Unpredictable #2

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Oktober 2017
Unpredictable #2

Dika sama sekali tidak menyadari bahwa kakinya menjadi penyebab kegaduhan. Dia terlalu asyik mengamati seorang gadis. Berbalut cardigan panjang warna pastel serta jilbab berwarna pink, gadis itu duduk di ujung kursi kayu panjang, sedang ia duduk di ujung lainnya. Bersisian. Sudah satu minggu Dika memperhatikannya. Dia seperti sedang merasa sebuah perasaan aneh, perasaan yang tak bisa ia terjemahkan –rindu. Akhir Februari tahun lalu adalah kali pertama Dika menemukan gadis itu, sendirian, wajahnya penuh sendu. Dika ingin bertanya kenapa, tapi ia tak bisa. Ia menahannya. Hingga di bulan-bulan berikutnya ia tak pernah lagi menemukan gadis itu.

Dika memperhatikan lamat-lamat wajah gadis itu dari kejauhan. Cantik, tanpa riasan. Bibir mungilnya sedari tadi terlihat seperti mengulang-ngulang kalimat yang sama. Dika penasaran, lagu apa yang membuat gadis itu bisa tersenyum dan meresapi setiap kalimat yang ia ucapkan. Dika memperhatikan gerak bibirnya. Sayang, ia tak bisa memahami.

“Andai aku bisa mendengar.” Batin Dika tiba-tiba mengeluh.

Iya, Dika adalah seorang tunarungu moderate hearing losses, ia kehilangan daya pendengaran 31-60 dB, daya tangkapnya terhadap suara cakapan manusia hanya sebagian, itu pun harus dalam jarak dekat. Ia mengalami hal tersebut sejak usia 7 tahun. Beruntung, Dika dilahirkan dari keluarga yang berada, pun kedua orangtuanya sangat menyayangi DIka sehingga ia tidak merasa diabaikan.

Penderita tunarungu seperti Dika memang memerlukan perhatian khusus. Meskipun ia dibantu oleh alat bantu dengar, tentu kehidupannya dipenuhi kesulitan. Selain kesulitan dalam mendengar, Dika pada akhirnya juga kesulitan dalam berbicara, hal itu terjadi karena kemampuan mendengar dan kemampuan berbicara memiliki hubungan yang spesifik. Ketajaman pendengaran sangat memengaruhi proses perkembangan bicara dan bahasa. Seorang anak tunarungu akan mengalami hambatan yang cukup berat dalam hal ini karena proses peniruannya hanya terbatas pada peniruan visual. Pun hal tersebut terjadi pada Dika, meskipun ia banyak menerima edukasi yang baik, perbendaharaan kata yang ia miliki tentu terbatas tak seperti kebanyakan anak lainnya. Ia memiliki kesulitan dalam memahami irama dan gaya bahasa, terlebih ia juga belum familiar dengan perasaan-perasaan yang kerap di luar nalar manusia. Suatu perasaan yang melampaui imajinasi, memiliki lebih banyak deskripsi dibanding definisi harfiahnya –Cinta.

Dika, meskipun memiliki kekurangan, ia bisa dibilang cukup tampan. Ia seorang yang perhatian dan penuh kasih sayang. Ia juga orang yang pantang menyerah untuk belajar. Terbukti, kini ia sudah menguasai bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sayangnya, Dika juga seorang yang sedikit emosional ketika tak bisa mengekspresikan perasaannya. Bagaimanapun, kadang ia merasa ada berada pada titik merasa lemah dan tidak bisa apa-apa. Seperti sekarang ini, saat dia sebenarnya tidak mengerti apa yang dia rasakan, saat dia hanya ingin menunjukan rasa perhatian seperti bagaimana oranglain menunjukan rasa peduli padanya ketika ia sedih, saat itu pula dia tahu pada gadis di sampingnya ini bahkan dia tak bisa menggunakan kemampuannya dalam bahasa isyarat. Membuatnya frustasi.

Lamunannya terhenti.

“Apa aku ketahuan?” pikir Dika.

“Sepertinya dia sedang menoleh ke arahku, aku harus bagaimana? Apa aku pergi saja? Ah tidak, lebih baik aku di sini, hari sudah mulai gelap. Kasian jika dia sendirian.” Dika berdialog dengan dirinya sendiri, mondar-mandir terlihat seperti orang bingung. Daaan, lagi-lagi kakinya membuat gaduh tanpa ia sadari.

“Setidaknya ajak aku bicara, daripada hanya diam, membuat gaduh, lalu pergi.” Gadis itu mengajaknya bicara.

 “Apa yang dia katakan?” Pikirnya, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Sssssttt” ia menyimpan jari telunjuk di bibirnya. Ia berjinjit, pergi mengendap-endap, khawatir gadis itu benar-benar menyadari keberadaannya. Ia sedikit menjauh, namun tetap memperhatikan.

Sekarang Dika berjongkok di bawah pohon. Cukup jauh dengan keberadaan gadis itu. Di sampingnya ada penjual minuman hangat.

“Pasti gadis itu merasa dingin.” Pikir Dika. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli minuman tersebut.

“Mang, sa-ya ma-u be-li du-a.” Pinta Dika pada penjual tersebut menggunakan bahasa isyarat.

“Rasa apa Den?” Tanya sang penjual sedikit bingung bagaimana berkomunikasi dengannya, kemudian ia menunjuk semua toples berisi bubuk minuman yang ada.

Dika menimbang-nimbang, karena ia menyukai rasa cokelat, ia juga membelikan gadis itu rasa yang sama.

Dika menunjuk kotak berisi bubuk cokelat pada sang penjual.

“”Baik Den, tunggu sebentar yaa.”

Dika mengangguk.

#

Sekarang di tangannya tersisa satu cup cokelat hangat, Dika mulai bingung bagaimana cara memberikannya. Gadis itu takkan menyadari jika ia hanya mengulurkannya tanpa mengatakan apa-apa.

Pegang tangannya? Memikirkannya saja Dika sudah gemetar. Bahkan selama ini tak ada lawan jenis yang memegang tangannya selain ibu.

“Bagaimana iniiiii” Dika membatin, menggigit ujung kukunya. Tangannya mulai berkeringat.

Dika maju lima langkah, mundur tiga langkah. Ragu. Terus seperti itu hingga jaraknya tinggal sepuluh langkah lagi. Dika kaget karena gadis itu mulai berdiri. Mundur sudah tidak mungkin bagi Dika. Ia mulai mendekatinya. Menarik napas panjang, tanpa bersuara. Dika ambil perlahan tangan kiri gadis itu dan memberikan satu cokelat hangat yang sedari tadi ia genggam. Hanya hitungan detik, kemudian ia pergi menjauh.

Dika sampai di teras rumahnya. Napasnya sedikit terengah. Wajahnya memerah. Jantungnya berdegup kencang.

“Perasaan macam apa ini.” Dika mulai melamun, ia memerhatikan tangannya yang tadi menyentuh gadis itu. Ada perasaan bersalah. Ibunya dulu sempat menjelaskan bahwa ia tak boleh menyentuh perempuan yang belum jadi miliknya. Ia tak tahu alasannya, ia hanya seorang yang patuh dan mengikuti apa kata Ibu, perempuan paling sabar yang mengajarinya banyak hal.

“Maaf…” bisik Dika dalam hatinya.

Dan, Dika menantikan hari esok. Berharap ia bisa tahu lebih banyak tentang gadis itu. Namanya mungkin?


sumber gambar : <http://www.unpredictable.info/project/art-of-improvisers-extended/>

  • view 187