Apa Kabar Fahri dan Aisha?

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 November 2016
Apa Kabar Fahri dan Aisha?

Masih ingat dengan tokoh Fahri? Masih ingat dengan Aisha? Iya, mereka adalah tokoh di film yang diadaptasi dari novel best seller, Ayat-Ayat Cinta. Bagaimana dengan ceritanya? Mungkin di antara kita sempat dibuat menitikan air mata karenanya. Daaaan jeng jeng jeng… ternyata kisah Fahri dan Aisha belum berakhir. Setelah sukses dengan Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy sang penulis menuangkan pemikirannya kembali dalam novel baru Ayat-Ayat Cinta 2, sebenarnya ini bukan baru sih, hanya saja beberapa bulan ke belakang saya baru membacanya, bahkan sampai dua kali karena berkaitan dengan tugas mata kuliah.

Kabarnya novel ini akan kembali diangkat menjadi sebuah film. Terus terang saya pribadi sangat menantikan film itu karena dari novel yang saya baca, ceritanya sangat sangat sangat apik dan memberikan knowledge. Agar sedikit ceritanya tak hanya saya gunakan untuk mendapat nilai mata kuliah saja, maka saya akan sedikit berbagi di sini agar kalian yang belum baca bisa sedikit mengetahui gambaran dari novel ini.

Cerita dalam novel yang berjumlah 697 halaman ini sarat makna dan pesan-pesan dakwah. Fahri Abdullah –sebagai lanjutan dari kisah novel sebelumnya- yang telah menyelesaikan Ph.D di bidang Filologi di Albert Ludwigs Universitat Freiburg Jerman. Ia kini berprofesi sebagai pakar peneliti, serta menjalankan beberapa bisnis di Britania Raya. Tentu novel ini tidak terlepas dari cerita romansa Fahri yang di dalamnya menceritakan tentang perjuangannya mencari Aisha yang hilang di Palestina, dorongan dari berbagai pihak untuk menikah lagi, adanya perjodohan, menikah dengan keponakan Aisha, hingga ia kembali bertemu dengan Aisha yang sudah hilang sejak lama.

Terlepas dari berbagai kemelut kisah cinta Fahri tersebut, novel ini sarat dengan nilai-nilai toleransi beragama. Kehidupan Fahri di Britania Raya sebagai muslim yang minoritas membuatnya harus melakukan pembuktian bahwa seorang muslim pun memiliki kapabilitas yang harus dipertimbangkan di sana. Dalam novel ini banyak diceritakan mengenai stereotype orang terhadap muslim sehingga sosok Fahri berusaha mengubah stereotype tersebut untuk mengembalikan citra muslim yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Sosok Fahri seolah memberikan gambaran tentang bagaimana toleransi seharusnya dijalankan dengan memperhatikan batas-batas yang jelas.

“Kita boleh berbeda. berbeda tempat lahir kita. Berbeda ayah dan ibu kita. Berbeda negara dan kebangsaan kita. Berbeda profesi dan pekerjaan kita. Berbeda afiliasi politik kita. Berbeda ras dan agama kita. Berbeda selera makan dan minum kita. Tetapi kita sesungguhnya memiliki nurani yang sama, yaitu nurani kemanusiaan” begitulah kata Fahri saat ia melakukan konser amal untuk Palestina.

 

Dalam perjalanannya tinggal di negeri orang, Fahri tidak pernah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim untuk beribadah. Ia memperoleh perlakuan yang tidak bersahabat dari orang-orang yang tidak menyukai muslim. Tapi apa yang dia lakukan? Dia selalu bersikap baik dan rendah hati kepada setiap orang, muslim ataupun nonmuslim. Fahri bahkan dalam novel ini membantu tetangganya yang merupakan seorang Yahudi. Penulis dalam novelnya ini menyampaikan sebuah pandangan bahwa toleransi memang perlu untuk dilakukan namun bukan berarti menganggap semua agama sama atau bahkan mendorong ke arah meniadakan agama. Kutipan yang paling saya ingat saat ada satu bagian cerita Fahri melakukan debat terbuka adalah “Tahu sedikit filsafat cenderung membawa pikiran manusia kepada Atheisme, namun pemahaman yang dalam tentang filsafat mengantarkan pikiran manusia berpikir tentang Allah”.

Menurut saya novel ini sangat imbang karena tidak hanya memberikan pembacanya pengetahuan tentang ilmu agama, gambaran kehidupan di luar negeri, namun juga menggambarkan bagaimana kesetiaan terhadap pasangan Jadi bagi kalian yang mungkin sedang belajar setia, novel ini bisa menjadi referensinya. Kekurangan dalam novel ini? Sejauh yang saya sudah baca, saya belum bisa menemukan kekurangannya, mungkin kalian yang sudah baca bisa menambahkannya. Terima kasih

 

Sumber gambar <http://andhikaramdhan.blogspot.co.id/2015/12/resensi-novel-ayat-ayat-cinta-2.html>

  • view 249