Unpredictable #4

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 November 2017
Unpredictable #4

Dika hanya berjarak 10 meter dari Nay yang sedang berdiri di depan toko bunga. Ia bersembunyi di balik pohon sambil tersenyum.

Ketika Nay melanjutkan perjalanannya ke taman, ia mulai mengikuti. Lagi-lagi jantungnya berdebar lebih cepat. Dika bahkan tidak menyadari bahwa di belakangnya juga ada yang memperhatikan.

Nay mulai duduk, seperti biasa ia bersenandung, kali ini sambil memegangi mawar putihnya.

“Heh lagi ngintip siapa?” Pundaknya ditepuk oleh Bibi Lin dari belakang.

Dika kaget. Ia menampakan wajah kebingungan karena tidak tahu harus menjawab apa.

“Ngintip siapa?” tanya Bibi Lin memperjelas.

Dika tak ingin ada kesalahpahaman, ia menarik Bibi Lin ke bangku taman yang agak jauh dari Nayla. Ia kemudian mulai menulis pada notes yang sering ia bawa kemana-mana. Dika sudah cukup paham bahwa bahasa isyarat bukanlah bahasa yang banyak dipahami orang.

Maaf, saya seorang tunarungu. Nama saya Dika. Tadi ibu bertanya apa ya?

Dika kemudian memberikan notes dan bolpoinnya pada Bibi Lin.

Bibi Lin mengangguk, ia mulai mengerti.

Panggil saya Bibi Lin. Tadi saya tanya Aden lagi ngintip siapa?

Bibi Lin mengembalikan notes tersebut. Tak lama, mereka menjadi cukup akrab dan berkomunikasi melalui tulisan. Akhirnya, Bibi Lin menceritakan apa yang terjadi pada Nayla.

Den Dika, Neng Nayla tidak bisa melihat sejak 10 tahun yang lalu karena insiden kecelakaan. Kecelakaannya terjadi pada bulan Februari ketika dia dan orangtuanya akan pergi merayakan ulang tahun Nay. Kedua orangtuanya meninggal saat kejadian itu. Sekarang, Neng Nayla cuma bisa melihat terang dan gelap. Taman yang sering dikunjungi Nayla ini adalah taman yang biasanya ia kunjungi sama kedua orangtuanya. Makanya Neng Nayla selalu terlihat murung di taman ini. Mendengarkan lagu adalah satu-satunya hiburan bagi Neng Nayla. Kemarin saat Den kasih minuman cokelat itu, dia jadi lebih bersemangat, mungkin karena selama ini dia kesepian ga punya temen, cuman Bibi juga yang nemenin Nayla di rumah.

Dika mencerna surat dari Bibi Lin dengan seksama. Ada gemuruh dalam hatinya, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tahu bagaimana rasanya sunyi, tapi ia tetap tak bisa membayangkan bagaimana hidup dalam gelap, tak memiliki lagi kasih sayang dari orangtua, dan tanpa teman. Dika yakin Nay pasti sangat kesepian.

Kemudian Bibi Lin berdiri dan mengajak Dika menghampiri Nayla.

Dika menatap gadis itu nanar, ada sedih yang seolah turut ia rasakan. Bibi Lin memperkenalkan Dika pada Nay. Dika duduk dekat Bibi Lin. Awalnya ia ragu, namun keinginannya untuk membuat Nayla tidak lagi bersedih menjadi begitu besar.

Dika mampu menangkap raut wajah kaget Nay ketika mengetahui keadaannya. Tapi ia tak peduli, Ia hanya ingin menjadi teman bagi Nayla. Setelah Bibi Lin memperkenalkannya secara singkat, Bibi Lin memilih untuk pergi. Dika bingung sebenarnya karena hanya Bibi Lin lah yang mampu menjadi jembatan komunikasi baginya dan Nay, tapi ia senang karena memiliki waktu hanya berdua dengan Nay.

Hari ini Dika sengaja membawa buku sketsa dan pensil. Ia berniat untuk menggambar Nayla. Beruntung, Dika dianugerahi kemampuan menggambar yang baik, beberapa kali ia sempat menjuarai lomba menggambar bagi penyandang tunarungu. Hari ini ia ingin menggambar sosok Nayla yang selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Nayla, seorang gadis cantik yang berusaha tersenyum di balik semua kesedihannya.

 Gadis cantik yang tegar. Dika membatin. Ia larut pada keindahan yang ada di hadapannya.

#

Dika, menghadap kepadaku.

Ia tiba-tiba menerima secarik kertas dari Nayla. Dia tidak tahu bahwa gadis di hadapannya mulai bosan dengan keheningan di antara mereka.

Dika menghadapkan wajahnya pada Nayla.

“Apa yang akan dia lakukan?” pikir Dika.

Tangan Nay melambai-lambai di hadapannya.

“Bagaimana jika Nay menyentuh wajahku? Apa yang harus aku lakukan?” Dika panik, wajahnya mungkin sekarang sudah memerah.

Deg, jantungnya seakan berhenti berdetak ketika tangan Nay menyentuh ujung topi yang dikenakannya. Ia pikir Nay akan menyentuh wajahnya, namun ternyata tidak. Nay langsung membalikkan badan lagi ke depan.

“Hhhhhh” Dika menghela napas, sambil memegang dada.  Untung tak seperti apa yang ia pikirkan.

Kemudian Nay memberikan lagi secarik kertas dengan sebuah gantungan lonceng di atasnya.

Dika tersenyum. Aaaah, ia paham, Nay ingin Dika memberitahu keberadaannya melalui lonceng ini.

Dika membunyikan lonceng itu sebagai tanda persetujuannya. Kemudian Nay berdiri dan berpamitan untuk pulang.

Dika melihat sekeliling, hari memang sudah gelap. Dia bahkan tidak menyadari karena sedaritadi ia hanya asyik menggambar. Ia mulai menyesal, mengapa tadi tak melakukan banyak hal bersama Nayla, tapi hal bersama seperti apa? Ia bahkan tidak mengerti bagaimana caranya. Ah sudahlah, pikir Dika. Ketika Nay sudah agak jauh, ia mengikutinya dari belakang, memastikan bahwa Nay pulang dengan aman.

#

Di rumah, Dika berkali-kali membunyikan loncengnya, nyaris tak terdengar apa-apa. Ia tersenyum kecut, seandainya ia bisa mendengar mungkin suara lonceng ini akan terdengar lebih indah.

Ibu Dika mengetuk pintu, masuk dan duduk di samping Dika. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

“Dika, kamu lagi apa? Siapa gadis yang ada di buku sketsamu itu?” tanya Ibu sambil memicingkan matanya.

“Lagi tiduran aja Bu, dia teman baru Dika, namanya Nayla.” Jawab Dika.

“Dia tak bisa melihat?” tanya ibu seraya menunjuk gambar Nayla dengan tongkat di sampingnya.

“Iya Bu, dia mengalami kecelakaan, kedua orangtuanya meninggal. Kasihan dia Bu. Apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya?” Dika mencoba mencari solusi pada ibunya.

“Hmmm Ibu rasa dia butuh teman, temani saja dia saat sendirian, ibu rasa itu sudah cukup menunjukan kalau kamu peduli.” Jawab Ibu mengelus kepala Dika penuh kelembutan.

Dika mengangguk mengiyakan.

“Oh iya Dika, tadi Dimas kesini mencarimu, katanya akhir-akhir ini kau sulit ditemui.”

Aah iya, aku hampir melupakan Dimas. Pikir Dika.

Dimas adalah teman Dika sejak kecil, ia banyak membantu Dika dalam segala hal. Akhir-akhir ini Dika lebih sering pergi ke taman untuk melihat Nayla dibandingkan main dengan Dimas.

“Iya Bu, nanti Dika pergi menemui Dimas.” Dika tersenyum.

“Baiklah sekarang kamu istirahat yaa” Ibu menyelimuti Dika, kemudian berlalu. Belum sempat pintunya tertutup, Ibu kembali masuk, ada yang terlupakan.

“DIka, kamu juga tidak lupa kan jadwal di bulan depan?” tanya ibu mengingatkan.

Dika menggeleng, “tidak Bu, aku tidak lupa.”

Ibu tersenyum lalu menutup pintunya. Sedangkan Dika, ia mulai menarik napas panjang dan memperhatikan lonceng digenggamannya.

Hhhhhhh, waktu cepat sekali berlalu. Batin Dika.

  • view 42