Tentang Sahabat #1 Salam Bahagia untuk Dewa!

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Desember 2017
Tentang Sahabat #1 Salam Bahagia untuk Dewa!

 

 “Dewa… ke kampus yuk…”

“Dewa.. kapan revisian?”

“Dew, urang bête…”

“Dew, mau ikut acara ini gak?”

Begitulah aku merengek pada Dewa, seorang sahabat yang aku kenal sejak kurang lebih 4 tahun lalu. Setelah aku merengek, dia pasti akan mengomel.

“Mau apa sih, udah lulus juga luu…”

“Duh urang mau ngigi nih..besok ajalah yaa”

“Dasar jomblo, mangkanya cari pacar”

Daaaan ocehan-ocehan lain yang tak aku pedulikan karena pada akhirnya ia akan tetap mengusahakan untuk datang. Aku, kalo ada apa-apa larinya ke dia dulu. Selalu merasa gak enakan sama temen cowok lain yang padahal lebih “deket” sebagai teman hati. Sorry Dew, aku sadar aku sudah banyak merepotkanmu. :” Hati si Dewa ini ga tau terbuat dari apa, dari sekian banyak teman laki-laki yang aku kenal, dia adalah satu-satunya yang paling baik. Lebay mungkin, tapi begitulah dia, kadang bisa bikin cewek salah paham karena kebaikan dia, untungnya aku tidak termasuk dalam hitungan.-Please idung lu jangan terbang Dew!

Dewa tidak hanya baik padaku, dia memang baik pada semua orang, pada semua cewek. Terang saja, si Dewi –pacarnya, akan cemburu kalau tahu kelakuan dia sebaik itu.

Aku dan Dewa udah ga intens komunikasi, apalagi udah lulus kayak gini. Kalo salah satu dari kami tiba-tiba chat, sudah dipastikan itu ada butuhnya. Tapi kami, aku lebih tepatnya akan mengusahakan ada ketika dia membutuhkan. Aku adalah orang yang selalu memegang prinsip jika ada orang yang baik padaku, maka akan aku perlakukan dia lebih baik. Dewa adalah salah satunya. Emang Dewa ini orangnya kayak gimana?

Flashback 4 tahun ke belakang, pertama aku lihat dia, pikiranku langsung mikir “Ni cowok aneh banget.” Aselii gak pake bohong. Dia tuh satu-satunya cowok yang gak tau malu dan gak pernah jaim, bahkan sama orang yang gak dia kenal. Kentut sembarangan sama ngupil sembarangan udah jadi ciri khasnya dia. Kalau lagi buka sepatu, dia akan dengan isengnya ngendus bau kakinya sendiri. Pertama kali banget aku kenal dan jalan bareng dia di kampus rasanya pengen ngumpetin muka gitu karena ada aja tingkah aneh yang dia lakuin. Apa mungkin dia begitu karena udah punya cewek cantik ??? -_-

Allah itu maha baik, semakin aku menjudge, semakin Allah menunjukan seperti apa dia sebenarnya. Allah menakdirkan kami satu kelompok dalam berbagai tugas kampus. Aku hampir speechless karena itu memang tidak direncanakan. Siapa mengira kini kami menjadi sahabat baik, aku, dia, dan ketiga sahabatku yang lain.

Semakin aku mengenal Dewa, semakin aku tau karakternya, semakin aku maklum dengan kelakuan anehnya. Dalam tugas kelompok, entah kenapa aku gak tega buat marahin dia padahal dia jelas-jelas kebanyakan bercandanya, kebanyakan cuman makan, tiduran, makan, tiduran, gitu aja terus. Dia dijuluki seksi konsumsi sama spesialis bikin slide presentasi doang. Hampir di setiap tugas kelompok, slide presentasi yang di dalamnya berisi ornamen tirai-tirai, sudah pasti itu bikinan dia. Meskipun begitu, aku merasa tertolong dengan kehadiran dia, setidaknya ia selalu memberi aura kebahagiaan dalam kelompok meskipun aslinya lagi dalam keadaan tegang.

Dewa adalah salah satu sahabat cowok yang membuat aku bisa terang-terangan bercerita segala hal, dia yang suka kasih masukan-masukan so bijak sambil ngejokes. Mungkin cuman sama dia aku gak jaim, you know, kalo sama cowok lain aku jaim karena mungkin ada rasa segan atau perasaan yang terpendam, sedangkan sama dia kayak udah sama sodara sendiri. Oh iya, dia emang udah aku anggap sebagai kakak. Bukan kayak bocah zaman now yang adek kakaan ngarep jadian, tapi emang pure, care nya dia tuh kayak seorang kakak. Keberadaan dia sebagai teman bertepatan dengan aku yang sedang merasa kesepian karena kakak-kakakku yang sudah sibuk dengan dunianya sendiri.

“Kenapaa.. kamuu kenapaa.. sinii come to Papa…”

Satu kalimat yang aku inget dari dia ketika aku terlihat galau atau lagi bête. Satu kalimat yang kadang bikin aku terharu sejak aku kehilangan papaku dulu. Seriussss cuman kalimat begitu doang aku terharu meskipun aslinya aku suka ketawa kalo dia ngomong begitu. Setelah dia bilang gitu, aku akan curhat ampe berbusa, terus dia manggut-manggut aja, entah dengerin entah enggak, tapi bikin aku lega.

Si Dewa ini, kadang bawel sama kisah cinta aku. Udah sering ngatain jomblo, pamer pacar mulu biar aku iri, dan berusaha jodohin aku sama temennya dia. Mungkin dia kasian dan bosan kali yaaa dengar curhatan aku yang hatinya dipatahkan berkali-kali. Si Dewa sangat yakin temannya ini bisa bahagiain aku, ah tapi saat ini aku sedang trauma jatuh cinta. Semoga suatu saat aku bisa menemukan laki-laki baik yang mau menyusun kepingan yang sempat patah ini.

Ketika ibuku meninggal, jujur itu adalah hari yang membuat aku jatuh, sejatuh-jatuhnya, seakan dunia ini berubah gelap seketika. Tapi dengan kehadiran Dewa dan teman-temanku yang lain aku sangat terhibur. Aku masih bisa ketawa bahkan ketika si Dewa cuman diem. Pun ponakanku juga merasakan seperti itu. Muka si Dewa ini ajaib aku rasa, bisa bikin orang ketawa.

Tiga hal yang aku salutkan tentang Dewa. Pertama, kemana-mana dia selalu membanggakan pacarnya, Dewi. Dewi cantiklah, Dewi baik, Dewi ini dan itu. Iya sih sebaik-baik dan setianya si Dewa, imannya juga seringkali diuji apalagi kalo udah liat cewek cantik, sepertinya semua laki-laki akan seperti itu. Tapi setelah dia puas ngeliatin tuh cewek, dia akan bilang “Masih cantikan Dewi..”. Sa ae luuu….

Dewa akan habis-habisan buat ceweknya bahagia. Kalau sama temen aja dia bisa sebaik itu, kebayang gak sih gimana dia sama ceweknya? Aku merasa dia beruntung punya Dewi, cewek cantikkk nan imutt, tapi aku juga merasa Dewi beruntung bertemu Dewa. Aku bisa menjamin dia adalah laki-laki yang baik, setia, dan bertanggungjawab (semoga jaminanku ini benar). Sangat sedikit cuy cowok yang banggain ceweknya kemana-mana. Aku bahkan bertanya-tanya, dulu mantan pacarku begini gak ya?? kayaknya ngga deh. Oke skip.

Dua, Dewa ini sangat sayang ibunya. Tiap aku jalan bareng dia, dia pasti teleponan sama ibunya. Aku iri, dulu belum sempat seperti itu. Sudah bisa dipastikan bukan? Cowok yang menghormati dan menyayangi ibunya kelak juga akan melakukan hal yang sama untuk pasangannya.

Tiga, Dewa adalah laki-laki tegar yang periang. Aku ingat dulu dia pernah cerita tentang masalah besarnya, aku juga tau betapa dia sangat sedih ketika kehilangan ayahnya. Aku tau kesedihan itu seperti langit runtuh yang mungkin menghujam hatinya. Tapi kesedihan itu tak membuat keceriaannya hilang. Ia masih bisa ngejokes meskipun terasa amat garing, ia berusaha menutupinya padahal dia lupa bahwa aku dan ketiga sahabatku yang lain sudah mengenal dia lama. Ia tak pernah mengeluh, tak pernah merengek. Dewa hanya menghilang sesaat, membuat kami sempat risau, tapi kemudian dia come back dengan keceriaan dan keanehannya seperti sedia kala.

Dear Dewa,

Terima kasih sudah jadi sahabat baik, sudah membuat hidup aku jadi lebih berwarna karena sering membuatku tertawa di sela-sela aku patah hati. Terima kasih selalu berusaha ada disaat dibutuhkan, entah buat anter ketika aku nyasar, buat nemenin ketika sendirian, buat dengerin curhatan, atau cuman buat minjemin power bank. Maaf sudah banyak merepotkan. Aku tau aku tak boleh selalu mengandalkanmu, kakak2ku saja sudah tak bisa aku andalkan, kelak kamu juga seperti itu. Layaknya laut, ada pasang dan surut, begitupun persahabatan kita, mungkin berangsur-angsur kita akan punya kesibukan, tapi jangan lupa untuk menyapa. Jangan lupa, kelak kita bisa double date, kamu dengan Dewi, aku dengan siapapun nanti. Jaga Dewi yaa, jangan disakitin hatinya, dia cantik loh kamu rentan ditikung. Tetap menjadi Dewa yang menyenangkan semua orang.

Semoga bahagia…



Sumber gambar: <http://nurulhanifa12.blogspot.co.id/2013/02/happy-move-on-with-religion.html>

  • view 125