Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 15 Desember 2017   12:59 WIB
Yuk, Wisata Sejarah!!

Setelah kamu menyeberangi danau, kamu akan berjalan menyusuri jalan kecil yang di samping kiri dan kanannya dipenuhi dengan kios-kios penjual souvenir. Sebagian besar souvenir merupakan kerajinan tangan dari penduduk. Naahh setelah di penghujung jejeran penjual souvenir ini kamu akan menemukan gerbang untuk memasuki Kampung Pulo.

Ada apa sih di Kampung Pulo? Apa sih uniknya Kampung Pulo? Jadiiii di Kampung Pulo terdapat penduduk yang merupakan keturunan dari Mbah Dalem Arief Muhammad seorang penyebar Islam. Kampung ini terdiri dari 6 rumah yang menyimbolkan 6 anak perempuan dan 1 mesjid yang menyimbolkan  seorang anak laki-laki dari Mbah Dalem Arief Muhammad. Rumah ini hanya boleh dihuni oleh satu kepala keluarga. Penduduk Kampung Pulo masih menganut sistem matrilineal sehingga muncul tradisi Ngaplus Imah dimana hak waris rumah diberikan untuk anak perempuan.

Nahhh, uniknyaa penduduk kampung ini masih sangat memegang teguh tradisi, salah satunya adalah pamali, mereka percaya bahwa yang melanggar aturan dari tradisi ini akan mendapatkan malapetaka, hukum alam yang sudah pasti terjadi meski tidak tahu kapan hukum itu akan menghampirinya. Apa aja sih tradisi pamalinya? 

Setelah kamu asyik foto-foto atau barangkali ngobrol-ngobrol kepo dengan penduduk Kampung Pulo, kamu bisa melanjutkan perjalanan untuk melihat candi dan makam Mbah Dalem Arief Muhammad yang berdampingan. Sebelum naik ke atas, akan ada pemeriksaan tiket, jadi pastikan tiketmu jangan sampe ilang.
Naaah ini nih penampakan Candi Cangkuang yang kecil nan imut berdampingan dengan makam Mbah Dalem.

Di sekitaran candi ini terdapat halaman-halaman yang cukup luas juga pohon-pohon rindang, jadi bisa banget kalo kamu mau piknik ala-ala, tapi jangan nyampah yaa!

Nah di samping candi juga terdapat mini museum gitu, di dalamnya ada beberapa peninggalan sejarah yang kebanyakan terdiri dari kitab-kitab zaman dulu.

Terus ada apa lagi?? Hmmmm selebihnya kebanyakan sih makam yaaa..

Terus ngapain lagi dong? Ya pulaang, kamu gak usah khawatir karena rakit yang kamu tumpangi sebelumnya akan menunggu sampai pelanggannya puas berjalan-jalan. Tapi hati-hati kadang tarifnya bisa tiba-tiba naik karena kamu bayar transportnya di akhir.

Candi Cangkuang ini memang kurang memiliki banyak spot yang bisa dinikmati, tapi well pelajaran sejarah kamu setidaknya bertambah. Eh ada satu mitos juga di tempat ini, katanya… katanya yaaa kalo yang pacaran main kesini nanti bisa putus. Wkwk makanya jangan pacaran :D yaa mungkin intinya tempat ini tempat wisata bukan tempat mojok berduaan, ya kali kan mojok di sekitaran makam :” kekuatan word of mouth tentang mitos ini cukup berefek terutama di kalangan remaja-remaja labil zaman dulu, kurang tahu yaa kalo zaman now.

Jadi gimana nih? Udah nambah pengetahuannya? Kalo masih kepo langsung datangin aja tempatnya, jangan hanya nikmatin viewnya, tapi gali juga ilmunya.

Source: (Faujiah, A. 2017. Makna Simbolik Masyarakat Kampung Pulo Garut)

Hallo Fellas…!!! Udah masuk musim liburan aja nih… Mau liburan tapi minim budget? Coba wisata sejarah aja yuks ke Candi Cangkuang yang ada di Garut Jawa Barat, tepatnya di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles. Ada apa sih emang di Candi Cangkuang? Ada candi dong ya jelasss. Candi ini memang tidak sebesar Candi Borobudur, tapi setidaknya kamu akan belajar dan menemukan hal baru, seperti adat istiadat yang ada di Kampung Pulo.
Oke, aku akan mencoba menjelaskan secara detail tentang apa yang ada di tempat wisata Candi Cangkuang ini biar kamu makin yakin, atau mungkin memilih tempat lain untuk jadi destinasi wisatamu.
Ketika kamu memasuki pintu gerbang Candi Cangkuang, kamu akan menemukan tempat pembelian tiket. Bagi warga lokal, tiketnya seharga Rp 5.000,- sedangkan untuk turis harganya kalo gak salah sekitar Rp 12.000,- yaa kurang lebih segitulah (harga mungkin bisa berubah kalo lagi musim liburan). Setelah kamu beli tiket, kamu butuh menyeberangi danau untuk bisa sampai ke Candi. Soooo di sana sudah berjejer rakit lengkap dengan Mamang nya yang siap mengantarkan kamu. Bayar lagi gak? Bayar!! Kalo kamu datangnya sendiri (re: jomblo), couple (pasutri, pacar, temen aja, temen deket, atau temen hati) kamu cukup bayar Rp 5.000,- /orang, tapi ada syaratnya, yaitu nunggu penuh sampai 20 orang. Kalo kamu bukan orang yang sabar menunggu, pengen berdua aja, pengen foto prewedd, pengen serasa rakit milik pribadi, atau emang bawa rombongan, kamu bisa sewa rakitnya seharga Rp 100.000,-.



Setelah kamu menyeberangi danau, kamu akan berjalan menyusuri jalan kecil yang di samping kiri dan kanannya dipenuhi dengan kios-kios penjual souvenir. Sebagian besar souvenir merupakan kerajinan tangan dari penduduk. Naahh setelah di penghujung jejeran penjual souvenir ini kamu akan menemukan gerbang untuk memasuki Kampung Pulo.


Ada apa sih di Kampung Pulo? Apa sih uniknya Kampung Pulo? Jadiiii di Kampung Pulo terdapat penduduk yang merupakan keturunan dari Mbah Dalem Arief Muhammad seorang penyebar Islam. Kampung ini terdiri dari 6 rumah yang menyimbolkan 6 anak perempuan dan 1 mesjid yang menyimbolkan  seorang anak laki-laki dari Mbah Dalem Arief Muhammad. Rumah ini hanya boleh dihuni oleh satu kepala keluarga. Penduduk Kampung Pulo masih menganut sistem matrilineal sehingga muncul tradisi Ngaplus Imah dimana hak waris rumah diberikan untuk anak perempuan.

Nahhh, uniknyaa penduduk kampung ini masih sangat memegang teguh tradisi, salah satunya adalah pamali, mereka percaya bahwa yang melanggar aturan dari tradisi ini akan mendapatkan malapetaka, hukum alam yang sudah pasti terjadi meski tidak tahu kapan hukum itu akan menghampirinya. Apa aja sih tradisi pamalinya? 

  • Berziarah di malam rabu hari rabu, kenapa? Konon katanyaaa dulu ketika masyarakat Kampung Pulo masih beragama Hindu, mereka beribadah menyembah patung dewa siwa di hari tersebut sehingga larangan ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dalam beragama.
  • Menambah/ mengurangi bangunan pokok dan kepala keluarga, kenapa? Karena Kampung Pulo ini memang menyimbolkan keturunan keluarga dari Mbah Dalem Arief Muhammad jadi gak boleh ditambah atau dikurangi.
  • Tidak boleh memukul goong dari perunggu dan tidak boleh menggunakan atap rumah berbentuk jure/ prisma, kenapa? Karena dulu pernah terjadi musibah ketika anak laki-laki Mbah Dalem Arief Muhammad dikhitan kemudian diarak menggunakan jampana dengan atap yang berbentuk prisma. Saat goong dipukul, datang angin topan, anaknya jatuh terbawa angin dan meninggal dunia. Sebenarnya makna pelarangan ini juga memiliki arti untuk menghargai sesama tetangga agar terhindar dari kebisingan.
  • Tidak boleh memelihara hewan besar berkaki empat, kenapa? Karena masyarakat Kampung Pulo sudah ditanamkan pola hidup yang bersih dan sebagian orang adat memiliki mata pencaharian bercocok tanam dan berladang, sehingga timbul rasa takut bahwa hewan tersebut akan merusak segala yang telah ditanamkan sejak dulu.

Setelah kamu asyik foto-foto atau barangkali ngobrol-ngobrol kepo dengan penduduk Kampung Pulo, kamu bisa melanjutkan perjalanan untuk melihat candi dan makam Mbah Dalem Arief Muhammad yang berdampingan. Sebelum naik ke atas, akan ada pemeriksaan tiket, jadi pastikan tiketmu jangan sampe ilang.
Naaah ini nih penampakan Candi Cangkuang yang kecil nan imut berdampingan dengan makam Mbah Dalem.


Di sekitaran candi ini terdapat halaman-halaman yang cukup luas juga pohon-pohon rindang, jadi bisa banget kalo kamu mau piknik ala-ala, tapi jangan nyampah yaa!

Nah di samping candi juga terdapat mini museum gitu, di dalamnya ada beberapa peninggalan sejarah yang kebanyakan terdiri dari kitab-kitab zaman dulu.


Terus ada apa lagi?? Hmmmm selebihnya kebanyakan sih makam yaaa..

Terus ngapain lagi dong? Ya pulaang, kamu gak usah khawatir karena rakit yang kamu tumpangi sebelumnya akan menunggu sampai pelanggannya puas berjalan-jalan. Tapi hati-hati kadang tarifnya bisa tiba-tiba naik karena kamu bayar transportnya di akhir.

Candi Cangkuang ini memang kurang memiliki banyak spot yang bisa dinikmati, tapi well pelajaran sejarah kamu setidaknya bertambah. Eh ada satu mitos juga di tempat ini, katanya… katanya yaaa kalo yang pacaran main kesini nanti bisa putus. Wkwk makanya jangan pacaran :D yaa mungkin intinya tempat ini tempat wisata bukan tempat mojok berduaan, ya kali kan mojok di sekitaran makam :” kekuatan word of mouth tentang mitos ini cukup berefek terutama di kalangan remaja-remaja labil zaman dulu, kurang tahu yaa kalo zaman now.

Jadi gimana nih? Udah nambah pengetahuannya? Kalo masih kepo langsung datangin aja tempatnya, jangan hanya nikmatin viewnya, tapi gali juga ilmunya.

Source: (Faujiah, A. 2017. Makna Simbolik Masyarakat Kampung Pulo Garut)

Karya : Puji Astuti