Part#2 Selamat Datang di Dunia Luar

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 April 2017
Part#2 Selamat Datang di Dunia Luar

Lanjutan cerita di part sebelumnya nihh tentang gimana yang namanya berjuang dan kerja keras. Setelah melalui pahit manisnya perjalanan perizinan ke berbagai sekolah, aku belajar banyak hal dari siapapun dan dimanapun. Aku mulai terbiasa keliling sendiri, aku mulai mencintai Damri. Aku mulai belajar buat menikmati perjalanan ga cuman sekedar tidur. Daaan setelah mencoba membuka mata aku baru sadar, terlalu banyak hal yang aku lewatkan.

Pertama kali sendirian, pernah melakukan kebodohan? Sering. Tau gak rasanya nungguin surat perizinan berhari-hari, pas suratnya kelarr nama sekolahannya salah satu angka, dan itu fatal atulah :(, balik lagi, minta bikinin lagi. Abis itu selesai? Belom. Pas suratnya udah jadiii dengan penuh harap, optimis dan ekspektasi tinggi aku ke sekolah. Setengah jam, perasaan ko gak nyampe2, emang dasar gawenya pake perasaan yang selalu salah, aku nyasar doong yang kudunya ke Cibiru malah ke Majalaya. Good Job antara ngakak tapi pengen nangis. Kenapa kebodohan terjadi di saat yang tidak tepat? Aku sampe ke sekolah jam 11, setelah berputar-putar ga jelas, thanks to mamang Ojek Online, terbaikk memang bisa menemukanku dengan GPS. Nyampe di sekolah selesai? Ngga juga… belum habis napas gara-gara lelah berkeliling, belum juga duduk, ehh sama pihak sekolah suratnya minta direvisi karena keperluannya kurang ditulis secara detail. Terus udah, disuruh balik lagi aja. Ga nyampe 10 menit, padahal muter2 nyari sekolahnya berjam-jam. Usap dada disitu. Mau nangis? Surat ga akan kelar hanya jika aku nangis. Nangis sih dikit, tapi ujungnya? Ketawa. Menertawakan kebodohan yang lalu karena salah naik angkot. Disitu aku mikir buat jadi bener itu harus tau salah, buat tau jalan itu ya harus kesasar. Wkwk

Inget!!*Buat jadi bener itu harus tau salah* 

Di lain cerita, aku lakuin lagi kebodohan di hari-hari berikutnya. Di saat mau nyebar angket dengan semangat 45, udah sampe sekolahan, aku lupa dengan apa yang aku kenakan. LUPA. Kenapa bisa lupa padahal itu saat penting nan genting. Ga paham lagi sih. Aku gak bawa jas almamater, aku pake jeans, aku pake kaos, padahal aku biasanya ga kayak gitu banget ke sekolah. Dan itu adalah proses antara sadar dan tidak sadar. Sadarnya kapan? Pas ditegur kepsek. Ya Allah, antara malu sama merasa bego. Ibu kepsek menegurku dengan tata bahasa akademik yang aku suka, I mean beliau gak maki-maki sambil masang tampang garang, nggak. Beliau baik, aku belajar dari beliau, dan aku mengakui itu sepenuhnya kesalahanku. Beliau bilang meskipun aku orang baik, dengan penampilan seperti itu, orang gak akan mandang aku baik apalagi ketika aku masuk ke institusi pendidikan, beliau bilang ketika kita berada di dalam suatu institusi tertentu mau tidak mau kita harus bisa mengikuti aturan di dalamnya, kita harus bisa menempatkan. Adem kan negurnya? Adem sih, tapi ya tetep jlebb. Aku cuma bisa minta maaf sama ibunya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Pencitraan itu penting guys. Jangan melulu melihat pencitraan itu sesuatu yang negatif karena pada akhirnya kita membutuhkan itu. Aku mahasiswa komunikasi yang harusnya paham prinsip komunikasi, tapi saat itu aku benar-benar lupa, lupa bahwa komunikasi itu adalah proses simbolik. Apa yang kita kenakan adalah symbol, menimbulkan banyak persepsi. Impression management alias pengelolaan kesan itu penting karena ketika orang pertama kali melihat kamu, yang dilihat itu apa yang kamu kenakan, apa yang kamu katakan, bukan isi hati kamu, dia ga peduli kamu orang baik atau nggak.

Lebih dari itu, di luar semua itu, selalu ada hikmah. Hikmahnya adalah aku merasa dicubit sama Allah. Allah tau sekali kapan harus menegurku dan bagaimana caranya. Ya, dulu aku sempat berkomitmen untuk mulai berproses hijrah mengenakan pakaian-pakaian yang seharusnya, yang tidak hanya tertutup tapi benar-benar sesuai syariat, aku ingin meninggalkan celana jeans, mulai belajar pakai celana yang gak ketat, belajar pakai rok juga. Dulu kendalanya selalu bilang, nanti ya Allah kalo dapet rezeki, nanti, nanti, nanti ampe kemudian ditegur sama bu Kepsek aku baru sadar mungkin Allah lagi menagih janji. Kapan?

Dari teguran ibu Kepsek aku mulai mengingat komitmen-komitmen itu, mulai benar-benar menghindari celana jeans, tanpa pengecualian, meski kadang ada saja keadaan masih membuatku terpaksa mengenakannya. Allah itu baiiiikkk banget, ngasih teguran juga sepaket sama jalan keluar, iya, setelah kejadian itu Allah memberikan ku rezeki melalui berbagai hal, mungkin untuk menguji, jadi gimana? InsyaAllah akan kupenuhi komitmenku. Meskipun mungkin belum sempurna, mungkin masih salah, tapi disini aku mencoba menjadi lebih baik lagi, mencoba memperbaiki diri lagi. Terima kasih ya Allah untuk selalu mengingatkanku…

  • view 89