Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 14 April 2018   19:34 WIB
Sebuah Refleksi Diri

Comeback.

Lagi. 

Hari ini aku sedang gatal. Ingin sekali bersuara untuk banyak hal yang terpendam.

Beberapa bulan lalu, saat aku masih gabut-gabutnya, aktivitasku yang tadinya tiduran, nonton film, dengerin musik, baca buku, sekarang bertambah. Nguping pembicaraan orang. Hmm salah sih, tapi gimana yaa diputerin lagunya Taylor Swift berkali-kali dengan volume tinggi juga tetep aja kedengeran.

Aku mendapatkan sesuatu yang bisa aku pelajari dari telinga aku yang sensitif ini. Semoga bisa jadi masukan dan instropeksi diri bagi kita semua, terutama para orangtua dan calon orangtua.

Kamu tahu siapa yang hampir setiap hari Senin – Sabtu bercengkerama ria di belakang kamarku? (Iya, Senin sampai Sabtu, dan kupingku sampai muak mendengarnya)

Mereka adalah anak-anak siswa SMP yang membolos sekolah. Sudah bukan rahasia lagi kiranya kalau anak-anak yang membandel selalu bolos dan berpencar dekat rumah-rumah warga, apa lagi masih banyak lahan-lahan kosong seperti daerah persawahan.

Aku risih sebenarnya, lebih cenderung khawatir dengan masa depan mereka, pun dengan obrolan-obrolan yang mereka bicarakan. Tapi ya mau negur ya gimana, mau laporin ya laporin siapa, dinasehatin sama ibu-ibu yang lewat aja kayaknya cuman masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Apa yang mereka lakukan?

Seringnya ngerokok, selebihnya entahlah.

Apa yang mereka bicarakan?

Banyaaaaak.

Salah satunya adalah membicarakan perlakuan orangtua mereka.

Aku gak tau letak permasalahannya di mana dan ada di siapa. Tapi, kenyataan yang aku dengarkan menjadi begitu miris.

“Urang mah wani ka bapak urang, naon bapak urang mah tukang main ka awewe”

“sarua, bapak urang ge pagaweanna mabok. Boga bapak kitu mah jang naon dihormatan” Sambil mengumpat.

Ngerti gak guys??

Translate yahhh

“Gue sih berani sama bokap gue,kerjanya main cewek di belakang.”

“Sama, bokap gue juga kerjaannya mabok, ngapain gue hormatin.”

See?

Bisa nangkep sesuatu gak dari percakapan itu?

Pertama kali dengar percakapan itu aku langsung speechless. Bahwa kenakalan remaja itu bersumber dari kenakalan orangtua adalah BENAR. Aku mulai bingung harus menyalahkan siapa ketika menghadapi realita yang semacam ini.

Aku tahu aku gak bisa ikut campur banyak. Tapi setidaknya hal ini cukup aku jadikan sebuah refleksi diri. Aku –mungkin juga kamu, sedang menuju proses, sedang bergerak untuk mencapai fase hidup menjadi dewasa, kita harus sama-sama belajar bagaimana caranya mendidik anak. Entah itu anak sendiri, atau anak didik kalau kita berprofesi sebagai guru.

Dulu, penelitian skripsiku menggunakan konsep observational learning theory di mana seorang anak berperilaku akibat pengamatannya terhadap orang lain. Dalam konsep ini orang lain tersebut dikatakan sebagai model. Model inilah yang akan sangat berpengaruh terhadap perilaku yang dihasilkan seseorang. Siapa modelnya? Tentu orang-orang yang berada di lingkungan sekitar mereka. Lingkungan paling pertama tentu keluarga (seharusnya), dan lingkungan yang selanjutnya bisa lingkungan sekolah, teman bermain, atau mungkin lingkungan lain yang coba ia dekati. Coba bayangkan jika orang-orang yang ada di lingkungannya malah memperburuk konsep diri yang ia miliki sebagai remaja. Kelak, dia akan menjadi seperti apa? Ngeri gak sih kalau dibayangkan ternyata mereka berubah karena perilaku kita?

Tidak tahu dirinya orangtua (atau orang-orang dewasa di sekitar si anak) – I mean ga harus orangtua aja, selalu tidak ingin disalahkan. Contoh, si anak merokok, bapaknya marah. Anaknya kemudian berkilah, “Bapak aja ngerokok.”, Terus bapaknya biasanya bilang apa?

“Ya beda, bapak udah gede, pake duit sendiri.” Berkilah zaman now.

Lain cerita. Bapaknya nyuruh anaknya buat sholat, tapi bapaknya ini juga gak pernah sholat. Salah gak nanti kalau anaknya bilang “Bapak aja gak pernah sholat…” ?? Yaaa gak salah, mereka hanya mencontoh perilaku orang-orang di sekitarnya. Ga asing kan dengan istilah like father like son? Or like mother like daughter?

Segelintir orang mungkin akan nyinyir baca tulisanku ini “Alah lu so iye, kayak udah bener aja, kayak udah bisa aja ngurus bocah”

Dan ku jawab YA MEMANG BELUM. Bahkan sekadar untuk menasehati keponakan aja kadang bisa bikin aku kalah, nyerah, ujungnya kesel sendiri. Itulah yang kemudian membuatku takut menjadi orangtua, takut kelak tidak bisa menjaga amanah Allah dengan baik. Inget loh anak itu amanah, menikah itu amanah. Makanya kalo udah memutuskan untuk menikah harus sudah siap segalanya. Siap melepaskan semua keegoisan. Dan jujur aja saat ini aku masih belajar dan masih belum siap. Ya kalau iri-iri dikit liat resepsi orang ya kan wajar dengan usia rentan macam ini. wew

Nah, balik lagi ke pembahasan.

Untuk kalian yang sudah menjadi orangtua, atau kelak akan menjadi orangtua, bagaimana rasanya jika anak-anak kalian membicarakan kalian di belakang? Bukan karena dia bangga, tapi karena dia kecewa. Bagaimana dia akan menghadapi pembicaraan-pembicaraan lain ketika ada teman-temannya yang mungkin membanggakan orangtua mereka sedang dia berpikir bahwa tidak ada yang bisa ia banggakan dari orangtuanya? Bisa jadi hal itu yang membuat dia menarik diri dari pertemanan yang baik, ia mencari commonness, memilih bersama dengan lingkungan di mana anak-anak yang tinggal adalah anak-anak yang memiliki pengalaman serupa.

Penyesalan itu datangnya kemudian, di AKHIR. Ketika segala hal-hal buruk terjadi, kemudian kita akan menyesal. Sebelum penyesalan itu datang, maka berbenahlah. Ada satu orang yang pernah menasehatiku, kita tidak bisa meminta orang lain untuk berubah menjadi seperti apa yang kita inginkan. Kalau ada yang perlu diubah, coba ubah dulu diri kita sendiri, beri contoh, sejatinya anak-anak hanya belajar dari apa yang mereka lihat, dari apa yang mereka dengar, dari apa yang kalian lakukan.

Gak masalah ketika apa yang kamu lakukan hanya berdampak pada diri kamu sendiri, setiap orang menanggung dosanya masing-masing bukan? Tapi berpikirlah, apakah yang kamu lakukan juga berdampak bagi orang-orang di sekitarmu? Orang-orang yang sejatinya harus kamu sayangi. Jika berdampak, maka berhenti.



Sumber gambar:
<http://behappyaslongasyoubreathe.blogspot.com/2017/05/foto-animasi-lucu-anak-kecil-terbaru.html>

Karya : Puji Astuti