Tentang Aleppo

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Desember 2016
Tentang Aleppo

Jujur saja aku tak tahu banyak tentang Aleppo. Aku rasa aku mahasiswa yang terlalu apatis dengan apa yang terjadi di luar sana. Aku terlalu sibuk meratapi masalah pribadi, aku terlalu sibuk mencari ketenangan sendiri.

Suatu hari mataku seakan dibukakan, pintu hatiku seakan diketuk. Ada rasa penasaran yang menggelitik, ketika sosial mediaku penuh bertebaran foto anak-anak penuh luka. Seakan merasakan luka yang sama, aku mencoba mencari tahu. Mulai dari teman-teman aktivis kampus yang berbagi lewat media sosialnya juga dari akun line@ kampus seperti Kang Zaid dan Teh Jasmine. Belum banyak.   Aku tahu informasi yang aku dapatkan mungkin belum utuh, belum bisa menggambarkan secara detail apa yang terjadi disana. Tapi dari informasi tersebut setidaknya aku sadar ada yang salah disini. Ada yang salah dengan sisi kemanusiaan kita. Setidaknya sisi kemanusiaanku.

Di Aleppo, Syria, saudara kita semuslim sedang mengalami penderitaan. Lebih dari 500.000 orang terbunuh karena senjata kimia. Kondisi terakhir Aleppo dari informasi yang aku dapatkan di akun line Dewi Puspasari wilayah yang tersisa dari Aleppo timur hanya 8 km persegi, 100.000 jiwa muslim saling berhimpitan di dalamnya. Aleppo akan menjadi ajang pembantaian massal terbesar di dekade ini. Kalian juga bisa melihat video informasinya di link ini https://youtu.be/ugnNjUS2tW0. itu sepenggal cerita yang aku dapatkan.

Bahkan hanya dari sepenggal kata dan satu buah foto saja aku merasa tertampar. Sebelum itu apa yang sedang aku pikirkan? Laporan job training, skripsi yang entah akan seperti apa, uang beasiswa yang selalu telat cair, kelak aku akan kerja dimana, masalah perasaan yang tak ada ujungnya, bagaimana caranya mencapai mimpiku, bagaimana menyelesaikan satu per satu masalah di rumahku, hanya itu, hanya tentang duniaku. Dunia yang terlalu sempit. Kenapa aku menjadi begitu egois? Memikirkan diri sendiri. Maafkan aku ya Allah, bagaimana mungkin aku mengharapkan surgaMu? Aku masih jauh, masih jauh untuk masuk dalam kriteria umatMu yang bertaqwa, bahkan yang berperikemanusiaan pun aku masih mempertanyakannya pada diriku sendiri.

Jika aku atau mungkin kalian pernah menangis ketika menyaksikan tontonan peperangan dalam film, dimana itu adalah ciptaan manusia untuk membangkitkan emosional kita, bagaimana mungkin kita hanya berdiam saja melihat sesuatu yang benar-benar terjadi, bukan pada orang lain, tapi pada saudara kita. Aku tak akan berkoar banyak hal, aku sudah bilang pengetahuan ku masih awam. Hanya aku bersyukur masih bisa diketuk pintu hatinya oleh rasa penasaran. Iya aku mengetahui semua informasi ini dari rasa penasaran. Kenapa? Belum ada media yang memberitakan ini kalau bukan karena media sosial. Alasannya kenapa aku pun tak tahu, mungkin bagi “mereka” berita ini kurang menguntungkan, entahlah. Kalau saja tak ada rasa penasaran, mungkin sampai detik ini aku masih merutuki semua masalah dalam hidup yang belum bisa aku selesaikan, mungkin aku akan lupa bagaimana caranya bersyukur, mungkin aku akan menjadi manusia paling egois yang lupa mendoakan saudaranya sendiri. Iya, memang setelah aku tahu tentang Aleppo ini aku belum bisa apa-apa, tidak memiliki keberanian untuk bisa datang kesana, tidak memiliki banyak harta juga yang bisa ku berikan, namun setidaknya ada doa yang kita selipkan dalam setiap sujud, semoga bisa sampai pada mereka.

Sudahlah berhenti sibuk mencerca bagaimana jalannya persidangan tentang penistaan agama, insya allah berdoa saja semoga manusia-manusia disana bisa menjalankan amanahnya dengan baik, lebih dari itu adil atau tidak masih ada persidangan Allah kelak. Daripada sibuk mencela dan selalu mencari kesalahan orang lain lebih baik mencari kesalahan diri sendiri dan mempertanyakan masih adakah sisi kemanusiaan kita? Sampai sejauh mana?

Sumber gambar : SFF// BKI Fikom Unpad

Dilihat 191