Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 41402
            [type_id] => 1
            [user_id] => 9418
            [status_id] => 1
            [category_id] => 15
            [project_id] => 0
            [title] => "Seandainya"
            [content] => 

“Assalamualaikum ibu.. apa kabar?”

“Alhamdulillah di sini Farah juga baik bu. Ade-ade gimana sehat? Denisa sama Abang lagi apa?”

“Ohh pulang ngaji mereka.. Bu,, Farah di sini ada buku bagus loh Bu tentang parenting gitu, Ibu pasti suka. Tapi ini punya temen, nanti kalo Farah pulang Farah beliin buat ibu yaa. Oh iya bu, mau Farah bawain apalagi kalo Farah pulang? Gamis-gamis di sini bagus Bu, atau Ibu mau jilbab?”

“Iyaa, Insya Allah ada rezekinya buu…”

“Ini Farah lagi ngerjain tugas kampus aja bu. Mana coba bu Denisa, Farah mau ngobrol..”

“Hallo Assalamualaikum Denisa? Denisa apa kabar Dee?”

“Alhamdulillah kakak baik. Ade abis pulang ngaji? Hafalannya sudah sampai mana sayang?”

“Wahhh Masya Allah pinternya ade kaka. Udah makan belum De?”

“Belum? Habis telponan sama kakak nanti makan yaa, coba kalau mau makan Ade baca doanya gimana?”

“Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar, artinya yaa Allah berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Alhamdulillah yaaa Ade sudah hafal…”

“Gimana sama abangnya akur gak? Abangnya bandel gak?”

“Apa? Abang suka melototin Ade? Nanti kaka bilangin yaa abangnyaa. Coba mana kakak mau ngobrol sama abang.”

“Waalaikumussalam Abang… Abang gimana sehat?”

“Alhamdulillah.. Abang gimana persiapan mondoknya? Awas loh hati-hati dijaga hafalannya.”

“Insya Allah kaka doain. Kamu katanya Denisa suka melototin iya? Jangan dong Abang disayang Denisanya. Nanti kalau sudah mondok kangen loh.”

“Iyaa kayak Kak Farah kan dulu suka jailin Abang sekarang kangen kan. Sebentar lagi kakak pulang, Abang mau dibawain apa?”

“Oh.. Abang mau brownies? Rasa apa? Cokelat? Iya biar Denisa juga suka yaa. Nah gitu dong akur. Coba mana ibu kakak mau ngobrol lagi sama ibu ya Bang, baik-baik di sana..”

“Halo Bu, Ibu itu Bang Farid persiapan mondoknya sebentar lagi Bu, ditegur ya Bu kalau keseringan main.”

“Iya, dia kan harus persiapan staminanya juga, hafalannya juga.”

#

Hari ini aku putuskan untuk menginap di tempat temanku –Risa. Di sebuah rumah kontrakan yang cukup besar, berisi beberapa kamar di dalamnya. Kontrakan ini memiliki 2 kamar mandi, satu dapur, ada juga ruangan untuk kumpul bersama. Tempat ini asing, namun entah kenapa aku merasa nyaman. Penghuni kontrakan ini membuat aku takjub luar biasa, membuat aku berkaca kemudian malu. Ah, kapan aku bisa berpakaian seperti mereka. Mereka cantik, berbalut busana gamis dan hijab panjang. Bukan hanya cantik parasnya, tapi juga hatinya. Pertama kali aku sampai depan pintu kontrakan itu, mereka menyapaku dengan ramah. Aku bingung harus bagaimana, mungkin karena aku sudah terlalu lama menghabiskan waktu sendirian, aku seperti lupa bagaimana caranya berbaur. Menyedihkan bukan?

Aku masuk ke kamar Risa. Ada teman sekamarnya di sana, sedang asyik bercengkrama dengan keluarga di seberang telepon. Percakapannya masih akan sangat panjang pikirku. Aku menahan diri untuk berkenalan.

Aku diam-diam mendengarkan. Berusaha tak menguping itu mustahil, jarak kami cukup dekat. Ada rasa penyesalan yang diam-diam menyelimutiku ketika mendengar betapa asyiknya percakapan jarak jauh itu, upaya pelepasan rindu yang tak pernah aku rasakan.

Aku kadang sempat berharap, seandainya aku dilahirkan sebagai anak pertama, mungkin aku akan bekerja sangat keras untuk memperhatikan adik-adikku, mendidiknya sebagai adik yang soleh dan soleha, seperti Farah. Seandainya aku dulu memilih untuk mondok di pesantren, mungkin aku akan ditempa menjadi wanita yang baik, terutama akhlaknya. Mungkin aku dapat bersosialisasi dengan baik, mungkin aku dapat memotong rantai introvert yang ada dalam diriku.

Mungkin aku…

Mungkin aku…

Ah berhenti berandai-andai.

Aku tahu, berandai-andai itu tak boleh, apalagi berandai-andai untuk menyesali apa yang telah terjadi. Apa yang telah terjadi itu hakikatnya adalah takdir Allah. Bahkan sesuatu akan tetap terjadi walaupun kita melakukan hal yang kita andaikan. (Qs. Ali Imran: 154).

Aku hanya merasa tak bisa berbuat apa-apa dengan aku yang sekarang. Ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang kehidupan. Bahkan aku sudah kehilangan kesempatan mempelajari banyak hal dari ibu.

Sejak kecil, aku tak dibiasakan untuk bercengkrama lewat telepon dengan keluarga, mungkin hanya beberapa menit saja. Sayangnya, ketika aku mencoba berdamai dengan telepon aku selalu mendapat kabar buruk. Sialnya, selalu aku yang pertama kali tahu. Aku, sejak kecil adalah tipe orang yang tidak suka melihat orang menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Pun saat aku kebingungan untuk menyampaikan kabar buruk yang datang. Seringkali aku merasa tertekan. Membuat aku semakin tak suka dengan dering telepon. Tak ada yang tahu tentang ketakutan itu dan tak ada yang menyadarinya. Sedang aku? Tak ada keberanian untuk bercerita.

Ketika aku mulai meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan, aku hanya memiliki 3 menit untuk bercengkrama dengan orangtuaku dalam satu minggu. Bahkan itu tak cukup untuk aku bercerita banyak hal seperti Farah. Aku tahu, tujuan orangtuaku ingin mendidikku sebagai gadis mandiri yang tak bergantung pada orangtua, aku tahu mereka juga tak ingin mengganggu aktivitasku, cukup bagi mereka untuk tahu aku baik-baik saja. Tapi tak pernah cukup untukku bercerita. Bagaimana dengan kakak-kakakku? Jangan tanya, mereka tak pernah meneleponku. Jadi? Bagaimana aku bisa merasakan percakapan hangat seperti Farah?

Sedang aku tak punya pengalaman dengan percakapan-percakapan hangat, ketakutan itu justru semakin menjadi dan berdampak seiring aku semakin dewasa. Ketakutan yang harus aku sikapi dengan bijak jika tak ingin dianggap orang aneh. Aku tak bisa menyangkal bahwa menanganinya terlalu menyesakkan dan menakutkan. Apalagi ketika aku menghadapi dua dering telepon yang menghancurkan duniaku. Sebuah berita kehilangan.

Aku seperti enggan lagi melihat telepon masuk di layar ponselku. Namun, itu tak boleh terus aku pelihara bukan? Bagaimana aku menghadapi pekerjaanku kelak? Bagaimana aku berhubungan dengan orang lain kelak? Aku mulai membiasakan. Tapi kau tahu apa? Percakapan-percakapanku dengan orang lain terdengar amat kaku, mungkin juga hambar. Mungkin aku tak terdengar mengasyikkan. Tapi seandainya dia mengerti, bahwa bahkan butuh keberanian lebih bagiku untuk membuka percakapan itu.

“Heh, malah ngelamun!! Istirahat Bil….” Kata Risa mengagetkanku.

“Iya, ini mau, sorry yaa jadi ngerepotin gini.” Kataku.

“Santai aja kali, anggap tempat sendiri.” Jawab Risa tersenyum.

Aku tak sadar bahwa percakapan Farah dengan keluarganya sudah usai. Ia kemudian menghampiriku.

“Assalamualaikum Teh, aku Farah…” Farah mengulurkan tangannya padaku.

“Waalaikumussalam, aku Sabila…” membalas uluran tangannya dengan senyum. Aku terpesona dengan wajahnya yang teduh.

“Teteh udah lulus juga sama kayak Teh Risa?”

“Iya Alhamdulillah, kamu gimana? Udah lulus apa masih kuliah?”

“Aku angkatan 2015 Teh, masih kuliah.. hehehe gak percaya ya?”

“Iya…. Kamu terlihat…”

“Tua??? Hehe udah biasa ko Teh yang anggap aku begitu.”

“Eh bukan… terlihat dewasa.” Sergahku sambil tertawa.

“Tua juga gak apa-apa Teh, hehe. Aku ke bawah dulu sebentar yaaa.”

Aku mengangguk. Bahkan tak sedikitpun melepaskan pandanganku dari Farah sampai dia hilang di balik pintu. Aku terpana dengan apa-apa yang aku lamunkan dan orang-orang yang ada di sekitarku saat ini.

“Risa… teman-temanmu.. Masya Allah yaa…”  gumamku.

Risa hanya menimpalinya dengan senyuman. Risa orangnya tipe-tipe sepertiku, pendiam. Jadi ia juga tak banyak bicara.

#

Farah kembali ke atas, membawa secangkir cokelat panas.

“Teh, ini diminum yaaa…” Farah tersenyum.

“Buat aku? Ya ampun…” lagi-lagi aku terpana. Aku tak pernah membayangkan bahwa orang asing yang baru ku kenal akan sebaik ini. Atau selama ini apa aku yang terlalu tertutup? Aku berupaya untuk menutup diri pada banyak orang, tak ingin terlalu terbuka, aku takut mengandalkan orang lain, kemudian merasa kehilangan. Seperti dulu aku mengandalkan ayah ibu kemudian mereka pergi, seperti aku mengandalkan kakak-kakakku, tapi mereka terlihat tak peduli, seperti seorang teman yang berangsur memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Aku, tak mau lagi mengandalkan siapa-siapa selain Allah.

“Makasih banyak ya Farah…”

“Sama-sama Teteh…”

Aku menatapi cokelat panas itu, meminumnya penuh haru. Terasa sangat hangat. Saat itu aku mulai menyadari bahwa tidak bergantung pada orang lain bukan berarti sepenuhnya menutup diri. Kamu akan menemukan banyak orang baik, kamu akan menemukan keajaiban ketika kamu benar-benar mengandalkan Allah.

Allah, semoga kelak aku juga bisa menemukan pria baik, menyempurnakan separuh agamaku dengan pria yang mencintai-Mu, mencintaiku karena-Mu, pria yang benar-benar memahami dan mengenalku, yang mampu menuntunku, yang akan menggenggam tanganku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, yang menghangatkan keluarga kecilku nanti, yang suaranya memenuhi segala sudut rumah dengan bacaan Al-qurannya, dengan canda tawanya, dan yang terpenting yang menjadikan anak-anaknya hebat tanpa memiliki ketakutan-ketakutan lagi seperti ibunya.


Sumber gambar: <https://www.pinterest.com/mamamiza87/cartoon-muslim-muslimah/>

[slug] => seandainya [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1515509828.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 186 [issued] => 0 [author] => Puji Astuti [username] => Pujias [avatar] => file_1481773438.png [status_name] => published [category_name] => Inspiratif [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 1 [total_likes] => 1 [created_at] => 2018-01-09T21:57:08+07:00 [updated_at] => 2018-10-03T19:42:10+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 32.220102ms [status] => 200 )