Unpredictable #7 END

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 November 2017
Unpredictable #7 END

“Dik, kamu sudah berkemas?” Tanya ibu pada Dika.

“sudah Bu.” Dika mengangguk sembari menunjukan barang-barangnya yang ia simpan di pojok kamar. Ia sedikit tak bersemangat.

Ini waktunya. Pikir Dika.

Lima bulan lalu, saat ayah memberitahu Dika bahwa mereka akan pindah ke Semarang, ia merasa akan baik-baik saja. Ia tidak tahu bahwa setelah itu, ia akan kembali menemukan gadis yang membuatnya penasaran, tak terpikirkan sama sekali justru mereka kini menjadi teman. Ia mengutuk waktu yang terlalu cepat berlalu. Benar ternyata, bahwa waktu tak bisa menunggu bahkan jika ia memohon hanya sepersekian detik.

Dika tak berlama-lama larut dalam kesedihan, toh segalanya memang harus dihadapi. Ia mempersiapkan hadiah yang ingin ia berikan untuk Nay, sebuah gantungan boneka doraemon dan buku sketsa berisikan lukisan-lukisan yang dibuatnya selama ini. Ah, ada yang kurang. Sebuah surat. Malam itu, menjadi malam yang lebih sunyi, ia larut dalam sebuah tulisan yang menggambarkan perasaannya.

#

Sebuah lonceng berbunyi di dekat telinga Nay.

“Ah Dika…”

Pria pemilik lonceng itu duduk di samping Nay. Ia memberikan sebuah amplop dan satu kotak kado berukuran sedang. Nay meraba amplop itu. ada huruf timbul yang tertulis di sana. Dika.

Ia perlahan membuka surat itu, ukuran kertasnya cukup lebar, seolah banyak yang ingin diutarakan oleh sang penulis untuknya.

Namun bila saat berpisah tlah tiba

Izinkan ku menjaga dirimu

Berdua menikmati pelukan di ujung waktu

Sudilah kau temani diriku

Sudilah kau menjadi temanku

Sudilah kau menjadi, istriku

Aku suka bait terakhir itu Nay. Itu lirik lagu yang kau sukaikan? Aku hanya tahu lirik lagunya, tapi tak memahami iramanya, mungkin akan indah seandainya aku bisa mendengar. Apalagi bila mendengarnya bersamamu. Sayangnya, sampai kapanpun tidak akan pernah bisa.

 “Seandainya aku bisa menjagamu, seandainya aku bisa memelukmu pada tiap-tiap senja yang kita lewati.”

Itulah yang seringkali aku pikirkan saat membaca lirik lagu yang kau sukai Nay.

Nay, terima kasih sudah percaya untuk berbagi denganku. Aku yakin semua kisah itu memilukan ketika kamu berusaha menggali ingatannya lebih dalam. Kamu, adalah perempuan hebat dan kuat yang pernah ku temui, selain ibu. Aku, tak bisa membayangkan bagaimana bertahan sepertimu, kamu kehilangan orangtua, kamu tidak lagi bisa melihat dunia, tapi kamu masih memiliki banyak prasangka baik pada kehidupan ini. Aku belajar banyak darimu Nay.

 Jika kamu merasa lelah dan lemah, aku rasa itu wajar Nay. Satu waktu, sekuat apapun, kamu pasti akan berada pada titik itu. Dan ketika masa itu datang, menangislah Nay, tak apa. Kau hanya akan sakit jika terus berusaha tegar tanpa menangis. Iya, aku tahu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya kamu bisa mengeluarkan perasaan yang selama ini kamu pendam. Setelah itu, yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja Nay. Ada banyak hal baik yang menunggumu. Kamu hanya perlu sedikit bersabar.

 Nay, maaf jika aku terlambat datang menemukanmu, seandainya aku bisa lebih cepat, mungkin akan ada banyak waktu yang bisa aku lakukan untuk menghapus sedihmu. Nay, kamu adalah keindahan yang aku kagumi, yang selalu aku lukiskan pada lembaran-lembaran buku sketsaku. Tetaplah tersenyum Nay, bahkan jika datang hari terperih sekalipun. Kamu lebih cantik kalau tersenyum.

 Nay, membawa Dimas padamu bukan suatu kesalahan kan? Aku melihat kebahagiaan dan keceriaan di dirimu saat bersamanya. Aku bahagia melihatmu bahagia, karena apa yang dilakukan Dimas, tak pernah bisa aku lakukan. Nay, ada perasaan sedih yang sulit aku jelaskan ketika pertama kali melihatmu menangis di taman ini. Sejak saat itu, aku berjanji untuk bisa menghiburmu, namun keadaan ternyata menyulitkanku.

 Aku seringkali putus asa Nay, saat tak bisa benar-benar menyampaikan apa maksudku, saat tak bisa langsung menanggapi cerita-ceritamu, saat tak bisa membercandaimu agar kau bisa tertawa, saat-saat yang seharusnya aku bisa menjadi teman baik untukmu. Maafkan aku Nay, aku hanya bisa menemani dengan keterdiaman yang membosankan.

Nay, maafkan aku karena tak bisa lagi menemani setiap senjamu. Aku tak bisa berjanji bahwa Februari-Februari di tahun berikutnya akan ada aku bersamamu. Aku harus pindah ke Semarang. Mungkin sesekali aku akan menjengukmu. Tapi aku tidak tahu kapan, dan aku tak ingin berjanji. Aku takut mengecewakanmu.

 Dimas bilang aku mencintaimu, tapi aku bahkan tak mengerti definisinya dengan baik. Perasaanku padamu, sesederhana terluka melihatmu menangis, bahagia melihatmu tersenyum. Itu saja. Apakah benar itu cinta Nay? Entahlah. Apapun perasaan itu namanya, aku tidak begitu peduli, yang aku pedulikan adalah tentangmu Nay. Jangan khawatir, senjamu tak akan sepi. Aku titipkan kamu pada Dimas. Aku dan dia sudah bersahabat sejak lama. Aku pastikan ia adalah laki-laki yang baik. Kamu berhak memiliki kebahagiaan Nay, dan dia bisa menjadi penyempurna untukmu. Jika perasaan yang aku rasakan itu namanya cinta, aku rasa cinta milikku tak akan bisa lebih baik dari yang dimilikinya.

Nay, berjanjilah untuk tidak lagi bersedih, hari-harimu tanpa aku harus lebih menyenangkan. Terima kasih sudah memberikan aku kenangan manis. 

Sejurus kemudian, ada bulir bening yang menetes di sudut mata Nay, dibiarkannya mengalir begitu saja.

 “Bodoh.” Ucap Nay.

Pria yang berada di sampingnya menarik napas.

“Nay, ini aku. Dika sudah berangkat ke bandara sejam yang lalu.”

“Lonceng itu?” tanya Nay. Tega sekali jika bahkan lonceng pemberiannya diberikan kepada orang lain.

“Ini milikku Nay, aku meniru apa yang biasa Dika lakukan untukmu.”

  • view 103