THE WORLD IN YOUR HAND

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2017
THE WORLD IN YOUR HAND

I am come back.. Yeay akhirnya drama skripsiku berakhir… By the way judulnya kayak tagline perusahaan yaaa. Sorry ini obsesi pengen cepet dapet kerja,, Wkwk. Yang mau aku bahas kali ini cukup berhubungan dengan tagline tersebut. Apa?? Yepp disini aku mau bahas tentang hasil penelitian skripsi ku tentang media sosial yang kayaknya udah ga bisa lepas dari hidup kita. Ya kali kaaan skripsi dikerjain berbulan-bulan, uji validitas sampe 5 kalii, tapi pas udah kelar kertasnya di kilo doang terus isinya nguap gitu aja. Biar skripsinya sedikit berfaedah untuk banyak orang, aku ingin sedikit sharing tentang skripsiku yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Perilaku Status Updates Pelajar Usia 15-18 Tahun di Kota Bandung” .

Curhat sedikit, aku hampir depresi karena penelitian ini. You know what I mean. Aku pikir penelitian ku ini cupu, penelitian absurd yang mungkin 250an lembar halamannya tak menghasilkan apa-apa kecuali transkrip nilai sama duit yang abis buat ngeprint wkwk. Tapi ternyata hasilnya alhamdulillah mampu membayar proses panjang yang telah aku lalui. Tabel-tabel penuh angka tidak akan dibeberkan disini, it won’t work karena akan terlalu membosankan dan karena aku pun sudah muak sebenarnya.

Penelitian ini berangkat dari fenomena bahwa dari total populasi 256,2 juta penduduk di Indonesia, 132,7 juta penduduknya merupakan pengguna internet dengan 97,4% aktivitas yang paling sering dilakukan adalah bermedia sosial (APJII, 2016). Yaaa kita bisa berkaca sama diri sendiri berapa kali kita buka medsos dalam sehari? Di kamar mandi aja kadang lu scroll timeline -_-. Lanjut, aku pun penasaran dengan fitur status updates di media sosial. Kamu tahu dampak negatif apa yang diberikan karena fitur tersebut? Banyak!!!  Adanya informasi hoax, informasi aktivitas pribadi secara berlebihan, bullying, dan lain-lain, dan lain lain, kepanjangan kalo diceritain satu-satu. Intinya, status updates menjadi salah satu ruang yang digunakan untuk show yourself, bukan lagi “aku berpikir maka aku ada” tapi sudah menjadi “aku update maka aku ada”. Masalahnya adalah terkadang apa yang diungkapkan dalam ruang tersebut tidak pada tempatnya. Dan aku tahu hal itu semacam punya magnet tersendiri bagi para pengguna media sosial untuk tertarik ke dalamnya.

Kenapa aku tahu banget? Karena aku pun begitu. Kadang aku juga susah buat nahan diri biar gak curhat berlebihan di media sosial, Dapet like banyak, kolom komentar rame menjadi daya tarik untuk mendorong kamu update lagi dan update terus, apa lagi kalo doi yang baca status kamu. Hayo ngakuu situ kadang selalu cek siapa yang like status kamu, siapa aja viewers yang udah liat insta story kamu… Abis doi liat terus diapus?? Kamu pernah? Jujur, aku dan temenku sih pernah- dan itu kalo diinget2 kadang malu-maluin. Haha

Selain dari fenomena itu, aku juga melihat fakta permasalahan yang terjadi, khususnya di Kota Bandung tempat penelitian ku dilakukan. Di antaranya ada mahasiswi yang dianiaya karena bullying di media sosial dan ada juga video viral yang berisi pelajar merokok di dalam kelas. Berlandaskan teori belajar sosial dengan konsep belajar melalui pengamatan (observational learning) dari Albert Bandura, aku memiliki asumsi bahwa perilaku status updates seseorang tidak murni muncul dari keinginan dirinya sendiri tapi juga dari pengamatannya terhadap perilaku orang lain. Siapa orang lain itu? Dalam penelitian ini aku membaginya ke dalam 4 role model (orang-orang yang dijadikan sebagai kerangka rujukan di media sosial), di antaranya keluarga, guru, teman sebaya, dan tokoh idola.

Bagaimana hasil dari penelitian ini???

Cukup menarik menurutku (Iyalah, gue yang neliti). Secara garis besar, data deskriptif menunjukan bahwa dalam setiap harinya penggunaan media sosial remaja sangat bervariasi, dan yang paling menonjol adalah terdapat 25,30% dari responden yang membuka media sosial > 20 kali sehari, dengan intensitas paling lama adalah > 4 jam yaitu 19,30% dari responden sedangkan sisanya masih dalam taraf wajar yaitu paling lama 2 jam.

Pada analisis inferensial diperoleh hasil bahwa ternyata remaja ini 36,8% perilaku status updates nya didasarkan pengamatan terhadap orang lain. Orang lain tersebut merupakan model yang dijadikan sebagai kerangka rujukan. Hasil penelitian ini juga menunjukan kalau remaja lebih memilih untuk mengamati teman sebayanya dibandingkan dengan keluarga, tokoh idola maupun guru. Menurut Erikson (Slavin, 2008, p.67) remaja dengan usia 15-18 tahun termasuk ke dalam tahap krisis psikososial ke V dimana remaja mengalami krisis identitas dan kebingungan peran. Maka dari itu, mereka lebih memilih mendekati kelompok sebaya dan menjauhi diri dari orang tua. Remaja lebih memilih untuk menjaga jarak dengan orang tua karena remaja pada usia tersebut memiliki tuntutan untuk memperoleh otonomi baik secara fisik maupun psikologis terutama dalam ruang privasi.

Sedangkan 63,2% sisanya berasal dari faktor lain yang tidak diujikan dalam penelitian ini, yaitu adanya efikasi diri (self efficacy) yang tinggi dimana mereka merasa yakin untuk menghasilkan status updates tanpa harus belajar dari pengguna media sosial lain yang dijadikan sebagai kerangka rujukan.

Sooo?? Apa implikasinya dari hasil ini? Apa yang harus dilakukan?

  1. Buat para remaja pengguna media sosial, coba buat pikir berulang kali ketika ingin membuat status updates, terutama jika kontennya lebih kepada aktivitas yang privasi atau bahkan berniat ngejelek2in orang. Please gunakan medsos kalian dengan bijak. Inget ketika kamu jelek2in orang ,itu menandakan bahwa attitude kamu jauh lebih jelek.
  2. Buat para model yaitu orang-orang yang dijadikan sebagai kerangka rujukan, please juga memperhatikan perilakunya di medsos. Jika kalian tau kalian punya anak, punya adek, punya ponakan, bahkan punya fans dan kalian berinteraksi dengan mereka di media sosial, pastikan kalau kalian dapat memberikan contoh bermedia sosial yang baik.
  3. Terkhusus untuk guru yang dalam penelitian ini ternyata hanya 2 responden yang menyatakan memperhatikan gurunya di media sosial, maka disarankan dapat terbuka dan turut mengawasi aktivitas bermedia sosial siswanya, bahkan mengintervensi siswa di kelas untuk mengingatkan siswanya dalam menjaga etika dalam bermedia sosial.

Yuhuu segitu mungkin garis besar penelitian yang aku lakukan. Semoga bermanfaat #Marimenjadibijak, #GenerasiCerdasBeretika

Sumber gambar <http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00152008.html>

  • view 56