Tepat 100 Hari

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Oktober 2017
Tepat 100 Hari

Hari ini adalah genap 100 hari kau pergi.

Hari dimana aku masih tak ingin mempercayainya.

Hari ini adalah genap 100 hari yang terasa amat panjang, seperti aku telah melewati satu abad perjalanan.

Hari dimana yang aku tahu hanya kosong dan hampa

Dan, aku masih tak tahu bagaimana 100 hariku berikutnya.

 

Ibu, satu hari setelah kau pergi, hidupku sepenuhnya berubah. Jika kehilangan ayah membuatku kehilangan separuh jiwa, maka kehilanganmu membuatku merasa benar-benar hilang seutuhnya. Aku tahu ini tidak boleh. Dan aku berusaha melakukan pembuktian. Banyak orang yang berpikir hidupku baik-baik saja, aku tertawa, aku main, aku pergi kemana saja aku mau, sedikit dari mereka yang tahu tangisku. Aku masih memegang rumus itu, rumus dari ayah. “Jangan jadi anak cengeng, itu hanya akan membuat mereka yang tidak suka tertawa bahagia”.

Ibu, selama ini berat yaa menanggung beban sebagai seorang ibu? Kini aku merasakannya, meskipun mungkin belum separuhnya dari apa yang kau alami. Kau tahu? Belum genap 100 hari aku sudah banyak mengeluh, kemudian menyadari, banyak hal yang aku lewatkan bersamamu.

Ibu, ingatkah? Waktu aku kecil, saat ayah hobi pergi memancing di hari liburnya, aku selalu menanti kapan ia pulang karena itu berarti aku akan makan ikan goreng kecap masakanmu. Aku dan ayah sangat sangat sangat menyukainya. Tapi, setiap usai menggoreng terkadang ada bekas luka entah di tangan atau wajahmu, kau selalu mengoleskan pasta gigi disitu.

Aku kecil bertanya sambil mengelus tanganmu, “Bu kenapa?”.

 “Kena minyak tadi goreng ikan.” Katamu sambil tersenyum. Aku bertanya lagi, penasaran.

“Sakit gak?”

“Sakit, perih, tuh tangan ibu melepuh gini jadinya, makanya kamu jangan ikut-ikutan masak yaaa, main sama ayah sana.” Begitu katamu.

Aku menjadi seorang penurut sampai akhir. Aku menghabiskan waktu kecilku, bahkan hingga remaja bersama ayah.

Ibu memasak, aku lari pagi bersama ayah.

Ibu memasak, aku baca koran di teras rumah bersama ayah

Ibu memasak, aku isi TTS bersama ayah

Ibu memasak, sedang aku melakukan banyak hal bersama ayah.

Saat aku mulai beranjak dewasa, pun sama. Bukan aku tak mau membantu, tapi kau selalu sengaja selangkah lebih cepat. Hingga, terakhir kali kau bilang, keterampilan memasak itu nanti juga tumbuh sendiri, jadi aku tak usah risau.

Kegiatanku bersamamu di dapur boleh dibilang bisa dihitung jari, bahkan aku merasa asing dengan tempat itu. Kita hanya punya waktu bersama menjelang idul fitri untuk membuat kudapan, itupun pada akhirnya kau selalu menyerah dan bilang “ya sudahlah, beli saja”, ibuku yang lucu, berapi-api di awal tapi menyerah jika lagi-lagi gagal.

Begitulah kebersamaan kita Bu, terlalu singkat, ketika anak perempuan lain banyak menghabiskan waktu dan bercengkerama dengan ibunya di dapur, aku tak memiliki kesempatan itu. Kau memberikan waktuku lebih banyak pada ayah –seorang pria yang sangat menginginkan anak perempuan.

Sebenarnya aku ingin marah Bu, kau tahu? Kini aku seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tahu apa-apa. Yang aku tahu dulu kau begitu menyayangi aku sehingga tak ingin aku terluka, yang aku tahu kau merelakan waktu yang seharusnya ku habiskan bersamamu supaya lebih dekat dengan ayah, yang aku tahu cinta kalian begitu besar. Tapi Bu, bolehkah aku berlaku berbeda pada anakku nanti? Setidaknya, dia harus disiapkan, untuk keadaan yang paling buruk sekalipun, -sebuah kehilangan.

Kini, aku tahu Bu perih yang kau rasakan pada luka-lukamu. Tanganku sekarang memiliki bekas cipratan minyak. Sayangnya perih ini perih yang harus aku tanggung sendiri, yang tak bisa ku adukan padamu. Layaknya gadis lain yang belajar masak bersama ibunya, kemudian ibunya menertawai bekas luka itu, sedang aku hanya menertawakan diriku sendiri.

Ibu, kau pasti lelah bukan? Bangun pagi buta, terlelap setelah isya. Selalu seperti itu. Kau tak punya waktu untuk bercengkerama di malam hari karena kau sudah terlalu lelah. Bahkan ketika sakit, kau tidak mungkin untuk tidak melakukan apa-apa. Rutinitasmu tetap berjalan. Kini aku merasakan Bu, bagaimana lelahmu, bahkan lelahku ini belum seberapa.

Ibu, aku selalu kagum padamu, dulu kau layaknya super mom yang melakukan banyak hal dari pagi hingga petang. Ayah, meskipun terlihat kuat, dia tak bisa melakukan banyak hal sepertimu. Kau yang membersihkan halaman, kau yang memperbaiki genting rumah, kau yang membersihkan kamar mandi, kau, bahkan yang memperbaiki alat-alat elektronik yang rusak, ayah memang payah. Dan kini kau tahu? Aku ternyata sama payahnya dengan ayah. Aku belum bisa sepertimu yang bisa mengefektifkan waktu mengerjakan segala hal. Aku percaya pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling sulit dari pekerjaan manapun, belum ditambah dengan mendidik anak. Ibu, aku bertekad menjadi sepertimu, aku akan belajar dengan baik menjadi super mom!!

Ibu, dulu ku tahu kau pemegang kekuasaan penuh atas keuangan milik ayah. Ayah percaya, kau bisa mengaturnya dengan baik, pun ayah percaya bahwa ibu memegang prinsip susah senang bersama. Kau adalah wanita yang selalu habis-habisan mendukung ayah, aku seperti melihat sosok Khadijah pada dirimu. Dulu, yang ku tahu adalah menghabiskan uangmu dan ayah. Aku tak pernah tahu berapa besar biaya yang harus kau keluarkan, pun kau tak pernah bertanya berapa dan untuk apa uang yang aku habiskan. Kini Bu, aku tahu bagaimana rumitnya mengatur uang. Lagi-lagi, menjadi ibu rumah tangga itu rumit. Sejak saat itu, aku berpikir lagi untuk menikah muda. Bagiku menikah bukan hanya niat, tapi kesiapan dan kematangan.

Terakhir bu, mati lampu yang terkadang disertai petir dan hujan sebentar lagi akan datang. Aku harus bagaimana? Hidupku benar-benar sudah berubah sepertinya. Dulu, momen itu adalah momen yang mendekatkan kita bertiga, aku, kau dan ayah. Atau hanya aku dan kau saat ayah sudah pergi. Ketika aku takut petir dan hujan deras kau akan bilang “jangan takut, gak akan apa-apa, baca doa”, kemudian di momen itu, kau dan ayah akan bercerita dalam gelap. Tentang banyak hal. Tentang perjuangan cintanya kakek pada nenek, tentang kisah pertemuan kalian, tentang bagaimana tampannya ayah, tentang kisah hidup kalian yang memulai segalanya di titik nol, dan banyak haal lain. Bagaimana dengan mati lampu nanti yang akan datang? Rasanya aku hanya akan berusaha terlelap. Karena hanya terlelap, satu-satunya cara agar aku bisa melihatmu lebih lama, pelepasan rindu yang terasa nyata.

Begitulah bu, kehidupanku setelah 100 hari kepergianmu. Dipenuhi kegamangan dan rasa takut. Aku takut untuk mengandalkan orang lain, karena hakikatnya aku akan kecewa entah karena perpisahan, entah karena kehilangan. Oh ya Bu, maaf, dulu aku belum sempat membawakan seorang laki-laki baik seperti yang kau minta, katamu biar bisa menitipkan anak satu-satunya ini. Sampai detik ini aku belum menemukan Bu. Nanti, biar ku ajak dia pergi ke pusara ayah dan ibu, aku akan dengan lantang mengatakan dia laki-laki baik milikku. Tapi, nanti ya Bu, mungkin akan sedikit agak lama. Titipkan saja aku dulu pada Allah… Seperti katamu, satu-satunya yang harus aku andalkan adalah Allah kan, Bu? Semoga Allah tetap mau bersamaku Bu, aku tak ingin kehilangan Allah karena segala yang ku punya adalah milik-Nya, pun kau dan ayah, pun kehidupanku.

Beristirahatlah di sana dengan tenang Bu, bagaimana disana ayah? Apa kalian bertemu? Ah asyiknya, mungkin kalian di sana melepas rindu, sedang aku di sini hidup penuh rindu. Jangan khawatirkan aku, aku akan selalu berusaha menjadi wanita yang sholeha, agar doaku selalu sampai untukmu. Jangan khawatirkan aku, aku akan bertahan menjadi anak yang kuat. Akan aku pastikan tangisku hanya sampai ketika berhadapan dengan Allah, hingga kelak aku bertemu dengan seseorang yang mau berbagi tangis bersamaku. Big love for you, Mom and Dad.

14 Oktober 2017


sumber gambar: <https://bunga-mawar.com/2017/05/10-gambar-mawar-hitam-putih-keren.html>

  • view 56