Surat Rindu untuk Aisyah

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 November 2017
Surat Rindu untuk Aisyah

Pegang pundakku jangan pernah lepaskan

Bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar

Remas  sayapku jangan pernah lepaskan

Bila ku ingin terbang, terbang meninggalkanmu

Lagu persahabatan ini, kiranya cocok untuk kita. Kita yang selalu saling mengandalkan.

Tapi tetap saja, meremas sayap tanpa melepaskan rasanya mungkin berlebihan. Pada kenyataannya kita tak bisa menahan sayap yang ingin mengepak, sayapnya bisa jadi tak berfungsi, dan itu malah akan melukainya. Terbang meninggalkan bukan berarti berniat melupakan kan?

Aku sedang dilanda rindu. Aaaa iya, aku lupa, aku memang si pecandu rindu. Pecandu rindu pada tiap waktu yang menjembatani temu.

Sudah 4 bulan, aku, Fatimah dan Sarah, tak bertemu dengan Aisyah. Ah baru 4 bulan, memang masih terbilang singkat, namun bukankah rindu tak mengenal waktu?

Aisyah sudah menemukan jalan hidupnya, pun juga Fatimah dan Sarah. Hanya tersisa aku, yang masih meraba mana jalan yang harus ku tempuh.

Aku, Fatimah juga Sarah, belajar banyak dari sosok Aisyah. Belajar tentang mengandalkan Allah dalam setiap urusan, belajar mandiri, belajar istiqomah.

#Satu waktu pada masa SMA dulu….

“Syah, langsung pulang sekarang yuk.” Ajakku kepada Aisyah.

“Sholat dulu Biiiil, kamu yakin nanti masih ada umur? Gimana kalo di jalannya kenapa-kenapa dan kita belum sempet sholat?” Aisyah langsung menceramahiku tanpa ampun.

“Ah iyaa, aku lupa Syah, ya udah yuk sholat.” Kataku sambil menepuk jidat.

Lihat bukan? Dia menjadi salah satu perantara Allah, sebagai seorang reminder bagiku, apa jadinya aku tanpa Aisyah dulu? Mungkin akan ada lebih banyak waktu sholat yang aku tunda.

#Satu waktu, masa-masa pencarian jati diri

Selepas SMA, masing-masing dari kami harus mulai menata mimpi, ingin menjadi apa? Ingin kemana? Dulu, aku sudah cukup yakin ingin masuk perguruan tinggi mana, meski belum tahu akan menjadi apa, sedang Fatimah dan Sarah juga sudah mantap dengan pilihannya mengabdi sebagai guru. Bagaimana Aisyah? Ia ternyata cukup merasa galau. Tapi satu hal, ia tak pernah melupakan Rabb nya, yang ia lakukan hanya mengadu. Kemudian ia terpikirkan untuk menjadi seorang perawat. Meski sempat kembali ragu dengan kemampuannya, tapi lagi-lagi ia mengandalkan petunjuk Allah. Allah itu dekat, maka yakinlah dengan kekuasaan Allah.

Pada akhirnya, ia bersyukur atas pilihan yang ia ambil. Menjadi seorang perawat memang tidak mudah, tapi kebahagiaannya mungkin tak hanya bisa diukur dengan materi. Kata Aisyah dengan menjadi perawat ia bisa membantu orang yang sakit, ia menjadi lebih banyak bersyukur atas nikmat yang Allah beri, terlebih ia sering ditunjukkan pada kejadian bahwa suatu saat kita akan kembali kepada-Nya kepada Sang pencipta.

Aisyah membuatku belajar bahwa keputusan yang kita ambil dengan menyertakan Allah di dalamnya tak akan pernah mengecewakan kita. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

#Satu waktu, saat jatuh cinta terlalu sering menjatuhkan kita

Aku, Fatimah, Sarah, juga Aisyah, bukan sosok sempurna tanpa cacat. Bukan perempuan-perempuan di zaman nabi yang sholihanya luar biasa. Kami bukan gadis sholeha yang mampu menundukkan pandangannya dengan baik. Kami hanya sedang berada pada proses menuju sholeha. Kami akui, aku terutama, tak pernah lepas dari yang namanya jatuh cinta. Entah kenapa, untukku sendiri perasaan itu selalu muncul tanpa bisa aku bungkam diam-diam. Kami berempat juga sempat merasakan bagaimana sesuatu yang kami pikir indah dengan yang namanya pacaran. Hingga akhirnya kami sadar, bahwa pacaran entah kenapa selalu berujung menyakitkan, mungkin ini salah satu teguran. Tapi, di antara kami berempat, mungkin Aisyahlah yang paling kuat menghadapi hantaman jatuh cinta. Sudah 4 tahun terakhir ini hatinya dibiarkan kosong. Bahkan jauh sebelum itu, patah hati pun tak pernah benar-benar membuatnya patah. Mungkin hanya Aisyah yang tak pernah menangis karena seorang laki-laki. Sedang kami bertiga? Ah, terlalu memalukan jika diceritakan, kami selalu kalah dengan yang namanya patah hati, terlalu sesak kan kawan-kawan? Pada saat-saat seperti itulah Aisyah akan cerewet menasehati, tak jarang komentarnya akan pedas, tapi apapun yang dia katakan, kami yakini bahwa itu adalah nasehat terbaik yang bisa ia berikan sebagai seorang sahabat.

Terima kasih Aisyahku, telah menjadi pengingat bagi kami untuk tidak terperosok ke dalam jurang jatuh cinta yang belum pasti.

#Satu waktu pada masa-masa kami berempat menyempatkan sholat berjamaah bersama

Yang membuatku semakin nyaman dengan ketiga sahabatku ini adalah bahwa mereka selalu menjadi jalanku untuk mengingat Allah. Kita punya ritual unik, bergiliran menjadi imam saat sholat berjamaah bersama. Aisyah adalah salah satu di antara kita yang rajin melaksanakan sholat sunnah rawatib, kita yang tadinya jarang melakukan sholat sunnah pun ikut tergerak. Aku pernah membaca sebuah tulisan: sholat fardhu yang kita lakukan tentu tidaklah sempurna, maka untuk menutupi ketidaksempurnaan itu, lakukanlah shalat sunnah rawatib. Ketika aku membaca tulisan itu, ingatanku tertuju pada Aisyah, ah semakin rindu.

Oh iya, perihal menjadi imam saat sholat berjamaah, aku akan menjadi yang paling akhir, atau aku akan mendahului iqomah agar tak menjadi imam. Aku orang yang pemalu kadang suka tiba-tiba jadi grogi saat menjadi imam, bacaanku pun belum fasih, tapi sahabat-sahabatku ini selalu rajin mendorongku, meyakinkan aku bahwa aku bisa. Di akhir sholat berjamaah, akan ada kultim, kuliah tiga menit, sang imam harus sharing sesuatu, di tutup dengan saling berpelukan dan saling mendoakan satu sama lain. Bukankah indah persahabatan semacam ini?

Dear Aisyah, Fatimah, dan Sarah, kelak jika di surga tak kalian temukan aku, tolong carilah, katanya sahabat yang sholeh/sholeha bisa memberikan syafaat bagi kita kelak di akhirat. Semoga kita bisa saling memberikan syafaat.

Dear terkhusus Aisyah ku, kapan pulang? Rumah merindukanmu, lengkap dengan kami bertiga. Semoga sehat terus disana, kami akan selalu mendoakanmu, jika kau pikir di sana akan cukup lama, maka jangan lupa kelak jika kau pulang, kau bisa kenalkan calon imammu, yaa barangkali disana kamu bertemu dengan dokter, perawat, atau mungkin keluarga pasien yang cocok. Hehehe just kidding.

 

Salam rindu Aisyah


Sumber gambar: <http://www.sana-sini.com/2015/04/dp-bbm-gambar-muslimah-berhijab-syari.html>

  • view 104