Unpredictable #5

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 November 2017
Unpredictable #5

“Gitu yaa sekarang, udah ada temen baru gue dilupain. Kemana aja sih Dik?” Tanya Dimas. Dimas sudah mahir menggunakan bahasa isyarat karena ia merupakan salah satu ketua komunitas bahasa isyarat yang ada di Bandung.

“Maafin gue Dim, ini kan gue dateng. Gue mau cerita.” Dika memang berencana ingin menceritakan tentang Nayla pada Dimas, dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat.

Sudah lebih dari seminggu Dika menemani Nay. Menikmati senja bersama. Tak banyak yang bisa mereka lakukan. Jika Nay ingin bercerita sesuatu, Nay akan menyiapkan surat panjang dari rumah agar Dika membacanya. Bagaimana dengan Dika? Ia belum menemukan cara yang tepat untuk menanggapi surat-surat itu. ia hanya bisa membunyikan lonceng pemberian Nay sebagai tanda bahwa dia sudah membacanya, dan Nay hanya akan tersenyum. Senyum penuh dengan kelegaan karena punya teman berbagi. Meski begitu, Dika mampu menangkap kekecewaan pada diri Nay, cerita-ceritanya tak pernah mendapatkan respon lebih, sedang ia pun tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, ia berniat meminta masukan sekaligus pertolongan pada Dimas. Waktunya tak banyak, ia tak ingin meninggalkan kenangan buruk bagi Nayla.

“Dik, menurut gue, lu harus belajar braile. Atau seenggaknya lu menyampaikan dan merespon cerita-ceritanya selama ini dengan cetakan braile biar Nayla bisa baca.” Kata Dimas memberikan solusi setelah memperhatikan cerita Dika tentang Nayla.

“Lu tahu caranya gimana?” tanya Dika kebingungan, jujur saja dia tidak pernah mengetahui tentang braile sebelumnya.

“Itu soal gampang.” Jawab Dimas penuh percaya diri.

“Oke, sekarang gue mau minta bantuan lu yang lain. Boleh ya?” Dika memelas, menunjukan senyum terbaiknya.

“Apa lagiii? Lu yaa, dateng ke gue pas banyak butuhnya doaang.” Dimas terlihat kesal.

Dika tahu, Dimas tak pernah benar-benar kesal, mereka adalah sahabat sejak kecil dan Dimas lah yang selama ini selalu ada untuknya.

“Yuk ke taman, gue kenalin Nayla. Kan lu bisa main gitar, suara lu juga bagus. Jadi please bawa gitar dan nyanyiin lagu Payung Teduh yang judulnya akad buat dia.”

“Sekarang banget? Lu suka ya sama dia? Lu mau nembak dia pake lagu itu?” Tanya Dimas, lebih seperti menginterogasi.

“Iya sekaraang. Ga tau, gue cuma ga suka aja liat dia sedih, dia cantik kalo lagi senyum. Dan satu-satunya hiburan buat dia adalah mendengarkan lagu, lagu kesukaannya yaaa itu Akad. Nembak??”Dika terlihat kebingungan, ia mengerdikan bahunya dan berusaha menjelaskan pada Dimas tentang apa yang dia rasakan.

“Ah please Dika, Lu tahu gak? Itu namanya cintaaaa.” Dimas menyatukan kedua tangannya membentuk simbol love dan mendekatkannya ke hadapan wajah Dika. Dimas kemudian pergi berlalu menuju kamarnya untuk mengambil gitar.

#

Dika mengayunkan loncengnya di belakang kepala Nayla.

Nayla berbalik dan melambaikan tangan meminta Dika untuk duduk, “Dikaaa, sini duduk.”

Dika mengangguk memberi aba-aba pada Dimas yang sudah duduk terlebih dulu di samping Nayla. Sekarang Dika duduk sila di bawah bangku taman, memerhatikan Dimas dan Nayla yang ada di hadapannya.

Jemari Dimas mulai memainkan gitarnya… ia menyanyikan lagu Akad dengan halus, lagu Akad versinya.

Betapa bahagianya hatiku, saat ku duduk berdua denganmu

Dimas berhenti sebentar, menatap ekspresi Nayla. Gadis itu terlihat kaget, namun akhirnya tersenyum. Ia benar-benar cantik. Pikir Dimas. Ia kemudian melanjutkan lagunya

Berjalan bersamamu, menarilah denganku

Namun bila hari ini adalah yang terakhir, namun ku tetap bahagia

Selalu ku syukuri begitulah adanya…

Namun bila kau ingin sendiri

Cepat-cepatlah sampaikan kepadaku

Agar ku tak berharap dan buat kau bersedih

Bila nanti saatnya tlah tiba

Ku ingin kau menjadi milikku

Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan

Berlarian ke sana kemari dan tertawa

Namun bila saat berpisah tlah tiba

Izinkan ku menjaga dirimu

Berdua menikmati pelukan di ujung waktu

Sudilah kau temani diriku

Sudilah kau menjadi temanku

Dimas mengakhiri lagunya dengan baik. Nay masih tertegun dengan suara yang didengarnya, sangat indah.

Dari ekspresi yang Nay berikan, Dika merasa ia berhasil, membawa Dimas adalah pilihan yang tepat. Dika kemudian menyuruh Dimas memperkenalkan diri.

“Halo Nayla, aku Dimas, sahabat dekatnya Dika.”

“Halo Dimas, aku Nayla. Suaramu sangat bagus.” Nayla memuji Dimas dengan tulus.

“Kamu bisa aja. Iya nih, ada seseorang yang tiba-tiba nyuruh aku nyanyiin lagu ini.” Dimas melirik Dika sambil tersenyum jahil.

“Siapa? Dika?” tanya Nay penasaran.

“Iya, siapa lagi kalau bukan teman barumu ini…” jawab Dimas.

Mereka kemudian berbincang banyak hal, sesekali tertawa. Dimas sangat tahu bagaimana caranya membuat Nay tertawa dengan jokes-jokesnya. Dimas juga tak jarang mendeskripsikan banyak hal yang ada di hadapannya, seolah menjadi mata untuk Nay.

Bagaimana dengan Dika? Tentu ia juga terlibat di dalamnya, Dimas juga banyak bercerita tentang Dika dan bagaimana selama ini ia berteman dengan DIka. Dimas mengajarkan Nay sedikit bahasa isyarat, memberikan arahan-arahan bagaimana membuat tanda dengan jemari tangannya. Dika hanya tersenyum melihat Nay yang sedikit kewalahan membuat gerakan-gerakan tangan yang salah, memang pasti sulit bagi Nay karena ia tak bisa melihat.

Sementara Dimas banyak bercerita untuk Nay, Dika lebih asyik bermain dengan buku sketsa dan pensilnya. Sudah ada belasan lukisan Nayla di buku itu, dan ia berniat memenuhi semua lembarannya dengan gambar Nayla.

Dika merasa bahagia, akhirnya dia memiliki jawaban bagaimana membuat Nayla tidak merasa bosan dan kesepian.

Dimas. Kau memang sahabat yang bisa aku andalkan. Batin Dika sambil tersenyum ke arah Dimas dan Nayla.


  • view 54