Titik Rindu

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 November 2017
Titik Rindu

Nada, Apa kabar? Aku rindu.

Sebuah pesan dari Instagram yang biasa dikenal sebagai DM (Direct Message) tiba-tiba muncul di layar ponsel ku hari ini. Cukup mengagetkan. Sudah satu tahun lebih aku tak lagi berhubungan dengannya –mantan kekasihku. Sejujurnya, aku rindu. Aku bahkan tak bisa sedikitpun melupakan setiap momen bersamanya, karena memang tak banyak yang bisa dikenang. Kami hanya berpacaran dua bulan saat itu. Lucu bukan? Satu tahun aku tak bisa melupakan sebuah hubungan yang tak lebih dari dua bulan. Entah mengapa segalanya tentang dia bagiku adalah kebahagiaan. Ah sial, satu pesan darinya berhasil membuatku mengenang segalanya.
#
Giantara Purnama
Aku mengenalnya lewat sebuah event, kami bekerjasama saat itu. Aku tak pernah punya rasa awalnya, hanya sedikit kekaguman karena pemikiran-pemikiran yang ia miliki. Terlebih, aku memang tak berani menyimpan rasa. Sejak event itu usai, aku juga tak pernah lagi berinteraksi dengannya, sampai suatu saat aku membutuhkan pertolongannya untuk sebuah tugas mata kuliah.

Kami berinteraksi cukup dekat. Meski kami dipisah jarak Yogyakarta - Bandung tapi tak menjadi masalah. Masalahnya hanya satu, kami belum memiliki komitmen apa-apa. Suatu saat dia menghilang. Benar-benar menghilang. Hanya muncul di beranda media sosial tanpa sekali pun menghubungiku lagi. Apa aku berani menghubunginya lebih dulu? Tidak. Logikaku tak mengizinkan itu, kami tak punya komitmen, maka aku tak punya hak. Saat itu aku patah hati. Bahkan, patah sebelum benar-benar pernah merasa utuh.

Nad,maafin Mas. Selama ini Mas sempat hilang. Mas tahu kamu marah.

Itu adalah pesan pertama yang muncul saat aku mulai menyerah untuk berharap pada Mas Gian. Aku benar-benar tak habis pikir bagaimana ia bisa datang dan pergi sesukanya seperti itu, tanpa penjelasan. Awalnya pesan-pesannya aku abaikan. Aku tak ingin terlihat bodoh dengan terus menerus membuka pintu untuknya. Tapi, rindu mengalahkan segalanya. Pertahananku runtuh, aku tak bisa memegang prinsipku untuk tak ingin lagi pacaran. Iya, sejak Mas Gian pergi tanpa kabar aku merasa ingin berhijrah, lelah untuk suatu hubungan yang tidak jelas. Tapi kehadiran Mas Gian kembali meruntuhkan segalanya.

“Mas udah pulang dari Yogya, sekarang udah di rumah. Kamu ke Bandung kan hari ini? Kita ketemu ya.” Katanya lewat telepon.

“Iya hari ini aku ke kampus.” Jawabku singkat. Aku tak ingin terlihat senang, aku juga tak ingin terlalu berharap seperti yang sudah-sudah.

“Mas ngajar dulu hari ini. Sebentar ko, nanti setelah selesai, Mas langsung jemput kamu. Kita nonton ya.”

“Iya boleh, terserah Mas aja. Ya udah nanti kabarin aja kalo jadi dateng. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum.” Kataku mengakhiri pembicaraan.

“Oke. Waalaikumsalam.” Jawabnya.

Jangan terlalu berharap! Pikirku.
30 menit…
60 menit…
90 menit…
120 menit…
Aku menunggu, dan menunggu adalah salah satu bentuk dari berharap. Aku kalah.
Di luar hujan, aku tak yakin bahwa dia benar-benar datang. Sementara aku sibuk dengan pikiranku, tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk.

Mas sudah sampai, Mas tunggu di dekat teater 4.

Aku tersenyum, ketika dia terlambat dan datang tanpa menjemputku ke kampus, aku masih bisa tersenyum. Ada bahagia yang tak bisa ku sembunyikan karena akhirnya aku bertemu dengannya.

“Lamaaa” Dia berpura-pura memasang muka sebal, kemudian tersenyum. Ah, senyum yang ku rindukan.

“Maaf Mas di luar hujan,” jawabku.

Sebenarnya aku ingin menumpahkan kekesalanku, dia bahkan tak tahu aku menunggunya lebih lama dari itu. Aku menunggu pertemuan dengannya bukan lagi hitungan jam, tapi hitungan hari, hitungan bulan, bahkan ketika dia benar-benar menghilang aku masih menunggu. Tapi aku memilih untuk diam, tak ada gunanya mengungkit masa lalu saat pertemuan pertama.

Kami sudah berada dalam ruangan teater. Duduk bersisian bersamanya seolah masih mimpi bagiku. Dia asyik menikmati film, sedang aku asyik dengan pikiranku, sesekali menatapnya. Ingin rasanya aku hentikan waktu sejenak.

Setelah film usai, dia mengajak aku makan. Belum banyak percakapan di antara kami. Agak sedikit canggung bagiku, tapi tidak bagi Mas Gian. Dia mulai berceloteh banyak hal, menunjukkan sisi kecerdasannya, juga disertai jokes-jokes yang anehnya selalu bisa membuat aku tertawa. Tiba-tiba dia mengeluarkan dua buah cokelat, di atasnya ada notes berbentuk hati bertuliskan:

Semoga cepet gemuk :p

Sudahlah, hilang semua rasa kesalku padanya, aku sudah tak bisa menyembunyikan lagi rasa bahagiaku. Aku masuk lagi pada perangkap yang dinamakan jatuh cinta, bukan karena diberi cincin lamaran tapi hanya karena dua buah cokelat. Sikapnya hari itu benar-benar manis. Aku menemukan sisi lain yang belum pernah aku lihat pada awal pertemuan kami dulu.

Setelah makan, kami bergegas untuk pulang. Segalanya seolah mengalir saja, kami berjalan beriringan, sesekali bercanda. Tiba di parkiran, dia menitipkan barang bawaannya padaku, juga memberikan helm. Aku naik ke motornya, lagi-lagi aku terlihat sedikit canggung malah cenderung salah tingkah, sedang dia hanya tersenyum menatapku.

Saat kami tengah asyik menikmati perjalanan, tiba-tiba hujan deras. Seolah harus ada momen yang membuatku kelak mengingat Mas Gian. Suasana menjadi sangat hening seiring derasnya hujan yang mengalahkan suara kami. Sama seperti hujan yang datangnya tiba-tiba, tangan Mas Gian juga tiba-tiba meraih tanganku, meletakkan tanganku di saku jaketnya.
“Dingin Nad, masukin aja.” Dia berbicara santai tanpa merasa canggung padahal wajahku mungkin sudah memerah. Aku tetap diam bergeming, sedang tanganku bodohnya tetap mengikuti, malah lebih seperti memeluk.

“Ini bukan modus Nad, tangan kamu udah dingin banget.” Katanya seolah tahu apa yang ada dipikiranku. Bukan modus? Anak SMP aja tahu bahwa itu hanya akal-akalan dia, akal-akalan yang nyatanya membuat aku senang. Aku masih tetap diam, sampai dia mengatakan yang sama sekali tak terpikirkan dalam benakku.

“Nad, pacaran yuk?” tetap dengan gaya bicaranya yang santai.

“Mas tahu, ini mungkin terlambat, Tapi Mas sadar kalo Mas sayang sama kamu.” Tambahnya.

“Apaan sih Mas, Jangan bercanda.” Jawabku, aku tak bisa membedakan mana candaan dan keseriusan saat bersamanya.

Selang sepuluh menit, dia menggenggam erat tanganku.

“Nad, mau ya jadi pacar Mas? Mas serius.” Katanya.
Aku tetap diam. Jujur, sejak pertama kali dia bertanya aku memang ingin segera mengiyakan, tapi aku takut bahwa apa yang ia katakan hanyalah sebuah candaan.

“Mas ingin pacaran yang fun, jangan membuatmu terbebani. Kamu nanti gak usah nanya Mas udah makan atau belum, Mas kan udah gede, kalo laper nanti Mas pasti makan. ”

“Mau ya, mencoba memulai sama Mas?” Tanyanya lagi, sebelum kami benar-benar sampai di depan rumahku.

Akhirnya, setelah meruntuhkan segala ego yang ada, aku berkata iya. Tanpa banyak bicara. Ia mengelus tanganku yang terasa lebih dingin dibanding sebelumnya. Malam itu, 11 Februari, aku resmi menjalin komitmen bersamanya. Aku tahu ke depannya tak akan mudah, tapi bagaimana lagi? Aku tak bisa memungkiri bahwa aku ingin memiliki dongeng panjang bersamanya meski mungkin akhirnya hanya akan menjadi sebuah cerpen. Aku ingin mengenalnya lebih dekat, mungkin ini kesempatan yang tidak akan pernah datang lagi, menjadi bagian dari hidupnya.

Satu bulan pertama, hubunganku dengan Mas Gian baik-baik saja. Aku dan dia menjalani hubungan yang menyenangkan. Jarak bukan halangan bagi kami. Sosial media menjadi akses paling memudahkan untuk berkabar. Berkirim foto kegiatan yang sedang dilakukan, bercerita tentang aktivitas masing-masing, bercanda, merangkai mimpi, begitulah kegiatan kami sehari-hari. Kami tidak pernah menargetkan kapan kami akan bertemu. Aktivitas kami telah menyita waktu untuk bersama. Aku tak pernah berharap banyak untuk bisa menghabiskan akhir pekan berdua, dating, atau apapun itu. Dia, meskipun banyak yang aku kagumi dari dirinya, tetap saja dia memiliki kekurangan. Banyak pertemuan yang selalu batal karena kesibukannya. Sedih iya, tapi aku tak marah, aku tahu dia memiliki banyak kegiatan yang tak bisa aku batasi. Aku hanya rindu.

Di bulan selanjutnya, dia mengajak ku bertemu. Nonton film lagi, di tempat yang sama. Katanya dia rindu. Kali ini aku menikmati film itu, meski sesekali tetap menatap ke arahnya. Sepanjang film diputar dia menggenggam tanganku. Ah Tuhan, aku tahu benar bahwa apa yang aku lakukan adalah salah, aku terlena oleh rasa cinta. Aku dan dia sepertinya sama-sama menyadari kesalahan itu. Setelah film usai, dia harus bergegas pulang, masih banyak hal yang harus ia urus. Aku menyadari ada yang berbeda setelah pertemuan ini.

Maafin Mas Nad, Mas udah terlewat batas karena berani menyentuh tanganmu.

Sebuah pesan datang padaku di malam hari dari Mas Gian. Pesan yang benar-benar menyadarkanku atas kesalahan yang kami perbuat. Aku menangis malam itu, meratapi kebodohan diperbudak oleh rasa cinta yang tak halal. Melewati batas, menduakan-Nya.

Maafin Nad juga Mas. Nad juga salah. Baiknya kita seperti apa?

Aku tak pernah bisa memulai kata untuk sebuah perpisahan. Aku biarkan ia yang memutuskan.

Mas belum mampu membahagiakanmu Nad, belum mampu menghalalkanmu, Mas gak mau merusakmu lebih dulu. Kali ini tangan, tak jamin kelak Mas masih bisa menahan hawa nafsu yang lain. Kamu adalah keindahan Nad. Tak pantas Mas rusak. Hubungan kita tak baik dilanjutkan.

Aku menangis. Aku membalas pesannya singkat.

Baik Mas. Maaf dan terima kasih… Jaga diri ya Mas.

Inikah akhir dongengku Tuhan? Aku menyesal, sungguh. Bukan, bukan karena perpisahan ini. Tapi karena dulu aku terlalu mudah luluh, terlalu mudah menyerah. Seandainya aku tetap berpegang pada prinsip tak ingin pacaran lagi, seandainya aku tetap mencintainya dalam diam, tetap bertahan dengan rasa kagum yang tak ada habisnya, tetap menikmati indahnya rindu dalam diam, mungkin rasanya tak akan sesakit ini.

Maafkan aku Tuhan yang telah mendahului takdirMu, yang tak sabar menunggu. Maafkan aku dengan rasa cinta ini, aku lupa aku adalah milikMu. Sudah seharusnya cinta ini senantiasa milikMu sehingga kau mampu menuntunku pada cinta yang utuh. Maafkan aku Tuhan, aku hanya manusia pendosa. Sampaikan maafku padanya Tuhan, maaf aku pernah menjadi dosa untuknya, dosa untuk orang tuaku, juga dosa bagi diriku sendiri.

Tuhan, kali ini bantu aku untuk memegang teguh prinsipku, jaga hatiku, jaga pandanganku. Jangan jadikan aku dosa bagi siapapun lagi. Aku sedang berusaha menjadi sebaik-baiknya umatMu. Bantu aku melupakannya Tuhan, aku masih merindukannya. Jantungku kerap berdegup hanya ketika melihat namanya dalam beranda media sosialku. Aku senang setidaknya dia baik-baik saja, aku selalu berharap dia baik-baik saja. Jaga sikapku Tuhan, karena kerap kali aku selalu penasaran mencari tahu tentangnya. Ya, tentangnya masih selalu menjadi pertanyaan di hati kecilku. Sekarang, saat ini tentang apapun dan siapapun, ku simpan dalam hati kecil ini. Aku tak ingin melangkahi lagi takdirMu.
Jika dia jodohku, maka dekatkanlah kami suatu saat nanti, dalam ikatan nan suci yang tak harus sembunyi-sembunyi. Berharap kami bisa membangun cinta di jalanMu, dengan ridhoMu. Jika dia bukan jodohku, maka pertemukan kami dengan sebaik-baiknya pasangan yang mampu membawa kami ke surgaMu. Jaga kami Tuhan, Jaga cinta kami. Macam rindu yang tak ada wujudnya, macam rindu yang belum ku temukan muaranya. Dia dan segala bayangnya, aku titipkan padaMu, ya Rabb ku.
#
Ah aku larut dalam lamunan memori saat itu, saat dimana aku jatuh cinta dan harus merelakan cinta itu. Saat-saat yang berat juga bagiku berjuang melupakan rindu untuk Mas Gian. Kali ini, tak boleh ada kesalahan yang sama. Meski rindu itu masih ada, aku tak boleh memicu rindu yang semakin besar di antara aku dan dia. Biar kelak rindu ini dijawab oleh Tuhan pada waktu yang tepat.

Baik Mas, aku juga merindukanmu.

Aku tuliskan pesan singkat dalam secarik kertas, tentu, secarik kertas yang tak pernah sampai pada tuannya.



Sumber gambar: <https://blog.act.id/beberapa-kota-di-indonesia-sambut-berkah-hujan-di-tengah-kemarau>

  • view 22