terus membolak-balik kertas. Berusaha menemukan dokumen yang seharusnya telah ia bawa.


"Pakai seat belt-mu, Ran," kata seorang laki-laki paruh baya yang menyetir di samping Kiran. Kiran tidak menggubris. Ia terus mencari sambil sesekali melirik langit sore ke luar mobil sedan yang melaju di jalanan padat Kota Malang.

"Ran!" laki-laki tersebut menggertak sambil mengernyitkan dahi. Tak suka perkataannya didiamkan saja, apalagi oleh asisten dosen yang baru wisuda dua bulan lalu. Usia mereka pun terpaut hampir seperempat abad. Kiran terhenyak. Mata sendunya menatap lekat si pria. "Oke, Pak Hardi," katanya dengan lembut. Selembut wajah teduhnya yang ia persembahkan untuk Hardi.


Klik. Seat belt menahan tubuh Kiran. Menahan raganya. Tapi tidak dengan hatinya. Ia agak membuang muka, berpura melihat langit sore. Padahal, Kiran hanya menyembunyikan sedikit senyum. Gadis itu selalu senang membuat Hardi berusaha lebih keras menyuruhnya. Menyuruh dalam hal apapun. Kiran belum genap masuk usia perak. Masih senang dirinya bermain-main. Bermain dengan siapapun, termasuk laki-laki di sampingnya. Hardi menoleh sekilas memastikan suara tersebut. Sekilas saja melihat tulisan press di sisi kursi sebelah kanan Kiran. Dia enggan melihat wajah Kiran, lalu kembali bersenang-senang dengan lukisan lalu lalang kendaraan di depan matanya.


Sore menjelang maghrib. Lampu-lampu kendaraan tampak mulai remang. Ah mataku memang tak setajam dulu. Ini tak nampak bagai lukisan kesenangan. Memang, dia masih nampak gagah. Ketampanan seorang pria seakan bertambah seiring perubahan usianya. Tapi, Hardi tetap sadar ada beberapa hal yang tidak dapat dihindari. Salah satunya pada penglihatan. Mungkin saja dunia yang Hardi lihat sebenarnya lebih cerah. Tapi, tidak saat ia melihat gadis muda di sampingnya. Wajah Kiran selalu teduh di matanya. Hardi merasakan bahagianya Kiran berada dekat dengannya. Sekalipun ia pernah sedikit marah karena sikap Kiran.


"Aku tak suka membentakmu, nduk. Ini jalanan, kau harus patuh pada aturan," kata Hardi dengan nada lirih. Kiran tak menggubris. Ia menemukan selembar kertas yang dicarinya sambil menghembuskan nafas penuh kelegaan.
"Sudah terbawa Pak, surat persetujuan penelitian dari Pak Amir. Semuanya lengkap. Tidak ada yang tertinggal," kata Kiran, datar.


Dia tak lagi tertarik dengan kertas-kertas di pangkuannya. Harusnya dia senang, barang yang dicarinya telah ketemu. Tapi, Kiran juga kecewa, tak ada lagi mainan. Ia kemasi kertas-kertas di pangkuannya ke dalam document keeper milik Hardi. Kiran baru sadar, mainan tadi bukan miliknya. Terlanjur gadis itu asyik dengan barang bukan miliknya. Kiran menutup rapat dan meletakkan kotak penyimpan dokumen itu tepat di depannya. Ia pun bersandar, menoleh ke arah luar. Jingga yang tadi sempat ia lihat di langit sore, sekarang berangsur menghilang. Jingga berubah semakin merah. Seperti marah. Seperti dirinya yang telah kehilangan mainan.


"Kau lelah, Ran?" tanya Hardi. Kiran tersenyum. Dia tahu teman bermain selanjutnya. Siapa lagi kalau bukan Hardi. "Sedikit sih, tapi lega juga akhirnya pekerjaan ini telah finish," jawabnya sembari tersenyum. Kiran menjawab dengan tatapan yang sama dengan Hardi. Ke arah depan, pada pemandangan serupa lukisan kendaraan yang saling menyalip.
"Bapak juga lega 'kan akhirnya pekerjaan ini selesai. Bapak tak perlu lagi marah-marah terus sama saya," ucap Kiran sambil tetap menatap ke depan. Di akhir kalimat, ia tersenyum. Walau dalam hati, ia berharap jawaban yang berseberangan dengan pertanyaannya. Perempuan suka mengetes laki-laki seperti itu. Apalagi pada laki-laki yang ia sukai. Laki-laki yang Kiran sukai?


Aneh memang. Hardi lebih cocok menjadi bapaknya. Kiran tahu kalau ia selalu rindu tatapan Hardi. Dengan perbincangan yang sedingin apapun, tetap terasa hangat baginya. Bukan tanpa sebab Kiran merasa demikian. Hardi sosok dosen yang kalem dan masih terlihat gagah di usianya. Teman-teman semasa kuliahnya pun cukup menyenangi gaya Hardi yang friendly. Dan tentu saja, tidak pelit nilai.


Tapi Kiran sama sekali tidak membutuhkan itu. Kiran sosok mahasiswi cerdas, hampir tak pernah kesulitan mendapat nilai A. Dia hanya rindu. Pada sosok raja berkuda putih yang selalu ada di imajinasinya. Raja yang penuh wibawa dan bisa mengajaknya menunggang kuda putih. Sejenak kemudian Kiran menyadari, bukankah ini sedan berwarna putih? Hanya ia pun masih tak mengerti kerinduan itu dapat menancap kuat di hatinya.


Hardi menoleh dan menjawab. "Tentu saja, Ran. Kamu juga senang 'kan waktu kencanmu dengan siapa itu? Nggak terganggu lagi," Hardi melihat Kiran, tetapi saat menyebut siapa-itu ia kembali memandang ke depan.
Hardi tahu pasti yang dia sebut siapa-itu. Pacar Kiran yang sering mengantar Kiran ke kampus dengan vespa dekil. Oh bukan pacar, mereka telah bertunangan. Kiran yang memberitahu Hardi, saat mereka makan siang. Berdua.


Kiran berhasil membuat hatinya bergetar. Hardi tidak tahu apa itu. Ia hanya senang ditemani Kiran. Gadis itu selalu bisa menyahut pada setiap umpan pembicaraan yang dilontarkan Hardi. Dorongan itu pula yang membuat Hardi memilih Kiran menjadi asisten dosen. Pada beberapa proyek kecil di kampusnya, Hardi sengaja hanya melibatkan Kiran. Ia senang Kiran tidak pernah protes dengan pilihannya tersebut. Si gadis juga cukup sopan dan profesional. Tak pernah Kiran menghubungi Hardi lebih dahulu, apalagi pada malam hari. Saat Kiran tahu Hardi berada di rumahnya. Saat Kiran menyadari, Hardi sedang bersama sang ratu.


"Bimo 'kan di Surabaya, Pak. Sama saja," ucap Kiran lirih. Wajah teduhnya nampak murung. Bukan karena tunangannya yang selalu jauh, tapi jawaban Hardi yang di luar harapannya.
"Nanti juga kalau pulang, kamu bisa diajak jalan-jalan lagi ke Thailand, Malaysia, atau Singapur. He he he," Hardi menyahut dengan nada sedikit mengejek.


Ejekan pada Kiran yang pernah bercerita padanya tentang liburan bersama keluarga Bimo. Kiran terpaksa ikut rombongan tur yang dibayari orangtua Bimo. Ia seperti anak ayam, ke sana kemari bersama rombongan tante-tante semok dan anak-anaknya yang selalu merengek. Dia pun harus sekamar dengan salah satu anak perempuan dalam rombongan. Seorang anak perempuan seusianya yang selalu mengeluhkan gadget, mobil, dan liburan ke luar negeri. Kiran hanya menjadi pendengar. Merasa asing selama perjalanan. Walau Kiran tahu, itu cara Bimo berbagi kebahagiaan dengannya.


Tentu, setiap orang boleh berbagi kebahagiaan. Tapi, bukankah setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia? Semenjak itu Kiran tak pernah mau lagi menuruti ajakan Bimo untuk liburan bersama rombongan tak dikenalnya. Bukankah duduk di samping raja berkuda putih lebih menyenangkan? Kiran tersenyum lalu sedikit tertawa. Ia menyadari Hardi hanya mengejeknya. Hardi pun tertawa. Sebentar ia menengok Kiran di sampingnya. Melihat binar kekalahan di wajah Kiran. Jantung Hardi berdegup. Ah kau Kiran, gadis manis yang selalu mempertanyakan perasaanmu sendiri.
Injakan pedal gas Hardi melonggar. Ia mengurangi kecepatan laju kendaraan. Ada dorongan dalam dirinya untuk mengulur waktu bersama Kiran. Suara renyah Kiran saat menertawakan dirinya sendiri membuat Hardi senang. "Kalau saya jadi leader tour-nya mungkin saya baru mau lagi, Pak," ucap Kiran menimpali perkataan Hardi.


Suasana dalam mobil menjadi hangat karena tawa mereka berdua. Sedangkan di luar langit mulai benar-benar gelap. Lampu-lampu gemerlap mulai muncul sepanjang jalan. Sinar dari jajaran rumah makan di sepanjang jalan mengundang Hardi untuk sejenak melepas penat.
"Ran, kita makan sebentar ya di Bajak Laut," ajak Hardi sambil memutar kendali mobilnya ke arah kanan. Hardi memang tidak bertanya. Dia mengajak atau lebih tepatnya menyuruh Kiran menuruti kemauannya. Dan juga bukan tanpa alasan Hardi memilih tempat makan itu. Mereka pernah beberapa kali makan berdua di sana. Hardi sangat yakin Kiran menyukai segala macam seafood  di rumah makan tersebut.
Kiran hanya bisa terbelalak. Bukankah tadi dosennya itu bilang, sebelum mengantarnya pulang, ia sedang terburu-buru kembali ke rumah. Kalau ternyata si istri dosen sedang menunggu di rumah, kasihan sekali perempuan itu. Ini 'kan juga masih terlalu sore untuk makan malam. Kiran hanya terdiam. Dia senang sekaligus bingung.


Mobil sedan putih itu lajunya semakin perlahan. Di depan mereka berdua, lukisan lalu lalang mobil mulai berubah menjadi barisan mobil di bahu jalan. Kiran menengok ke luar. Dia merasa ada satu mobil yang tak asing. Plat mobilnya sangat dia kenal. Mobil Bimo. Iya Kiran sangat yakin itu mobil Bimo. Kiran diserang perasaan panik. Dilihatnya kursi-kursi pengunjung, ia mencari sosok Bimo dari dalam mobil. Ia tak mau gegabah karena rasa panik. Tapi bagaimana bisa Bimo ada di sini sekarang, sedangkan tadi pagi ia bilang masih di Surabaya.


Kiran mencoba menenangkan diri. Tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Dia terus mencari dengan tatapan tajam ke luar. Kiran sungguh benar-benar tak ingin tunangannya mengetahui ia sedang pulang dengan seorang pria. Rasa bersalah mulai menghinggapi perasaannya. Jauh lebih besar daripada tanda tanya di pikirannya tentang alasan mobil Bimo ada di tempat tersebut.


Sepersekian detik jantung Kiran terasa berhenti. Sosok Bimo berada di antara pengunjung rumah makan yang ia datangi. Kiran menekan tombol power window di pintu mobil. Begitu kaca membuka sampai bawah matanya, Kiran melepas pandang. Kembali menatap ke depan. Ia tahu pasti Bimo tidak sendiri. Dia bersama seorang gadis yang berusia satu tahun lebih tua dari Kiran. Namanya Dewi. Dewi menjadi dewi bagi kehidupan Bimo di masa lalu. Beberapa minggu sebelum tunangan pun, Kiran masih melihat foto Dewi di antara lembaran buku milik Bimo.


Kerongkongan Kiran terasa kering. Tak pasti dia tahu apa perasaannya saat ini. Kiran berusaha menutupi apapun yang baru saja dia lihat. Dia hampir saja bilang, raja pacu kuda ini secepatnya. Aku ingin berlari. Menjauh.
"Pak, saya harus pulang secepatnya. Maaf, saya baru ingat adik saya sendirian di rumah. Bapak Ibu sedang ke tempat cucunya di Jogja," ucap Kiran tanpa terputus. Dia sungguh tidak menginginkan berada di tempat ini sekarang. Senyumnya pada Hardi terasa kecut. Hardi menyadari itu, tapi ia tak paham. Bimo tak pernah mengantar Kiran ke kampus dengan mobil. Hardi pun tak menyadari apa yang telah dilihat Kiran.
"Kamu yakin?" tanya Hardi. Kali ini ia bertanya.
"Iya sorry banget, Pak," jawab Kiran lirih sambil menatap wajah Hardi.
Hardi mengernyitkan dahi. Ia tak pernah suka seperti dipermainkan. Hanya wajah teduh itu, wajah yang sering membuat hatinya bergetar, memohon pulang. Hardi diam saja. Tangannya sibuk memutar stir mobil dan kembali ke jalan utama yang dilaluinya tadi. Ada apa dengan anak ini. Hardi kembali menoleh pada Kiran sejenak. Memastikan alasan yang diberikan Kiran benar-benar alasan sesungguhnya. Gadis itu hanya menatap ke depan. Tatapannya tak kosong. Hardi tahu pasti, Kiran seorang gadis yang senang berpikir. Hanya dia kali ini tak benar-benar dapat merasakan pikiran Kiran.


Kiran merasa jalan di depannya terasa lebih panjang. Diusapnya cincin yang melingkar di jari manis kiri. Mungkin alam semesta sedang memberikan hukuman pada perasaanku dengan Hardi. Tapi, bukankah aku hanya merasa nyaman? Bukankah aku benar-benar hanya menginginkan Bimo bahagia? Ah, mungkin Bimo hanya ingin bersenang-senang, seperti aku sekarang. Kiran menelan ludah. Ingin dia menangis. Suara dalam hatinya seperti hendak menyeruak. Keluar.


Hardi terdiam sejenak. Ada perasaan bersalah dalam dirinya telah mengajak Kiran makan berdua. Gadis ini telah bertunangan. Mungkin tak pantas kalau dia lancang mengajak Kiran dan menghabiskan waktu berdua. Dia pun sadar telah beristri. Hanya Hardi tak tahu lagi, cara yang bisa digunakannya untuk memperlambat waktu bersama Kiran. Andai jalan dari kampus ke rumah Kiran bisa lebih panjang.


Mata Hardi melirik jam di tangan kirinya. Mungkin sekitar 15 menit lagi mereka sampai di titik akhir. Di rumah Kiran. Pikirannya mulai gamang. Untuk mengalihkan pikiran, jarinya menyentuh tombol untuk memutar radio. Dengan volume lirih. Mereka saling larut dalam lamunan. Duduk berdua di tunggangan yang sama. Bahkan berdekatan. Tak lantas membuat mereka memaknai perjalanan ini secara persis sama. Yah, setiap perjalanan memberikan makna berbeda bagi setiap orang.

Kiran melepaskan tatapannya jauh ke depan. Perasaannya berkecamuk. Ia berada di tengah perjalanan. Perjalanan pulang. Perjalanan hidup. Bersama Hardi kali ini pun juga bagian dari perjalanan hidupnya. Merasa nyaman dalam ketidaknyamanan. Sedangkan Hardi justru sesekali menoleh pada Kiran. Bayangan seorang anak perempuan dan gadis muda silih berganti di pikirannya. Pernikahan 20 tahun tanpa anak kandung memang tidak mudah dijalaninya. Dia semakin dalam memandangi jalanan di depannya. Spontan dia berucap, "Ran, minggu depan aku cuti. Kamu ikut aku ke Bali ya".


Kiran terhenyak. Dia menatap heran pada Hardi. Semakin heran. Hari ini ia telah menyelesaikan proyek terakhir sebagai asisten Hardi. Ada perasaan tak karuan di hati Kiran. Tak tahu harus menjawab apa. Matanya menunjukkan kegelisahan yang semakin membuncah. Kiran merasa tenggelam. Sementara, mobil sedan putih itu pun tetap melaju. Kecepatannya bertambah. Meninggalkan jalanan dan waktu yang tak akan lagi sama.


Klaten, Oktober 2015



  • view 293

  • Mentari Pagi
    Mentari Pagi
    1 tahun yang lalu.
    Saya kira awalnya Kiran itu cowok, saya kira Hardi itu sopir yang cakep dan lajang, heeem ternyata..., bikin penasaran aja, jadinya ingin terus membacanya, sebenarnya siapa mereka berdua itu. hehe. sip sip