Terima kasih Guru

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 November 2016
Terima kasih Guru

Pepatah mengatakan pengalaman adalah guru terbaik. Sepakat? Tentu. Dan salah satu di antara segala pengalaman diukir atas campur tangan yang dinamakan guru. “The real teacher”.

Pepatah juga mengatakan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi pernahkah ada pemikiran bodoh dalam kepalamu? Karena hal itu sempat ada dipikiranku. “Guru pahlawan tanpa tanda jasa? Apaan, orang guru juga digaji.” Astagfirullah, sejujurnya aku pernah berpikir akan itu. Maaf, Pak, Bu. Dulu aku hanyalah seorang bocah yang tak tau begitu besarnya tanggung jawab seorang guru.

Berkat guru, aku tahu bagaimana caranya menulis dengan baik, aku tahu keluarganya Budi (Ini ibu Budi, Bapak Budi, mungkin saudara-saudaranya juga), aku tahu bagaimana caranya menghadap Tuhan, aku tahu tentang cerita rakyat, aku bisa menghitung uang jajanku dengan benar, aku tahu etika, aku tahu bahwa masuk geng geng zaman SMP itu tidak baik, aku tahu banyaaaaak hal dan bahkan aku mampu berada di titik ini salah satunya berkat yang dinamakan guru.

Berkat kiprahnya para guruku dulu bahkan hingga sekarang, aku memiliki cita-cita baru. Aku ingin menjadi guru, tepatnya menjadi pengajar. Guru, tidak berarti aku harus menjadi PNS bukan? Tidak berarti aku harus masuk di jurusan keguruan bukan? Tak harus juga menuntutku berprofesi menjadi guru. Aku hanya sekadar ingin, entah harus dengan cara seperti apa, aku hanya ingin.

Suatu hari keinginanku itu terwujud. Meski tak banyak yang ku lakukan, meski hanya sekadar angin lalu, aku berada pada suatu keadaan dimana aku bisa merasakan betapa menyenangkan bisa menjadi seorang guru, betapa berat beban yang harus dipertanggungjawabkan di depan Tuhan, betapa betapa luar biasa menjadi seorang guru, benar-benar pahlawan yang jasanya tak bisa dihargai hanya dengan materi.

Mungkin satu waktu kau akan menemukan guru yang menyebalkan, guru yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik, atau guru dengan berbagai macam perangai. Namun ayolah, tak semua guru seperti itu, bahkan guru juga manusia yang mempunyai titik lemah. Aku teringat dengan kutipan yang dikatakan Fahri tokoh dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2

“… Jika kalian punya pohon apel atau mangga yang sedang berbuah, dan kau sudah merawatnya dengan baik, bisakah kalian pastikan seluruh buahnya baik? Tidak ada satupun yang busuk? Tidak semua buahnya sempurna. Kalau kau punya pohon apel, hanya satu dua saja buahnya yang busuk, apakah fair mengatakan seluruh apel itu busuk?”

Makna dari kutipan itu bagiku sangat dalam, kita tidak bisa menggeneralisasikan sesuatu hanya atas dasar apa yang kita alami. Bodohnya, aku pernah seperti itu. Hanya karena aku melihat oknum yang dinamakan guru tak menjalankan tugasnya dengan baik di suatu Sekolah Dasar di daerah cukup pelosok, aku kemudian menganggap bahwa yang dikejar guru hanya uang, yang dikejar guru adalah target materi beres dan kurikulumnya tercapai, sedangkan sampai dimana kemampuan siswa tak dipedulikan. Sekali lagi maafkan aku Pak, Bu, aku tahu tak semuanya seperti itu, aku percaya bahwa masih banyak guru yang peduli. Aku percaya dan akan selalu mempercayai itu.

Terima kasih untuk bapak dan ibu guru, untuk calon bapak dan ibu guru, untuk yang bermimpi menjadi guru. Terima kasih telah bersedia mengorbankan peluhnya, ilmunya, dan segala yang ia miliki untuk menghasilkan generasi yang lebih baik lagi. Semoga negara ini mampu menghargai upayamu dengan layak.

Sumber gambar <http://www.rajakata.net/2015/09/puisi-guru.html>

  • view 241