1000 Kata Untukmu

Puput Maulidah
Karya Puput Maulidah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Januari 2018
1000 Kata Untukmu

Kasih, bagaimana kabarmu hari ini? 

semoga kebaikan senantiasa mendampingmu, pun ketika itu bukan kebaikan, percayalah. dibalik kesusahan yang menghampirimu akan ada bahagia setelahnya. 

aku baik-baik saja. dengan disibukkan tugas akhir. aku sedang berusaha untuk tidak gaji buta alias gabut.

aku tahu. saat gabut datang, bayanganmu yang akan datang menyibukkanku, kemudian memporak-porandakan suasana kasih. aku tahu. kau sedang sedikit mengujiku. menguji seberapa aku bisa bertahan tanpamu (lagi).

aku tau. ada hal yang engkau rencanakan kasih. entah apa itu. yang kuyakini sampai saat ini, tak ada kebaikan yang tak sedang kau usahakan untukku. begitu bukan ?

kasih sedang apa kau di sana ? apakah kau masih disibukkan dengan berada disekitar anak-anak yang ingin belajar mengaji bersamamu ketika senja datang? apakah kau masih disibukkan dengan gelasan kopi-kopi hitammu yang kau campur dengan canda gurau hingga diskusi berat bersama para teman-temanmu? apakah barcelona sudah mencapai posisi tertingginya dimusim ini? beberapa kali ku lihat kau memposting tim kebanggaanmu itu. entah apa yang terjadi pada mereka. aku tak begitu faham dengan dunia persepak bolaan. maafkan aku tentang ini. apakah kau masih tertidur lelap setelah adzan shubuh kasih? apakah kau sehat-sehat saja? tempo hari ku lihat (lagi) postinganmu, sepertinya kau butuh istirahat lebih dari biasanya. apakah sambal racikanmu tetap menajdi idola disanggar itu? bagaimana penampilanmu membacakan puisi beberapa waktu yang lalu kasih? kudengar kau ikut memeriahkan acara bedah buku itu. ah kasih. jika kita masih saling menjaga untuk tak bersua via sosial media, izinkan aku tetap menyebutmu kala angin bertiup, mungkin saja salamku akan sampai disekitarmu. 

apa kabar bapak ibumu kasih? ibumu masih sering menghubungimu untuk memintamu pulang? pun dari kabar yang kau sampaikan melalui status kapan hari, bapak sedang disibukkan dengan anak-anak yang belajar bersama bapak kasih. semoga kali ini, salamku kau sampaikan kepada beliau kasih. setelah wisudamu kala itu, aku belum bisa mampir ke rumah seperti permintaan bapak kala itu. ya meskipun itu (mungkin) hanya basa basi belaka. 

aku sedang tidak rindu kok. itu yang kau larang beberapa waktu yang lalu kan? jika dilan bilang rindu itu berat biar kau saja yang merasakannya, kurasa bukan itu yang sedang kau rasakan saat ini hingga melarangku untuk merindu. ya sudah, aku berprasangka bahwa rindu adalah candu yang hanya membuang-buang waktu untuk mengenang yang sudah-sudah. semoga kau juga sedang tidak rindu kasih. sungguh. rindu terkadang benar-benar membuang-buang waktu dengan membuka galeri ataupun meng-scroll up pesan yang lalu bukan. jangan rindu kasih. 

baru 10 hari kita tak sua disosial media kasih. ya memang berbeda rasanya. apalagi saat terakhir kali kita bersua, kau sedang dibalut dengan amarahmu yang aku tak tau sebabnya. ada apa kasih? kau bilang aku sedang tak bersalah tapi kau begitu terusik denganku saat ini. kasih. bicaralah. jika itu memang menyakitkan aku akan berusaha tetap tak menangis di depanmu. ku tahu, kau tak suka melihatku menangis kasih. ini lebih berat. kita berada dalam diam dan amarah yang tanpa sebab.

kasih, aku mengalah. ku tahu kau mungkin sedang butuh ruang untuk benar-benar sendiri tanpa ada aku di chat hpmu kasih. tapi yang ku tak tahu, apakah kau juga merasakan sakit? entah kenapa aku mulai merasakannya kasih. cinta itu mebahagiakan katanya. cinta itu saling dimengerti dan dipercaya. tapi kasih, kenapa sakit ini mulai ada kasih? aku tidak ingin larut. jika memang cinta tak butuh pengorbanan aku tak kan melakukannya kasih.  aku tidak ingin (jika menyakitiku dengan mendiamkanku adalah tujuanmu agar aku membencimu) melakukannya kasih. kita berawal dari kata indah. pun ketika ini harus berakhir, izinkan aku untuk menutupnya dengan kata indah pula kasih. 

kasih mungkin pertemuan-pertemuan kita tak menghantarkan cinta kita kepada-Nya. mungkin kita telah diselimuti oleh nafsu untuk bertemu. apa itu yang mungkin membuatmu membuat jarak diantara kita kasih? terlalu banyak pertanyaan yang mengintervensi kepalaku kasih. aku sedang tidak ingin berburuk sangka padamu. (lagi-lagi aku khawatir) ini adalah tujuanmu. kasih jika kau memang ingin melepaskan ikatanmu yang pada saat itu kau sendiri yang mengikatnya dengan erat, izinkan aku untuk tetap menunggu kasih. menunggu sampai waktu yang aku sendiri belum bisa memastikannya kasih. kau boleh bersenang-senang dengan duniamu kasih. tapi tolong, izinkan aku untuk bertahan. paling tidak sampai pendidikanku berakhir, kuberanikan diri untuk menemuimu meminta kejelasan, dan jika pada saat itu kita berada penghujung jalan cerita kita, baiklah. saat itu aku yang akan pergi mebawa kenangan-kenangan yang lalu kasih. 

kasih waktu itu kau bilang yang setia akan kalah dengan yang selalu ada. tapi kasih, menurutku, yang selalu adapun akan kalah dengan yang selalu mendoa kasih. kasih waktu itu kau bilang bahwa pernikahan butuh modal mahal karena pamernya, jika itu yang kau pikirkan tentangku, aku tak seperti itu kasih. aku tau pernikahan hanya sekali seumur hidup. sebagian orang ingin merayakannya dengan benar-benar spesial. tapi percayalah kasih. jika itu diluar kemapuan kita, aku tak pernah memaksa. karena yang penting, pernikahan itu tentang sakinah, mawadah warohmah. apa aku merupakan orang yang suka menuntut kasih? katakan. apa yang aku tuntut darimu hingga kau terusik dengan tuntutanku. 

aku sedang tak memamerkan bagaimana caraku menemuiNya untuk menanyakanmu kasih. tentang aku dan Tuhanku, itu urusanku kasih. cukup kau yakinkan Tuhanmu jika aku memang bukan pelabuhan terakhirmu kemudian kau katakan, maka aku akan berhenti kasih. 

aku tak sedang mebicarakanmu dengan wanita lain kasih. aku tau bagaimana kamu dengan yang lain. tapi jika memang karena yang lain, aku pun akan berhenti bertahan. karena ketika ada pihak lai kasih, hubungan pun tak perlu untuk dipertahankan. sebab pun akan bertahan, aku sendiri yang akan terluka. 

kasih temanku berbicara, lelaki yang dipegang adalah perkataannya. baiklah. perkataanmu yang dulu-dulu yang kupegang kasih. sebab aku sedang ingin bahagia. kata-katamu yang membuatku bahagia yang akan aku pertahankan kasih. yang membuat luka aku anggap bahwa kau adalah manusai biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. aku ingin sikapmu kembali seperti semula. katamu, biarlah ini mengalir. tapi.... 

kasih adzan maghrib telah lewat 20 menit yang lalu tapi aku masih ingin mengatakan beberapa hal melalui kata-kata yang tertulis kasih. tujuanku bukan untuk kau membacanya kasih. tapi aku ingin, dengan menulis, lukaku sedikit terobati kasih. aku merasa bahwa rindu disimpan rapi dalam file ini kasih. meskipun aku percaya, bahwa tanpa file inipun Tuhan tahu apa yang aku rasakan kasih. see you. 

  • view 201