Pejantan Tangguh #1

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 September 2017
Pejantan Tangguh #1

Suasana kelas selalu saja riuh.Hanya dosen dengan status “killer” saja yang mampu membuat mereka tenang.Suaraku yang hanya berbisik ”Ssssssssstttt” tak akan berefek. Jadi, ku biarkan saja.

“Risoooool Risoooool, ayo pada laperkan? Pada belom sarapankan?”

“Eh gue mau doooong, laper sumpah, tapi ngutang dulu yak siang gue bayaar.”

Di dekat pintu ada mahasiswa yang sedang melakukan transaksi jual beli. Di sudut lain, para cowok sedang asyik membicarakan tentang organisasi, di sampingnya banyak cewek sedang membicarakan make up serta selebgram, sedang kumpulan di sampingku memperdebatkan tempat makan nanti siang.

“Mau makan apa?”

“Pengen ayam serundeng.”

“Serundeng weh unggal poe.”

“sirik aja luuu.. kamu mau apa?”

“Mau ayam cah kangkunglah”

“Ya udahlah yaaa pokoknya di kantin tetangga sebelah.”

“Ke bawah aja yuk ihhh” .Satu orang cowok nyempil tiba-tiba ambil suara.

“Mau apa atuh ke bawah ih cape. Bawa motor tapikan?” Kataku.

“Ngga, berat bawa mah.”Krik krik, aku dan teman-teman lain mikir.

“Kalo mengendarai, iya, gak akan cape. Kan berat kalo dibawa. Anterin ih mau ngambil duit.”

Candaan garing cowok ini disambut dengan tawa terpaksa.

“Ketawa jangan?” Si Yoona kw menimpali.

“Ya udah makannya mah di kantin tetangga weh atu masa naik motornya dempet lima.” Kataku lagi ingin segera mengakhiri perdebatan soal tempat makan ini.

“Iyeee.”

Begitulah sekilas percakapan geng ga jelas kalau menentukan tempat makan.

Kegaduhan berhenti sejenak ketika sang ketua kelas abadi datang.

“Guys dosennya gak ada.”

“Serius lu, jangan becanda ga lucu.”

“Serius, nih gue dapet WA.”

Seketika kelas gaduh kembali, anak-anak mulai bersorak sorai. Adanya proyektor kemudian dimanfaatkan anak-anak untuk menonton film bersama di dalam kelas.

“Running Maaaaaaan”

“Ihhh jangan, apaan siih ga ngertiiii.”

“Lucu tauuuuuu”

“Gak Mauuuuuu.”

“Ya udah, ya udah film Indonesia aja ya biar adil.” Sang Dewi menengahi, dia memilih film Petualangan Sherina.

Kemudian si Yoona kw mulai beraksi, joged-joged sendiri meniru gaya Sherina.

Kadang aku tak bisa membedakan, ini kelas kuliah apa kelas anak TK. But trust me, It’s fun!!!

-PRAAAAAAAAAAAAAAANG-

“Issssshhhh ga bisa liat orang tenang sedikit.” Gumamku kesal

Suara tikus di dapur membuyarkan lamunanku.

Mengingat sebagian memori tentang betapa menyenangkannya kehidupan kampus menjadi rutinitasku sehari-hari ketika sepi menyeruak. Kampus, tempat dimana aku kadang sangat kesal dengan kelakuan orang-orang di dalamnya, namun tempat yang juga aku rindukan sekarang.

Dulu, aku adalah seorang pengecut manja yang ketika pertama kali masuk kampus selalu rindu rumah. Setiap minggu aku pulang di saat banyak orang memanfaatkan waktunya untuk berorganisasi dan melebarkan sayap pengalamannya. Aku masih gelendotan manja sama pacar, kemana-mana selalu di antar. Nyebrang gak bisa, bahkan sampai sekarang. Pulang pergi rumah kampus ya kalo gak bareng pacar, pasti ada kakak. Gak suka naik bis, apalagi elf, tapi kalau kepaksa, tapi kalau sama pacar, masih mau-mau aja, merasa aman. Duh maafkan aku yang dulu.

Pada akhirnya kehidupan manjaku perlahan harus berubah. Aku sadar, aku tak bisa selalu mengandalkan orang lain, termasuk kakakku sendiri. Banyak yang berubah di antara kami, setidaknya tak seperti saat aku masih kecil. Kami sudah disibukkan dengan dunia pribadi, jarang berkabar, membuka percakapan juga jadi terasa asing, kalau bukan hal penting maka kami menjadi saling diam. Aku gak tahu letak salahnya dimana, mungkin ada padaku, tapi aku memang tipe orang yang tidak akan bercerita jika tidak ditanya, dan ketika kakakku tak bertanya apa-apa, ya sudah. Ketika ayah pergi, aku sadar aku harus semakin dewasa. Segalanya semakin berubah ketika satu-satunya yang aku andalkan di tempat rantauan juga memilih pergi meninggalkan. Pacar. Kau tahu rasanya hancur disaat bersamaan?

suasana kelas dan kampuslah menjadi segala pelipur di antara banyaknya rasa sedih yang ku rasa. Apa aku harus hancur hanya karena patah hati? Ku rasa tidak. Kalau dulu aku baik-baik aja sebelum ada dia, maka seharusnya sekarang juga demikian. Pikirku saat itu.

Seiring berjalannya waktu, semakin dewasa, tapi tak lantas membuatku bisa benar-benar tidak manja. Untungnya aku punya dua sahabat baik, para pejantan yang udah aku anggap sebagai kakak sendiri. Namanya Alwi dan Izki. Dua orang ini, dari segi penampilan dan kelakuan selalu bikin aku greget, kalo deket mereka ada aja yang pengen aku komentari. Tapi, sikap dan cara mereka memperlakukan orang lain membuatku menganggap bahwa mereka adalah sahabat yang keren.

Tentang Alwi

Alwi, awalnya aku tidak begitu dekat dengannya. Dia satu-satunya pria perokok di kelas, dan aku benci perokok. Namun, ternyata ada banyak momen yang mendekatkan aku dengannya sebagai teman. Aku masih ingat, dulu aku pertama kali berani chat dia untuk bertanya tentang hipnosis dan fobia pada gunung. Saat itu aku ingin sekali menggali ingatan tentang kakak pertamaku, kakak yang aku rasa aku ingat wajahnya, namun samar. Aku rindu dengan rupa tampannya yang selalu dikenang oleh ibu, aku ingin memastikan lagi bahwa wajah yang ku ingat memang wajahnya, ia tak suka difoto, bahkan kami tak memiliki potretnya. Itu pertama kalinya aku berani bercerita pada orang baru tentang permasalahanku fobia pada gunung sejak kejadian kakakku. Sejak saat itu, aku dan Alwi mulai akrab, Kami pernah satu kelompok bersama, nongkrong bersama, main bersama hingga akhirnya kadang aku menjadikan dia sebagai tempat mencari masukan.

Alwi, dulunya anak pesantren. Pengetahuan agamanya tentu lebih banyak dari aku. Dia orang yang sangat sederhana dalam tampilan, tapi sangat rumit dalam pemikiran. Dia punya mimpi melanjutkan pendidikannya di bidang Antropologi, dia punya mimpi menjadi presiden RI. Dia orang yang keras, tegas, kadang juga bisa menjadi egois. Cara berbicaranya sangat teratur, suaranya lantang. Setiap kali aku presentasi, yang aku khawatirkan adalah mendapat pertanyaan rumit darinya, sedang satu kelompok dengannya menjadi suatu keuntungan karena aku bisa menjadikannya tameng.

Alwi adalah seorang aktivis kampus. Kiprahnya di organisasi tidak main-main. Bahkan mungkin dia lebih mencintai organisasi dibanding kelasnya sendiri. Ketika harus satu kelompok dengan dia dalam perkuliahan, siap-siaplah dengan kesibukannya yang akan sulit diminta kerja kelompok. Kurang-kurangnya mah kalo gak sabar kalian hanya akan darah tinggi. Keberadaan dia selalu dicari karena menghilang di saat genting tugas kampus. Lucu kalau diingat-ingat ekspresi kesal teman-teman yang kelimpungan mencari orang-orang macam Alwi ini.

Kami dekat bukan berarti tak pernah ada masalah. Kami kadang berbeda pendapat, entah itu dalam tugas kelompok, organisasi atau dengan diskusi aktivitas sehari-hari, salah satunya tentang rokok. Aku sering memarahi dan mengingatkannya tentang bahaya merokok, tapi dia sangat keras kepala dan memiliki seribu alasan untuk menyangkal setiap saran yang ku beri. Aku menyerah jika harus berdebat dengannya. Ada satu hal lagi, momen dimana aku rasanya benar-benar kesal dan juga takut karena tingkahnya. Pernah ada satu forum dimana kelas sempat memanas karena sesuatu hal, ia sebagai leader di kelas saat itu mengambil sikap dan mengutarakan unek-uneknya, disitu dia sempat membentak. Aku tahu pasti bahwa bentakannya digunakan agar teman-teman yang sibuk sendiri mau mendengarkan,tapi aku benar-benar gak suka dengan bentakan. Di luar forum, aku masih terbawa kesal dengan sikapnya hingga aku komplain.

“Wiiiiiiii, bisa gak sih kalo ga usah pake bentak?”

“Ya udah sih mau gimana, lagian juga kan aku ga maksud bentak kamuuu.”

“Terserahlah”, aku mendengus saja tak ingin berdebat. Aku pasti kalah.

Begitulah Alwi. Ia telah banyak menerima tempaan yang keras dari didikan sang ayah juga pendidikannya di pesantren. Didikan tersebutlah yang membuatnya juga selalu berpegang teguh pada prinsip yang ia yakini. Namun perlu kalian tahu, dibalik sosoknya yang keras, dia juga memiliki sisi lembut. Alwi adalah seorang kakak, dia anak pertama. Aku lupa dia punya berapa adik, yang pasti dia punya adik perempuan yang tinggal di pondok. Alwi mengaku bahwa dia bukan kakak yang bisa mengekspresikan rasa sayang terhadap adiknya. Alwi kerap bingung untuk menjalin komunikasi yang baik dengan adiknya. Dia kadang merasa menyesal jika ia bisa dijadikan tempat bercerita bagi orang lain, tapi tidak bagi adiknya. Dia ingin sesekali adiknya bercerita tentang kehidupan di pondok, dia ingin sesekali menceritakan bagaimana peliknya kehidupan di kampus, bagaimana pengalaman dan perjalanan hidupnya di tempat rantauan. Aku ingat sekali apa yang ia katakan saat itu yang membuatku tersentuh.

“Aku akan merasa gagal, jika aku tidak menjadi siapa-siapa di masyarakat, dan terlebih untuk keluargaku, dan adik-adikku, aku akan merasa bersalah jika tidak bisa menjadikan adikku sendiri menjadi seseorang dan membantu mewujudkan mimpinya.”

Dari percakapan dengannya, aku tahu bahwa setiap kakak pasti peduli, entah seperti apapun wataknya, mereka punya cara tersendiri.

Alwi. Alwi si perokok, si susah diatur, si rambut gondrong, si tukang narik jendolan rambut, si keras kepala, si kritis, si tukang ngejek, si tempat curhat,daaaan sisi sisi lainnya yang ada di kamu. Terima kasih.

Terima kasih sudah menjadi teman dan kakak yang baik di tanah Padjadjaran. Terima kasih atas nasehatnya di kala aku gamang tentang kehidupan kampus dan percintaan. Terima kasih sudah selalu mendukungku untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi bahkan di saat aku tidak percaya pada diriku sendiri. Terakhir, terima kasih juga telah membantuku menemukan keberanian. Katamu, “Berani bukan berarti tak memiliki rasa takut…”

Ya begitulah sedikit tentang Alwi. Si Pejantan tangguh yang telah bertarung dalam banyak organisasi. Bagaimana pejantan tangguh lainnya? Perlu banyak melamun dulu untuk menceritakan orang selanjutnya. Next time yahh bye….

<Sumber gambar : https://luckty.wordpress.com/tag/boneka-danbo/>

  • view 128