Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 7 Oktober 2017   08:32 WIB
Idealis (?)

Aku meyakini, dan mungkin banyak orang juga meyakini bahwa hidup itu pilihan. Dan tiap-tiap orang sudah semestinya bertanggungjawab atas pilihan itu, bukan?

Flashback beberapa tahun ke belakang, menurutku masa menjadi mahasiswa adalah masa kejayaan idealisme. Bebas mengkritik berdasar atas berbagai latar belakang ilmu yang mereka miliki. Mengkritisi media yang menayangkan program-program tak berpendidikan, yang hanya mengejar rating. Mengkritisi perusahaan-perusahaan yang tak memiliki kepedulian sosial. Mengkritisi pemerintah yang lalai dalam kinerjanya disana sini. Ya, kurang lebih seperti itu. Mereka menikmati peran sebagai agent of change, katanya. Pun, aku demikian.

Masa menjadi mahasiswa juga menjadi masa yang penuh dengan impian. Masuk perguruan tinggi seolah menjadi pintu gerbang menuju kehidupan yang setidaknya dapat lebih baik dengan kehidupan yang sebelumnya pernah mereka jalani. Meski tak banyak dari mereka juga masih bingung hidupnya mau dibawa kemana. Like me, maybe. Selama 4 tahun kuliah, selama itu pula mimpiku berubah-ubah. Pengen kerja di media, pengen kerja di bank, pengen kerja di perusahaan geuuudeee, pengen jadi peneliti, pengen jadi penulis, pengen jadi konsultan, pengen punya usaha. Dann pengen-pengen yang lain hingga aku lupa.

Setelah aku mendapatkan banyak pengetahuan, setelah aku terjurumus pada banyak idealisme, aku semakin gamang menjalankan hidup. Ada semacam perang batin terhadap mimpi-mimpiku yang sebelumnya ada. Sebenarnya aku harus kemana? Ah, mulai saat itu, aku memilih untuk mengikuti hati nurani. Meski aku tak tahu sampai batas mana hati nurani ku bisa bertahan ketika berbenturan dengan kebutuhan ekonomi.

Ketika aku lepas menjadi seorang mahasiswa, kegamangan itu mulai semakin nyata. Perang batin terjadi setiap kali ada hal menggiurkan di depan mata, tapi tak sesuai dengan hati nurani. Dan, aku masih dengan “idealis” –istilah yang mereka gunakan, memilih hati nurani. Hidup itu pilihan bukan? Bahkan jika itu bertentangan dengan teman-temanku, cukup “hidup itu pilihan” menjadi sebuah prinsip yang tak boleh diruntuhkan dengan sebuah judgement dari orang lain. Jika ada yang bertanya-tanya mengapa, maka biar aku perjelas. Ada sebuah ketakutan yang selalu menyerangku setiap hari.

Sejak Allah memanggil ibu –satu-satunya alasanku untuk pulang, dunia ku seakan berhenti. Seolah ada pertanyaan, lantas aku harus membahagiakan siapa? Bagaimana membuat ayah dan ibu bahagia? Bagaimana membuat ayah dan ibu bangga? Baktiku untuk ayah dan ibu kemudian harus seperti apa? Dalam bentuk apa? Apa dengan hanya menjadi orang kaya dan mencapai mimpi, ibu dan ayah ku akan baik-baik saja di sana? Ku pikir, tidak sesederhana itu, Allah punya aturan yang tak bisa ku abaikan.

Ada tiga perkara yang akan menolong orang yang sudah meninggal. Pertama, amal jariyah. Kedua, ilmu yang bermanfaat, dan ketiga adalah doa anak yang soleh. Sebuah nasehat yang selalu terngiang, aturan yang sudah sangat jelas. “doa anak yang soleh” adalah satu-satunya jalan yang bisa aku capai untuk tetap berkomunikasi dengan ayah dan ibu, “doa anak yang soleh” adalah satu-satunya bakti yang bisa ku berikan untuk mereka. Masalahnya, apa aku sudah bisa dinyatakan anak yang soleh? Bagaimana jika nyatanya doa-doaku selama ini tidak sampai pada mereka? Bagaimana jika pilihan yang aku ambil menjadi penghalang doaku sampai pada mereka? Bagaimana jika mereka mendapatkan hukuman atas pilihan yang aku ambil? Bagaimana jika mereka yang harus bertanggungjawab atas kelakuanku di dunia ini? Pertanyaan-pertanyaan bagaimana ini membuatku ketakutan. Membuatku berpikir 3 kali lebih lambat untuk memutuskan banyak hal.

Sebenarnya, aku tak ingin disebut idealis, karena nyatanya aku tak seidealis itu. Aku, juga realistis. Hanya saja, Aku juga memilih apa yang hati nurani ku katakan. Sudah cukup bagiku menjadi beban bagi kedua orangtuaku di dunia, setidaknya aku tak menjadi beban pula bagi mereka di akhirat.

Begitulah sebuah pilihan dalam hidup, mari saling menghormati, tanpa perlu saling menjudge. Kita tidak saling merugikan ketika memilih pilihan masing-masing sehingga seharusnya tak perlu ada yang dipermasalahkan. Karena, aku percaya, setiap pilihan diambil berdasar sebuah proses panjang yang tak mudah.

Sumber gambar: <https://daily.oktagon.co.id/10-tips-memotret-foto-hitam-putih-nan-dramatis/>

Karya : Puji Astuti