Seorang yang Setia

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 November 2016
Seorang yang Setia

Setiap orang pasti punya role model  ingin menjadi seperti siapa dia kelak, atau mungkin ingin berakhir seperti apa kisah cintanya kelak. Seperti kisah nabi Muhammad SAW mungkin? Tentu, siapa sih yang tidak mengidamkan kisah cintanya seperti rasulullah. Namun bagiku itu adalah ekspektasi yang sangat tinggi. Aku ingin menjadi seperti siapa? Kisah cintaku ingin seperti apa? Tak muluk-muluk, tolok ukurku adalah ibu, kisah cintaku ingin seperti kisah cinta ayah dan ibuku, kisah cinta yang dipisahkan oleh kematian.

Kalian, aku yakin hampir semua pasti ingin seperti ibunya, pasti ingin memiliki kisah cinta yang kurang lebih seromantis yang dimiliki orang tuanya. Apa yang ku tulis disini hanya untuk menceritakan sedikit kisah cinta yang bagiku luar biasa, yang sebenarnya suatu saat ingin ku tulis sebagai autobiografi kedua orang tuaku, tapi sepertinya masih jauh untuk dapat mencapai itu, aku tuliskan dulu disini,sebagai pengingat semoga kelak mimpiku itu dapat terwujud.

Tentang ayah sedikitnya sudah ku tuliskan dalam tulisan-tulisanku sebelumnya. Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa selalu tentang ayah yang aku tuliskan, itu adalah bagian dari rasa rindu. Sedang tentang ibu? Aku masih belum menemukan rangkaian kata yang tepat, hanya sekarang aku sedang mencoba, mendeskripsikan rasa tentang ibu yang sebenarnya tak ada bahasa yang mampu menerjemahkannya.

Dibalik seorang laki-laki yang hebat selalu ada perempuan tangguh di belakangnya.

Ibuku adalah sosok yang setia, selalu berada di belakang ayah. Siap menjadi penopang dikala ayah lelah. Selalu menjadi pendengar yang baik segala keluh kesah ayah. Aku percaya dengan istilah dibalik seorang laki-laki yang hebat selalu ada perempuan tangguh di belakangnya. Hebat? Seperti apa definisi hebat? Udah punya perusahaan banyak? Punya kekuasaan? Bukan, bukan seperti itu. Aku melihat kehebatan dari sebuah proses. Hebatnya ayahku adalah ketika insya allah ia mampu hijrah dari dunia kelamnya. Ayahku seorang yang bertanggung jawab yang akan bekerja dengan sangat keras untuk menghidupi keluarganya, yang tak akan membiarkan orang lain dalam kesusahan, yang sangat tegas dengan prinsip dan pendiriannya, dan banyak lagi yang tak dapat aku definisikan.

Dibalik kehebatan itulah ada ibu. Ibu yang setia membimbing ayah perlahan keluar dari dunianya yang kelam, tak pernah lelah mengajarkan, tak pernah lelah mendoakan. Ibuku adalah pintu dari segala doa yang insya allah doanya akan terwujud berkat setiap sujud di malam-malamnya yang panjang.

Ibuku adalah ibu yang setia bukan karena uang tapi karena seorang yang mau berjuang. Ibu bilang dulu gaji ayah hanya puluhan ribu, ayah hendak beberapa kali ingin keluar dari pekerjaannya, tapi ibu selalu menguatkan, menjadi penguat agar tetap bertahan. Terbukti, pada akhirnya ayah mampu membangun rumah bersama. Dari cerita ibu, aku tahu apa artinya berjuang bersama, menghargai setiap proses yang ada.

Ibuku adalah ibu yang setia melayani, bukan seperti seorang pelayan, tapi lebih karena mengabdi. Segala sesuatu kebutuhan ayah hanya ibu yang tahu. Ayahku mungkin bisa dibilang ayah yang manja, sedang ibu adalah super mom, segalanya tak akan berjalan tanpa ibu.

Ibuku adalah ibu yang setia yang katanya tak perlu cemburu berlebih meski ia tahu ayahku begitu tampan, meski ia tahu ia memiliki banyak saingan, ia hanya perlu percaya sepenuhnya pada ayah. Mungkin juga jika dianalogikan dengan zaman sekarang ibu paham tentang konsep tulang rusuk yang tidak akan pernah tertukar.

Ibu adalah ibu yang setia sampai akhir. Di saat ayah sakit, aku tahu bagaimana wujud kesetiaan dari sosok ibu. Ibu yang merawat ayah begitu telaten, membuat ayah selalu terlihat tampan meski hanya bisa berbaring di tempat tidur. Setia melantunkan ayat-ayat suci Al-quran di sampingnya, di saat aku justru malah bersembunyi karena masih tak mampu menerima keadaan. Ibu bilang di akhir percakapannya dengan ayah, ayah meminta ibu untuk tak mencari lagi pria lain, dan ibu berjanji,  untuk tetap setia hanya pada satu laki-laki, dan itu ayah. Aaaaaaaaa manis sekali…

Ibu, bukan seseorang yang tanpa kelemahan, kisah cinta mereka tak jarang dipenuhi pertengkaran, tapi semua tak pernah berlangsung lama, karena ayah dan ibuku sadar tentang bagaimana harus menyelesaikan masalah bersama, dan hanya berdua.

Itulah ibuku, role model untukku, aku harus bisa seperti ibu, bahkan lebih dari ibu. Aku sempat mencoba, mengaplikasikan yang namanya berjuang bersama, tapi tak mudah, Ketika aku mencoba bertahan, ternyata pasangan ku tak bisa cukup setia untuk itu. Kami tak cukup kuat untuk sama-sama bertahan. Ternyata memang berjuang itu harus berdua, harus imbang. Aku sempat trauma, sempat tak ingin lagi menghadapi pria dengan kriteria yang sama. Namun, nyatanya sulit. Mungkin aku akan dipertemukan dengan kriteria yang hampir sama lagi, aku harap kesetiaannya yang berbeda. Aku harap. Semoga yang aku temukan kelak adalah yang mau berjuang bersama.

Tak apa jika kau meninggalkan, tak apa jika aku tertinggal, ku harap hanya selangkah ke depan, pastikan aku untuk tetap di belakang, pastikan aku untuk mendukung setiap langkahmu. Atau setidaknya biarkan aku di sampingmu, menggandeng tanganmu, menguatkan.

Kelak, Aku harus sesetia ibu...

 

 

inspirasi : cerita pribadi dan percakapan singkat dengan seorang teman tentang laki-laki hebat...

sumber gambar <http://www.robywakas.com/2014/04/arti-kesetiaan.html>

  • view 292