Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 19 November 2017   21:34 WIB
Unpredictable #6

Hari-hari Nayla semakin menyenangkan. Tuhan memang adil, pikirnya. Layaknya malam pekat yang akan berganti siang. Pun dengan kesedihan akan berganti dengan kebahagiaan. Kini ia punya dua sahabat baik. Dika dan Dimas. Setelah pertemuan pertamanya dengan Dimas, Dika lebih sering mengajak serta Dimas ketika menemaninya, mereka jadi lebih akrab. Nayla dan Dika, juga Nayla dan Dimas.

Bagi Nayla, adanya Dimas menjadikan suasana lebih ramai, tak sehening ketika ia hanya berdua dengan Dika. Tapi bukan berarti ia tidak suka ketika hanya bersama dengan DIka, bahkan akhir-akhir ini ia mulai rindu kebersamaan itu.

Dimas, meskipun bagi Nayla adalah sosok yang dia harapkan karena kemampuannya bernyanyi, tapi Dika adalah orang yang pertama kali menemukannya dalam keterpurukan, yang selalu memperhatikannya diam-diam. Nayla juga tak menampik bahwa Dimas bisa membuat hari-harinya lebih ceria. Namun, sisi lain hati Nay selalu tertuju pada Dika, pada seseorang yang tiba-tiba datang dan memberikan cokelat hangat, membuat tangan dan juga hati Nayla menjadi jauh lebih hangat.

“Bi… menurut Bibi Dika suka gak sama aku?” Tanya Nay pada Bibi Lin saat sarapan pagi.

“Ya suka atuh Neng, kalo ga suka mah ngapain Den Dika nemenin Neng tiap hari.” Jawab Bibi Lin.

“Maksud Nay perasaan lebih gitu loh Bi…” Nay sedikit malu-malu berbicara terus terang pada Bibi Lin.

“Cinta maksud Neng??” Bibi Lin tersenyum. Ia melanjutkan.. “Bibi ga tau sih ya Neng soal Den Dika Cuma yang Bibi liat dari awal dia memang peduli sama Neng. Sebenernya dulu bunga mawar putih yang dikasih Pak Badri pun itu pemberian dari Den Dika, Bibi kan ngikutin dari belakang. Tapi Neng sendiri gimana perasaannya sama Den Dika?”

Nayla menghela napas “Soal bunga itu, Nay sudah menduganya Bi, Pak Badri ga biasanya ngasih bunga mawar putih sama Nay. Perasaan Nay? Nay ga tau Bii.. di satu sisi setiap kali Nay lagi sama Dika Nay ngerasa seneng, Nay bahkan ga masalah kalau Nay harus menulis banyak hal di rumah agar bisa diceritakan pada Dika, Nay ga masalah kalau Dika ga bisa merespon cerita Nay, yang Nay butuh keberadaan Dika. Dengan dia membunyikan lonceng itu Nay tau dia sungguh-sungguh membaca dan memahami apa yang Nay rasakan, mungkin karena kita sama-sama punya kekurangan, hanya saja kekurangan yang kita miliki justru menyulitkan. Menurut Bibi bagaimana?”

“Sebelum Bibi berkomentar, kalo dengan Den Dimas perasaan Neng gimana? Yang Bibi lihat Den Dimas juga menyimpan perasaan untuk Neng, Bibi bisa lihat setiap kali dia menyanyi untuk Neng, dia bukan hanya sekedar memenuhi permintaan Den Dika, tapi itu tulus dari hatinya dia.”

“Dimas? Nay juga gak tahu Bii. Dimas bisa membuat Nay percaya pada diri Nay sendiri, dia bisa buat Nay tertawa, berimajinasi,. Ia seperti mata untuk Nay, ia selalu mendeskripsikan apa-apa yang ada di sekitar, membuat Nay seolah-olah bisa merasakannya hanya dengan mendengarkan dia bercerita. Bibi tahu, cara dia bernyanyi membuat Nay benar-benar luluh. Tapi dia kadang tak memberikan ruang untuk Nay bercerita, ia selalu menghindar, entah mungkin karena ia tak ingin Nay terjebak pada masa lalu yang menyakitkan, atau mungkin dia belum siap mendengarkan hal-hal yang pernah Nay alami. Sedang Nay sebenarnya ingin meluapkan perasaan yang selama ini Nay pendam sendirian. Ia berbeda dengan Dika, meski DIka tak bisa memberikan respon Nay tahu mungkin jauh dilubuk hatinya ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Nay selalu mempercayai itu. Ah tapi bagaimana pun di antara keduanya ga ada yang ngomong perasaannya sama aku Bi.. mungkin ini hanya perasaanku aja, tapi ga apa-apa, bersahabat dengan mereka bagiku sudah cukup sebagai anugerah yang diberikan Tuhan agar aku tak kesepian lagi.”

“Neng, perkara cinta memang kerap membingungkan. Satu waktu kita akan merasa yakin pada seseorang, namun satu waktu lainnya perasaan kita bisa jadi bimbang. Neng ingatkan? Bahwa hati ada yang maha membolak-balikkan. Maka mintalah pada sang pemilik hati yang seutuhnya. Bibi ga bisa memihak salah satu, Den Dika dan Den Dimas sama-sama baik, sama-sama tulus. Mereka punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hanya saja dengan kekurangan yang Den Dika miliki, resiko untuk Neng mungkin akan menjadi lebih berat, ketika Neng merasa bosan dengan keheningan, ketika Neng marah, atau bahkan Neng dan Den Dika banyak salah pahamnya ya Neng gak bisa nyalahin Den Dika karena keadaan dia memang seperti itu. Kelak juga hubungan rumah tangga tak hanya menyoal saling menemani di kala senja, tapi menemani seumur hidup, bisa saling menerima. Bibi yakin Neng sudah dewasa, sudah bisa menentukan pilihan hati Neng sendiri.”

Nayla diam. Berpikir panjang. Untuk saat ini dia benar-benar tidak tahu, bukan hanya karena ia tidak tahu perasaan di antara keduanya, tapi ia juga tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya dia merasakan bahwa jatuh cinta itu rumit. Kelak, seandainya memang keduanya memiliki perasaan yang sama pada Nay, Ia tak bisa menjadi tamak untuk menginginkan keduanya, ia tetap harus memilih.

Karya : Puji Astuti