Unpredictable #1

Unpredictable #1

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Oktober 2017
Unpredictable #1

Bila nanti saatnya tlah tiba

Ku ingin kau menjadi istriku

Berjalan bersamamu, dalam terik dan hujan

Berlarian ke sana kemari dan tertawa

 

Nayla bergumam sambil sesekali mengayunkan kaki, menikmati alunan lagu yang keluar dari headphone biru langit miliknya, headphone yang selalu menemani kesepian Nay –begitu dia akrab disapa. Sudah 7 tahun, setiap senja di bulan Februari, Nayla akan terdiam sendirian hingga hari tampak gelap baginya, atau setidaknya hingga dia mulai merasa kedinginan. Ia betah duduk berlama-lama di taman yang sudah tak sering lagi dikunjungi ini. Maklum saja, Bandung kini sudah dipenuhi banyak taman dengan desain menarik, cocok untuk mengabadikan momen. Tapi bagi Nay, taman dekat rumahnya ini memiliki makna yang lebih dari sekadar mengabadikan momen, tak ada yang lebih abadi dari momen dalam ingatannya. Air mancur yang tepat berada di hadapannya sudah tak berfungsi, daun-daun kering yang berserakan pasti menimbulkan gaduh jika saja terinjak orang. Perlu menunggu 5 hari lagi sampai petugas kebersihan datang, membuat Nay harus merasa awas setiap kali ada suara bising yang mengganggunya.

Bagi Nayla, musik dapat merefleksikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Dunianya seakan berwarna dalam keadaan yang ia rasa selama sepuluh tahun ini lebih banyak gelap. Akhir-akhir ini Nay sedang menyukai satu lagu, bahkan memutar puluhan kali pun tak membuatnya bosan –Akad. Nay memang sedang dalam penantian, berharap kelak ada yang menyanyikan lagu itu untuknya.

Srekkkkkkkkkkkkkk sudah tiga kali ia mendengar suara daun kering yang terinjak.

“Setidaknya ajak aku bicara, daripada hanya diam, membuat gaduh, lalu pergi.” Nay membuka percakapan, ia rasa ada seseorang yang mengamatinya di ujung kursi kayu panjang itu.

Hening.

“Sudah berapa lama kau mengikutiku? Aku rasa bukan hanya kemarin dan hari ini.” Nay, masih dengan percaya diri merasa ada yang memperhatikannya.

Tetap hening.

Dia benar-benar pergi. Pikir Nay.

“hhhh,, Mana ada yang mau duduk bersamamu Nay... burung, itu buruung” Nay, berbicara dengan dirinya, menghibur diri lebih tepatnya.

Udara semakin dingin, Nay merapatkan jaket, berdiri dan bersiap pulang. Belum sempat dia melangkah, tiba-tiba ada yang memegang tangan kirinya dengan pelan, memberikan satu cup minuman cokelat hangat, kemudian menghilang sebelum Nay mengucapkan terima kasih.

“Cokelat hangat kesukaanku.”

Nay bergeming sejenak. Siapa?. Selama ini, selama dia duduk di tempat itu, ia tak pernah menerima apapun dari siapapun. Tangannya lebih besar dari tangan Nay, sudah pasti laki-laki, pikir Nay. Tangannya hangat, sedikit berkeringat. Ada sedikit bekas luka di ujung telunjuknya, mungkin teriris pisau. Nay mencoba mengingat segala hal tentang laki-laki ini. Sayang, laki-laki itu tak mengatakan apapun, Nay tak dapat mengingat suaranya.

#

“Assalamualaikum, aku pulang.”

“Waalaikumsalam Neng, baru mau bibi susulin, tumben hari ini pulangnya agak telat? Bibi khawatir.”

“Iya Bi, tadi dicegat orang.”

“Ya ampun Neng, Neng gak apa-apa kan? ”

“Nggak apa-apa ko Bi, kalo orangnya macem-macem ku pukul pake tongkat.”

“Si Neng bisa saja.. ya sudah sholat maghrib dulu Neng, nanti setelah isya Bibi siapkan makanan.”

“Siap Bi, makasih yaa Bibi sayaaaaang.” Bibi Lin hanya tersenyum sambil memerhatikan gurat-gurat kesedihan yang selalu tampak pada Nay.

Nay perlahan memasuki kamar, meskipun rumahnya sudah tak terasa asing, tapi tetap ia harus berhati-hati, ia tak ingin lagi menyusahkan Bibi Lin yang sudah merawatnya sejak kecil. Nay pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu, bersiap untuk menghadap Tuhan, menumpahkan tangis yang selama ini selalu ia bendung sendirian demi menahan rindu pada ayah dan bundanya.

“Neng makanannya udah siap..” Bibi memanggil pelan sambil mengetuk pintu.

“Iya Bi, sebentar..” Nay menyeka sisa air matanya. Meski sudah melewati beberapa tahun, yang namanya terluka tetap saja perih. Apalagi perihal kehilangan.

Sebelum ia beranjak keluar, ia memegangi cup yang tadi ia terima, menimbang-nimbang untuk membuangnya atau tidak.

Apakah besok kau akan datang lagi? Batin Nay.



Sumber gambar : <http://www.unpredictable.info/project/art-of-improvisers-extended/>

  • view 148