Tentang Menunggu

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Agustus 2017
Tentang Menunggu

Nama panggilannya Bale. Unik, seunik karakternya. Setelah sekian lama tak melihat sosoknya, tak disangka  aku dan Bale dipertemukan lagi. Kali ini kami tak hanya melempar senyum, tapi juga bercengkrama melalui chat. Aku lupa apa yang membuat kami akhirnya menjadi dekat. Tapi yang pasti sejak kami berkomunikasi, kami memutuskan untuk pergi bersama dalam sebuah acara. 

Aku sudah menunggu dipinggir jalan sekitar 5 menit sebelum waktu yang telah kami sepakati bersama untuk bertemu.

“Om, dimana? Ku sudah sampai.”

Send.

Pesanku terkirim.

Iya, panggilan Om jadi kebiasaan tersendiri. Terjadi begitu saja.

urang udah sampe.” Jawabnya beberapa menit kemudian dengan mengirim picture posisi keberadaannya.

Setelah aku tengok kiri kanan, sebenarnya aku gak ngerti dia posisinya ada dimana. Tapi sebelum aku send picture  akhirnya makhluk tinggi ini muncul juga.

“Udeh lama? Sorry ya bu, telat.”

“Iye selow baru beberapa menit ko.” Pencitraan. Aku gak mau dianggap cewek rewel yang gak suka nunggu. Lagian aku udah kebal dengan yang namanya menunggu.

Selama perjalanan aku tak henti menahan senyum dengan tingkah laku dia. Sangat ekspresif. Kalian bisa sebut aku pengamat yang baik. Aku memperhatikan penampilannya dari atas sampe bawah, aku memperhatikan tingkah lakunya. Duh menggemaskan. Dia dengan apa adanya dirinya tanpa berusaha pencitraan, pikirku. Dia memiliki banyak stok topik pembicaraan mulai dari menceritakan kegiatan, pengalaman, hobi, sampai ketika turun dari motor dia masih sempetnya ngebahas langit yang gak ada awan.

“Gilaaa panas yaaa, liat deh ke atas bisa ga ada awan gitu.”

“itu ada awan …” tunjukku ke arah langit bagian depan.

“Iya, tapi atasnya gak ada tu liat tuuu.” Sanggahnya tak mau kalah. Aku hanya bisa tersenyum dengan kelakuannya.

Berkat ocehannya, aku tidak merasa bosan. Namun anehnya, ada sosok lain yang aku rindukan disela-sela bercengkrama dengannya. Entah siapa, entah.

Perjalanan antara aku dan Bale tak bisa ku sebut kencan. Mungkin teman-temanku banyak berspekulasi. Aku biarkan saja mereka asyik dengan pikirannya. Sedang aku juga asyik dengan pikiranku tentang Bale. Dia memang banyak bertanya tentangku. Tentang hobi dan kesibukan, kadang ia juga memberi beberapa saran.  Biar ku tebak, aku kira dia sedang mengurangi ketidakpastian dengan mencari kepastian tentang aku. Dia mencari persamaan atau jarak perbedaan di antara kami agar menemukan hal-hal yang bisa dibahas bersama. Sayangnya, justru terlalu banyak rentang perbedaan. Aku banyak tidak tahu dengan apa yang dia bicarakan. Membuat aku terlihat bodoh, tapi membuatku sadar bahwa duniaku begitu sempit. Aku harus memperluas duniaku.

“Udah nih, mau kemana lagi?” tanya nya setelah acara usai.

“Hmmm, terserah sih langsung pulang juga ayok.” Jawabku asal.

“Makan dulu lah yaaa, laper bos.”

“Boleh boleh, tapi sholat dulu ya.” Akhirnya kami memutuskan untuk makan selepas sholat dzuhur.

#

Setelah perjalanan yang amat melelahkan itu, akhirnya kami sampai di resto yang ia sebut-sebut unik ini.

“Selamat datang, silakan mencoba daging yang bukan dagiing. Jadiin pengalaman ajalaah yaa..” Kata Bale sesaat setelah turun dari motor. Akhirnyaaaaaa. Gumamku,

Pertama kali masuk ke restoran itu, atmosfernya memang berbeda. serba hijau. Jika kalian kesana, kalian akan disuguhkan dengan monitor di kiri kanan serta gambar-gambar ditembok berupa campaign. Restoran ini mengusung tema vegetarian dengan campaign bahwa kita ga boleh bunuh hewan karena hewan juga makhluk hidup, ya kurang lebih seperti itulah aku lupa isi campaign fullnya.

Bale, dengan tampilannya yang bisa dibilang biasa aja, ga ada tampang kutu buku yang biasanya pake kacamata, ternyata menyimpan kecerdasan yang membuat aku nganga. Iyeuh selama ngobrol ama dia bisa dihitung jari mana yang bisa aku timpali dan mana yang cuman aku manggut-manggut sambil menatap terpana gitu sama pemikiran-pemikirannya dia.

Ada banyak yang kami perbincangkan hingga kami lupa telah menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Ia mulai mengutarakan ketidaksetujuannya terhadap campaign yang dilakukan restoran itu. Menurutnya kalau alasannya karena hewan makhluk hidup, ya tumbuhan juga sama-sama makhluk hidup. Hmm ada benarnya juga apa yang ia katakan. Pembahasan kami kemudian mulai bercabang ke berbagai topik, kami membahas mengenai hukumnya vaksin dari babi, kegiatan mentoring di fakultas, perbedaan paham sesama muslim, aktivitas yang dia lakukan bersama timnya, penulis yang dia suka, Dilan, isi cerita film conan, isi komik-komik yang dia baca, isi webtoon, sampai dia memberikan masukan-masukan tentang tema tulisan yang unik. Gila sih, menurutku dia seperti tak pernah kehabisan kata-kata. Semua ide-ide yang dia beri cukup brilian dan membuat aku semangat untuk menulis lagi.

Ketika percakapan kami sudah mulai mencair dan menghilangkan rasa canggung yang ada, pembahasan kami akhirnya tiba pada masalah hati. Yaps, masalah hati kadang menjadi sesuatu yang sulit dibahas bagi cewek dan cowok yang baru ketemu. Tapi tidak bagi Bale. Ia adalah orang yang blak-balakan, ku rasa tak ada kata jaim dalam kamusnya.

“Bu, udah punya pacar?”

“Aku? Beloom. Tapi pernah pacaran hehehe.” Rasanya aku sudah bisa menebak apa yang selanjutnya akan dia katakan.

“Ya gak apa-apa kan pacaran, buat pengalaman. Ya kali aja ini urang ajak main ada yang marah, kan ga enak.” Benar saja. Aku tidak asing dengan kalimat terakhirnya, kalimat yang sudah biasa diucapkan laki-laki yang baru pertama kali ajak aku keluar.

“Ngga ada ko Omm..” aku menunggu kata apa lagi yang akan keluar dari mulutnya. Mencoba menebak tapi untuk yang tipe-tipe kayak Bale aku tak bisa menebaknya.

“Coba dong jelasin apa manfaatnya pacaran?”

Jeng jeng jeng aku mikir jawaban apa yang tepat. Mencoba flash back tapi sial, memang hanya perih saja yang teringat.

“Pacaran? Awalnya ga munafik ya aku merasa dengan pacaran bisa jadi motivasi gitu buat aku, tapi semenjak patah hati berkali-kali, pada akhirnya pacaran itu menurutku ga lebih hanya sekedar buang-buang waktu aja, toh kita ga tau kan jodoh kita sebenernya siapa.” Jawaban yang terdiplomatis.

“Tapi kenapa sih orang yang pacaran selalu ngerasa bahagiaaa, nyamaan, perasaan kek gitulaah?”

“Yaa namanya orang pacaran, dia pasti punya seribu alasan buat pembelaan bagi kebahagiaan-kebahagiaan semunya.”

“Jadi lu ga mau pacaran lagi? Mau langsung nikah aja?”

“Ya InsyaAllah yaa doakan istiqomah, jodoh mah tar juga dateng sendiri kali.”

“Setuju. Bener banget. Buat apa sih pacaran. Gue suka heran deh, pacaran dan nikah itu banyak samanya, tapi ada bedanya. Samanya ya apa yang dilakuin kadang sama, tapi bedanya nikah itu halal cuy. Siapa elu kan main-main sama yang namanya halal. Ya gue juga orangnya ga yang alim-alim banget gimana, tapi mending ga usahlah sampe begitu”.

Aku mengangguk tanda mengiyakan, tapi bingung harus berbicara apa. Sampai dia melanjutkan pembicaraan.

“Kisah cinta urang juga gak mulus. Jadi kemaren-kemaren gue sempet ditolak sama cewek yang gue rasa gue udah nyaman sama dia. Ni cewek tuh tipe gue banget. Orangnya mau diajak susah. Dia gak rewel, makan di warteg ayo, bahkan cuman makan roti gitu di warung kopi juga ga complain. Kita banyak cerita ketika kita down, kita kayak saling menasehati gitu, dia ngasih masukan ke gue, gue juga ngasih masukan ke dia. Terus kayak saling ngasih semangat gitu. Jadi, gue kan suka tipe orang yang kita sama-sama berjuang buat mencapai sesuatu. Dan ada kesamaan nih di kita, kita suka isi event, kayak kemaren gue isi event dimana dia dimana, terus kita saling ngasih semangat, kan seru yak.”

Aku masih memperhatikan dengan seksama. Eits tapi ga ada rasa cemburu sama sekali di sini yak, ku tegaskan, aku hanya kagum pada sosoknya yang cerdas. Dia melanjutkan ceritanya.

“Terus abis itu karena gue merasa nyaman, gue nanya ke dia. Lu mau ngga nunggu gue 2 tahun buat silaturahmi main ke keluarga lu? Itu serius loh gue nanya ke dia, dan dia bilang ngga mau. Tapi ya udah kan gue bisa apa, gue ga bisa memaksakan. Yang gue bingung nih meskipun dia nolak gitu, ya udah kita tetep kayak biasa. Kadang tetep jalan, ngobrol, makan bareng. Gue bingung dia bilang nggak, tapi dia tetep deket. Menurut pandangan lu sebagai cewek, dia kayak gitu kenapa sih?”

Mampuskan, aku aja nggak tau. Dikira cewek sama semua apa. Tapi aku coba menanggapi dengan sangat hati-hati.

“Menurutku yaaa, sebagai perempuan, gimana yaa.. Rumit. Kadang yang cewek bilang ngga, bisa jadi iya, bilang iya, bisa jadi ngga. Ah gitu lah ribet emang cewek. Tapi gue rasa sih cewek itu tuh sebenernya pasti ada perasaan sama lo entah itu besar atau kecil, buktinya dia tetep ga menjaga jarak sama lo meskipun dia tau perasaan lo, dia kayaknya yaa cuman ragu. 2 tahun itu bukan waktu yang bentar. Mungkin dia ragu apakah dia bisa sesabar itu nunggu 2 tahun, apa hati dia ga berubah, dan dia juga meragukan apa hati lu nanti ga berubah? Ya minta nunggu sih gampang tapi bisa ngga ngejaganya? Dia mungkin pengen ga sekadar omongan doang, tapi bukti nyatanya juga. Cewek tuh butuh yang lebih pasti.”

“Iya juga sih. Tapi asal lo tau cowok juga butuh kepastian. Ya gue sih ini mah. Buat gue ataupun cowok-cowok di luar sana sebagai mahasiswa atau fresh graduate emang ga bisa menjanjikan apa-apa selain minta nunggu. Emang sih mungkin kelihatan bulshit, ya tapi gimana lagi? Gue ga bisa membual lebih. Ya udah mau ngga nunggu dua tahun, gitukan? Bukti nyatanya ya pasti kelihatan dalam proses dan akhirnya. Rata-rata semua orang bulshit ko gue rasa. Buat gue, gue gak mau dapetin cewek ketika gue udah di atas, gue pengen cewek yang tau perjuangan gue seperti apa. Bukan buat pacaran, tapi seenggaknya ketika gue tau siapa yang pasti nunggu gue, gue punya goals, punya target. Gue akan semangat, dan gue tau bahwa ada orang loh yang nunggu gue di depan.”

Gilak, ini sih aku nganga yang ga tau harus ngomong apa lagi. Ada ya orang kayak dia. Ya pasti ada lah yaaa. Speechless aja sama jawabannya. Ketika aku sangat menantikan kepastian dengan setidaknya mengharapkan tawaran yang sama seperti yang ditawarkan Bale pada cewek idamannya, tapi nyatanya hanya ada cowok-cowok yang tarik ulur dan gak jelas yang hadir di hidupku. Padahal aku adalah cewek yang InsyaAllah sudah terbukti kesabarannya untuk menunggu. *mungkin. Sedang Bale? Sebaliknya, ketika dia sudah terang-terangan ingin memberikan kepastian pada orang yang ia rasa tepat, perempuannya tak seyakin itu untuk menunggu. Luar biasa kalau aku pikir lebih jauh, skenario Tuhan itu memang unik. Ada berbagai macam rasa pada setiap hati manusia.

Aku tersadar dari lamunanku ketika Bale melanjutkan pembicaraannya. Kini ia mulai menggali tentang aku. Mungkin bagi dia rasanya tak adil jika hanya dia yang berbusa bercerita tanpa tahu ceritaku.

“Kamu sendiri Bu, gimana? Tipe cowoknya yang kayak gimana sii? Ya kali aja kan gue punya temen yang bisa dikenalin ke lo.”

“Seiman, ga perokok, humoris, manly, ga pesolek tapi rapi, organisatoris gak apa-apa tapi gak ambis banget, apa lagi yak… ga tau deh kadang orang yang aku suka malah meleset dari tipe.”

“Kacamataan gak? Kalo akademis gimana? Gue ada nih temen… kayaknya cocok deh buat lo. Dia orangnya pinter, kadang kalo PR gue aja suka dikerjain dia. Ga paham lagi deh pinter banget. Lo nyari yang ganteng? Atau kaya?”

Busett dahh ko jadi ajang perjodohan gini pikirku. Sejauh percakapan ku dengannya dari mulai perjalanan sampai detik itu, aku menyimpulkan bahwa dia secara tidak langsung mau bilang kalo “ternyata gue bukan tipe lu, lu juga ternyata bukan tipe gue”. Dan ya no problem juga sih, seperti apa yang aku bilang di awal kalau aku gak ada perasaan apa-apa sama dia, cuman sekadar kagum dan nyatanya aku senang karena mendapatkan teman baru.

“Laah ko jadi jodoh-jodohin gini sih Om wkwk. Situ aja perjalanan cintanya masih rumit haha. Kacamataan? Opsional. Akademis? Gak masalah. Ganteng? Relatif, tapi sejauh ini ku hanya mencari yang nyaman. Kaya? Ngga juga, karena sama kayak kamu mau dia berada atau ngga intinya aku lebih suka yang mau berjuang.”

“Ya gak apa-apakan? Kali aja cocok. Dia sholeh ko serius. Jurusannya sama kayak urang. Ga tau euy meskipun urang rumit gini kisah cintanya tapi gue suka aja kalo temen sama temen gue cocok. Bahagia aja liatnya. Menurut gue ya Bu, lo berhak bahagia, temen gue juga berhak bahagia. Ya kali aja kalian bisa saling membahagiakan kan? Sapa tau… jodoh ga ada yang tau. Gimana mau ga? Atau sebenernya lu juga udah ada yang deket? Siapa-siapa? Cerita dong… pasti adalah mungkin yang bikin lo getar gimana gitu pas deket dia. Temen sekelas mungkin?”

Ia mencecarku dengan berbagai pertanyaan tanpa jeda.

“Hmm, bingung, nanti dulu deh. Ada sih sebenarnya yang lagi deket sama gue. Tapi gue ga tau perasaan dia gimana. Persis sih kayak lu sama cewek itu, bedanya dia ga menawarkan apa-apa sama gue, yang kemudian gue ga tau harus nunggu dia apa nggak. Sedih ya? Wkwk.”

Dia diam meminta ku untuk terus bercerita, seolah tau mataku menyimpan banyak cerita yang ga tau harus diceritakan pada siapa.

“Sebenarnya dari awal ini salah gue sih, dulu gue yang mengabaikan perasaannya dia. Gue terlalu menyepelekan perasaan yang dia punya. Ya lu bayangin aja, kita belum kenal lama, tapi tiba-tiba dia bilang perasaannya. Gue dulu belum dapet hidayah buat ga pacaran. Cuman gue nolak dia karena memang gue takut dia cuman main-main. Sampe gue jadian sama orang lain, terus putus. Akhirnya memutuskan untuk ga pacaran lagi. Gue baru sadar orang yang konsisten ada di samping gue tuh cuman dia. Sayangnya sekarang dia ga bisa always stay sama gue, yang di saat gue lagi down banget dan butuh tempat buat cerita, justru dia sibuk di tempat lain, meskipun kadang dia menanggapi lewat chat tapi gue tau tanggepannya ya seadanya karena dia juga sambil ngurusin banyak hal. Gue ngerti sama posisinya dia, tapi lu tau ngga sih rasanya ketika lu cuman nyaman bercerita sama satu orang tapi kemudian dia sibuk, padahal lu lagi butuh banget didengar. Sebenarnya ada banyak alasan untuk gue bisa memutuskan gue sama dia tuh ga cocok. Banyak hal. Dia seperti punya dunianya sendiri yang ga bisa gue tembus. Tapi ga tau kenapa seiring waktu perasaan gue tuh terus mengarah ke dia. Sedang dia, gue aja ga tau dia masih punya perasaan apa ngga sama gue. Gue ga punya keberanian untuk bertanya, tapi buat menunggu pun gue ga tau akan sia-sia apa nggak. Ga taulah Om.. gue tunggu aja mungkin waktu yang akan menjawab, kalau waktu memberikan ruang buat kita bicara, mungkin gue akan tau, tapi kalau waktu ternyata membuat gue harus bertemu orang lain gue bisa apa.”

“Hmmm dunianya sendiri yang lu maksud tuh seperti apa sih? Kalau semacam kayak gue misalkan punya tim kerja, atau organisasi terus ambis di dalamnya mungkin justru lu bisa ambil sisi positifnya dia bahwa dia itu loyal dan bertanggung jawab sama pilihannya dia. Mungkin karena kalian belum saling memilih, ya lu belum jadi pilihannya dia untuk bisa menjadi alasan dia loyal sama lu. Ayolah kalo memang ada yang ga lu suka dari dia, ya komunikasikan ajaa. Gimana caranya deh biar kalian itu bisa saling memahami tanpa harus menembus batas keinginan saling memiliki untuk saat ini. Ayolah bu semangat doong, lu berhak bahagia. Jadi gimana nih? Sama temen gue tunda dulu aja kali ya? Lu pastiin dulu yang ini yaa…”

Tanggapannya Bale jelas membuatku skak mat tanpa bisa berdalih yang lain lagi. Iya, ku rasa memang selama ini aku egois jika benar-benar ingin memiliki waktunya sepenuhnya. Dia siapanya aku? Aku siapanya dia? Aku sadar bahwa aku memang tidak berhak mengambil apapun miliknya. Ambisinya, waktunya, kehidupannya. Bahkan bertanya pun rasanya aku belum berhak.

“hhhhhhhh….” Hanya desahan napas yang akhirnya keluar. Aku mengedikkan bahu. Aku tak bisa menjawab pertanyaan Bale. Dijodohkan dengan temannya? Aku harus berpikir ulang. Nyatanya aku belum bisa kalau harus terus menerus bertemu orang baru, aku lelah untuk menjelaskan siapa aku. Akan selalu butuh waktu lebih lama lagi dan lagi untuk kemudian menemukan persamaan dan perbedaan. Akan lebih baik jika yang datang padaku nanti seperti Bale yang dalam satu hari kita bisa saling tau satu sama lain dan bisa langsung memutuskan kita cocok satu sama lain atau tidak. Cukup Bale dulu saja.

“Udah sore pulang yuk.” Kataku tanpa mengindahkan pertanyaan sebelumnya.

“Yuk, kita belum sholat. Lain kali kalo lagi mau cerita atau diskusi-diskusi asik lagi calling aja bu sapa tau urang bisa bantu.”

“Siaaaap.”

Daaaaan begitulah akhir perjalananku bersama Bale. Aku selalu bersyukur dipertemukan dengan banyak karakter laki-laki. Bale adalah salah satunya. Ada banyak yang aku pelajari dari dia dalam sehari. Optimisme, kepercayaan diri, keceriaan, ambisi, natural, semuanya ada di dia. Terima kasih karena telah menjadi teman bercerita, terima kasih karena telah percaya bahwa aku berhak bahagia di saat aku bahkan tidak tahu bisa menemukan kebahagiaan atau tidak. Terima kasih karena sudah percaya menceritakan perjuangan cintamu yang apa adanya. Semoga kita kelak sama-sama bahagia.

Semoga ada waktu untuk membahas sebenarnya Profesor Agasha termasuk ke dalam organisasi hitam atau tidak- satu-satunya cerita yang dapat menyatukan kita di atas banyak topik yang berlainan.

Sumber gambar : <https://irmanisedikit.wordpress.com/>

  • view 94