Unpredictable #3

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Oktober 2017
Unpredictable #3

Selepas Ashar, Nayla sudah bersiap untuk pergi ke taman lagi. Dalam hatinya, ia ingin bertemu dengan tuan misterius pemberi cokelat hangat kemarin, berharap ada percakapan di antara mereka.

“Udahh cantik gitu, pasti mau ke taman lagi ya Neng?” Bibi Lin menyapa dari dapur.

“Iya Bi, biasa cari udara seger…” jawab Nay.

Bibi Lin tahu, Nay bukan hanya sekadar mencari udara segar, lebih dari itu, taman yang sering dikunjungi Nay adalah taman dimana masa kecilnya yang membahagiakan pernah ada di sana. Taman itu dipenuhi dengan memori bersama ayah dan ibunya.

“Gak takut Neng? Nanti kalo ada yang nyegat lagi gimana?” tanya Bibi Lin sedikit khawatir.

“Nggak akan ko Bi, kemarin yang nyegat juga baik ko kayaknyaa..” Nay mulai tersenyum sendiri mengingat kejadian kemarin sore.

“Duh Neng, orang zaman now mah jangan gampang dipercaya ah takut..” kata Bibi Lin menirukan gaya pembicaraan anak-anak sekitar kompleks.

“Si Bibi makin gaul aja sekarang, iya Bi InsyaAllah nggak ko. Ayo atuh Bibi mau ikuut?”

“Sebentar Neng, Bibi mau angkat jemuran dulu, nanti atuh Bibi nyusul ke sana yaaa.”

“Oke Bii… Nay berangkat dulu yaa Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam….”

Nay berjalan, menyusuri tiap-tiap sudut jalan, sudut yang tak seincipun tak meninggalkan jejak kenangan.

“Neng Naylaaa… mau ke taman Neng?” Sapa Pak Badri penjual bunga di pinggir jalan. Bapak itu sudah 20 tahun berjualan bunga di sana, sudah cukup tahu bagaimana perjalanan Nayla dari yang selalu lalu lalang dengan ayah ibunya, kadang hanya berdua dengan sang ayah, dan kini hanya sendirian.

“Iya Paaak, seperti biasa…” jawab Nayla sumringah.

“Wahh, lagi seneng ya Neng, ini biar Neng makin ceria bapak kasih bunga mawar putih”

“Wahh bapak baik bangett… makasih ya Pak.”

“Sama-sama Neng..”

Wajah Nay kali ini memang berbeda dari biasanya. Wajah yang seringkali tampak murung kini sedikit lebih merekah. Nay berupaya untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, ia yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi padanya sudah takdir Tuhan. Selain itu, hari ini ia dipenuhi debar yang tak biasanya, seolah dia akan segera dipertemukan dengan kebahagiaan.

#

Darrrrrrrrr…. Bibi Lin mengagetkan Nayla yang sedang mendengarkan lagu sambil memegangi mawar yang diberikan Pak Badri.

“Bibiiiii, ngagetin ih..”

“Hehe maaf Neng, soalnya Neng serius banget sih, sampe gak sadar Bibi dateng. Dapet bunga dari siapa Neng? Cieeeee”

“Lagi dengerin lagu Bii jadi suara kakinya Bibi ga kedengeran. Ini bunga dari Pak Badri, Lah ko malah cieeee..”

“Bibi kira dari yang nyegat Neng kemarin…” jawab Bibi Lin tersenyum, tapi bukan ke arah Nay, melainkan pada laki-laki yang berada di sampingnya.

“Yehh mana ada Biii.”

“Neng, Bibi bawa temen baru buat Neng.”

“Siapa Bi?”

“Ini ada yang duduk di samping Bibi, namanya Den Dika. Usianya sebaya sama Neng. Den Dika ini yang kemarin ngasih minuman cokelat ke Neng.”

“Oh, jadi kamu DIka, hai Dika.” Sapa Nay sambil melambaikan tangannya ke arah samping.

Dika melambaikan tangan, “Hay, Nay.” Suaranya tercekat, sedikit memaksakan.

Nay sedikit bingung, namun Bibi Lin segera menjelaskan sembari memegang tangannya. “Neng, Den Dika ini tunarungu, dia ga bisa denger juga kesulitan bicara. Den Dika biasanya menggunakan bahasa isyarat buat berkomunikasi dengan orang. Tapi, mungkin akan sulit dengan Neng.”

Nayla menutup mulutnya, ia menyadari alasan kenapa Dika diam saja saat memberikan minuman itu.

“Oh maaf, Nay gak tahu. Bi, bilangin Dika makasih sama minumannya yang kemarin.” Pinta Nay pada Bi Lin, karena dia bingung harus bagaimana.

Bibi Lin kemudian menulis pada notes yang diberikan Dika.

Den Dika, kata Neng Nayla terima kasih minumannya.

Bibi Lin mengembalikan notes itu, kemudian Dika membacanya dan menganggukan kepala sambil tersenyum.

Sama-sama Bi. Bi, Nayla sedang mendengarkan lagu apa?

“Sama-sama katanya Neng. Den Dika bilang Neng sedang mendengarkan lagu apa?” Tanya Bibi Lin pada Nay menuruti permintaan Dika.

“Lagu Akad dari payung teduh Bii.” Jawab Nay singkat. Sebenarnya ia sibuk dengan berbagai macam pikiran tentang DIka, ia ingin tahu banyak hal, namun menahannya.

Lagu akad dari payung teduh Den.

Ooh Dika membentuk huruf O dengan mulutnya. Kemudian ia menulis lagi.

Bi, DIka mau menggambar Nay. Tapi jangan dulu bilang Nay ya Bi.

Bibi Lin tersenyum kemudian mengangguk.

Iya Den, Bibi pergi dulu, titip Nayla di sini.

Bibi Lin memberi kesempatan bagi mereka untuk mengenal satu sama lain. Entah bagaimana caranya, Bibi Lin rasa mereka sudah cukup dewasa untuk bisa mengatasi kesulitannya masing-masing.

“Neng, Bibi gak bisa nemenin lama-lama yaaa, nanti Neng pulangnya jangan malem-malem. Masih ada Den Dika juga di sini. Ini ada kertas sama pulpen kalo Neng mau bilang sesuatu sama Den Dika.” Bibi Lin pamit sambil memberikan kertas dan pulpen milik Dika.

“Iya Bi, makasih yaa Bii hati-hati…” Nayla tersenyum.

“Iya Neng.” Bibi Lin pergi menjauh dan melambaikan tangan pada Dika.

#

Sudah 30 menit , Nay bergeming. Dia bingung. Lagu favoritnya bahkan menguap begitu saja, tak bisa ia nikmati. Ia hanya memainkan kelopak bunga, sambil berpikir apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu bahwa laki-laki di sampingnya tengah asyik bermain dengan kertas dan pensil, memerhatikannya dengan seksama, tak ingin sedikit pun keindahan terlewati.

Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan? Bagaimana dia tahan dengan keterdiaman? Pikir Nay.

Nay sudah tak tahan lagi. Ia mengeluarkan kertas dan bolpoin yang diberikan Bibi Lin tadi. Meskipun ia tak bisa melihat, ia tahu bagaimana caranya menulis.

Dika, menghadap kepadaku.

Dika yang asyik memberikan sentuhan terakhir pada karyanya sedikit kaget karena Nay tiba-tiba memberi secarik kertas. DIka menuruti perintah Nay. Ia menghadapkan wajahnya ke arah Nay.

Nay melambaikan tangan di antara wajahnya dan wajah DIka, perlahan lambaian tangannya semakin mendekat ke arah Dika. Daaaaaaaaaaan lambaian tangan itu menyentuh topi yang dikenakan Dika.

“Aaah kau ternyata memang benar-benar ada.” Nay tersenyum, ia berbalik menghadap lagi ke depan, kemudian melepaskan gantungan lonceng yang ada pada tasnya.

Nay kembali menuliskan sesuatu di kertas.

Dika, lonceng ini untukmu, besok-besok jika kau datang lagi bunyikan ini untuk memberitahuku. Aku pulang hari ini. Terima kasih sudah mau berteman denganku.

Nay memberikan kertas dan gantungan lonceng miliknya pada Dika. Kemudian ia berdiri, tersenyum dan melambaikan tangan.

Kali ini, di sepanjang jalan, Nay tidak bergumam menyanyikan lagu kesukaannya. Ia sibuk berpikir.

Bagaimana selama ini Dika menjalani hidupnya? Bahkan ia tak bisa mendengarkan lagu sepertiku apa dunianya tak hampa? Ah, aku saja ketika tak bisa melihat merasa duniaku benar-benar gelap.

Nay sebenarnya sedikit kecewa, orang yang ditemuinya tak sesuai harapan. Bukan, bukan karena ia mengharapkan kehadiran pangeran tampan yang kemudian akan menyanyikan lagu kesukaannya, ia tahu itu hanya khayalannya semata. Ia hanya bingung bagaimana ia bisa berbagi perasaan tanpa bicara? Ia ingin bertemu dengan seseorang yang bisa mendengarkan ceritanya, sudah cukup lama, ia memendam segalanya sendirian. Tapi bagaimana ia bisa bercerita dengan Dika? Akan terasa sulit. Meski begitu, ia juga senang bahwa benar selama ini ada yang memperhatikannya.

Terima kasih Dika, semoga lonceng itu bisa bersuara bagimu.

  • view 46