Part1#Penolakan

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 April 2017
Part1#Penolakan

Aku Kembaliii…. Setelah beberapa lama vacuum gak nulis hanya karena skripsi. Cemen emang, alasannya ga bisa fokus. Itu hanya pembenaran, dan aku mencoba untuk memutuskan mata rantai yang mematikan pikiranku.

Karena ceritanya lagi skripsiaaan jadi kali ini aku ingin menceritakan sedikit pengalaman bagaimana kerasnya itu Skripsi. Santai, ini bukan ajang buat ngeluh, aku hanya ingin sharing tentang pengalaman, hidayah, dan perjalanan bagaimana benar-benar keluar dari yang namanya zona nyaman. Yups, visiku sekarang adalah sharing positive content yaa meskipun rada dibumbui romansa sendu-sendu manja.

Skripsi? Tau apa yang ada dipikiran aku ketika denger nama itu? “Ada berapa banyak orang baru yang harus aku hadapi??” Lebay anday… tapi serius itu yang ada dipikiranku pertama kali. Terus aku mikir kerasss “kalo aku pilih kuantitatif aku akan bertemu lebih banyak orang tapi dalam waktu singkat, kalo aku pilih kualitatif aku akan bertemu sedikit orang tapi dalam waktu lebih lama, bahkan mungkin berulang kali” dalam otak aku, gak ada yang mending di antara keduanya. But well, hidup itu pilihan, dan aku dipaksa dunia untuk memilih.

Ga tau kenapa, dan ga tau aku punya sindrom apa, ga biasa aja ngadepin orang baru, kikuk aja rasanya kalau kudu berhaha hihi sama orang yang ga dikenal. Aku terlalu takut dengan yang namanya penolakan, yaaa kayak kamu udah maksain diri buat open duluan tapi malah dicuekin. Apa itu terjadi cuma di diri aku doang? Ga taulah yaa.

Singkat cerita setelah berbagai insiden ganti pembimbing dan ganti judul, aku dengan mengucapkan basmallah memutuskan untuk memilih kuantitatif dengan subjek penelitian anak2 SMA/SMK di Kota Bandung yang otomatis aku harus keliling sekolahan. Fyi aku buta arah, gak bisa nyebrang, gak tau banget daerah Bandung, ah pokoknya aku merasa bego dan menyadari kalo selama kuliah aku kurang main haha.

Pertama kali banget aku harus ke lapangan, aku bener-bener merasa gak sanggup kalo harus sendiri. Yups di sini hidayah pertamaku dimulai. Saat itu aku sempat mikir, sempat iri “Ya Allah, coba aku punya pacar, bisa dimintain tolong buat anter tanpa harus ngerasa ga enak” (iyuhhh ga punya muka emang), terus kadang mikir, enak yaa jadi si ituu kemana-mana gampang ada pacar setia menemani (iyuuhhh segitunya siih aku dulu). Daaan tau apa jawaban Tuhan? Ia mengirimkan malaikat-malaikat tanpa sayap yang mau aja diajak susah bantuin keliling bareng meskipun kadang ditambah sogokan haha. Tuhan seolah menjawab “Kamu ga mesti punya pacar, kamu hanya mesti punya teman”. Ada aja kemudahan untuk aku, Tuhan seperti menunjukkan dan menuntunku untuk tak melakukan ‘kesalahan’ yang sama.

Setelah melewati banyak perjalanan bersama para malaikat ini, kamu tau apa ujian lain yang aku hadapi? PENOLAKAN. Ya memang mindset itu kadang mempengaruhi kenyataan, apa yang aku takutkan terjadi. Penolakan dari yang manis sampe yang pahit. Semanis-manisnya penolakan tetep aja penolakan, verbal dan nonverbal aku sudah cukup paham untuk mengartikan maksudnya. Mulai dari ditolak bapak wakasek  yang katanya suratnya kudu ke Kesbang, disuruh ngirim dulu angket, ampe dinyinyirin guru. Udah pernah cuyy. Sampe kebal kayaknya.

Awalnya aku down, jatuh sejatuh-jatuhnya, kayak udah speechless mau gimana lagi, udah ga sangguplah kudu ke sekolah-sekolah perizinan kayak gitu. Takut ditolak. Mau cerita, cerita ke siapa? Pacar? Udah puguh gak punya. Temen? Sarua lagi riweuh. Dosbing? Udah mau bimbingan aja udah syukur. Mamah? Aduh pikiraneun. Kakak? Boro2 curhat chatan aja ga pernah, kecuali ngabarin mau balik. Eitts… kenapa aku lupa.. dengan yang begitu dekat, dengan yang selalu mendengarkan juga maha memberikan solusi. Allah, kenapa aku lupa dengan keberadaan-Nya?

Hidayah kedua muncul. Memang benar ketika kita sedang diuji, kita justru akan semakin mengingat Allah, semakin dekat sama Allah. Aku malu sebenarnya, kok aku merasa datang ketika butuhnya aja, dulu pas aku seneng aku kemana?? Ngerjain yang wajib aja kayaknya males-malesan, tapi sekarang benar-benar merasa tempat kembali itu Allah. Selama masa down itu aku merasa kosong. Merasa ada yang salah pada caraku selama ini, setiap malam aku menangis tanpa sebab yang pasti. Aku menghindar dari teman-teman, aku merasa tertekan berada di sekitar mereka yang selalu membicarakan kemajuan skripsinya. Aku bukan iri, naudzubillah semoga aku dijauhkan dari rasa itu, aku hanya merasa butuh ruang dimana aku harus instropeksi diri. Untungnya disela rasa kosong yang aku alami aku mencoba untuk menonton video-video kajian, salah satunya video kajian Ust. Hanan Attaki. Ada satu malam dimana tangisku benar-benar pecah. Aku sadar selama ini aku terlalu banyak berharap pada manusia, bukan pada Allah. Selama ini yang aku andalkan manusia, bukan Allah. Selama ini meski aku percaya pada Allah, aku selalu mempertanyakan kenapa begini kenapa begitu seolah tak yakin dengan keajaiban milik Allah. Astagfirullah,, aku merasa menemukan alasan kenapa selama ini aku merasa kosong. Dan semenjak menyadari itu, aku selalu berdoa, “Ya Allah, jika dengan ujian semakin mendekatkan ku pada-Mu, maka aku ikhlas, aku hanya meminta bersamai ujian itu dengan kekuatan untuk menghadapinya.”

 

  • view 101