DIA

Puji Astuti
Karya Puji Astuti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Oktober 2016
DIA

Kali ini cerita ku adalah tentang dia… dia yang sudah ku pilih, tapi masih membuatku ragu. Apa aku bisa bertahan? Apa aku bisa sabar? Sampai mana batas sabarku? Aku bukan manusia sesabar itu untuk menunggu.

Ini semua berawal dari pilihan. Sial,ku pikir. Aku sudah bilang aku benci pilihan, tapi mengapa hidup seolah selalu menawarkan itu. Membuat aku terjerumus pada jurang resiko yang tak akan aku tahu sebelum aku benar-benar memilihnya.

“aku dihadapkan pilhan antara benar dan salah, begitu rumitnya dunia hanya karena sebuah rasa… cinta…”

Bahkan saat menulis ini, muncul lagu Agnes Mo yang seolah sedang menyindirku, tentang benar atau salahkah keputusan yang aku ambil.. Bisakah aku melanjutkannya sampai akhir? Tentang dia dan segala rasa cinta ini yang harus tercurah untuknya.

Dia yang satu. Mengenalkan aku bahwa hidup harus penuh dengan perhitungan, sedikit saja aku keliru, maka aku gagal. Bersamanya, setidaknya membuat aku paham bagaimana untuk lebih terstruktur, untuk dapat memanajemen pikiranku, berpikir seobjektif mungkin, tak boleh berprasangka. Tapi bersamanya bagiku terlalu kaku. Seperti ada batas di antara kita. batas yang terlalu jauh hingga aku selalu berpikir dapatkah aku sampai pada batas itu? Atau justru batas kesabaranku yang habis? Orang bilang, bersamanya aku beruntung, dia bisa membuat orang bekerja lebih keras, katanya aku harus percaya, akhir bersamanya adalah bahagia. Tapi adakah yang bisa meramal itu? Siapa yang bisa menjamin kebahagiaan seseorang? Bahkan rasa bahagia itu relatif… Dia kerap membuat aku menangis, apa itu bisa dikatakan bahagia? Iya aku tahu ini baru awal, tapi sampai kapan? Entah. Bersamanya membuatku bertemu banyak orang, ada yang aku suka, ada yang tidak. Bahkan ada yang membuatku cemburu. Seterkenal itukah dia hingga aku bisa bertemu dengan ratusan orang hanya karena aku bertahan disisinya? Bisakah kemudian dia mempertahankan kesetiaannya? Itu pertanyaan besar. Pengalaman mengajarkan aku untuk selektif.

Dia yang lain. Bersamanya aku bisa lebih bebas, tak ada batasan, tak mengekang. Seperti sesuatu yang kurasa kita akan sangat cocok. Tapi, tetap saja ada tapinya. Dia tak akan pernah berbicara, tak akan pernah jujur, jika bukan aku yang harus memulai untuk menggalinya. Aku bukan orang yang bisa mencari tahu dengan detail, aku bukan tipe orang yang kepo. *masa? Ya sekepo-keponya aku, aku tidak akan menggali masa lalu, masa depan atau masa apapun itu hanya untuk kepuasan kognisi ku tentang dia. Lantas bagaimana aku bisa nyaman? Aku tak tahu apapun tentang dia, aku canggung untuk bertanya lebih padanya. Orang bilang untuk dapat bersamanya mungkin butuh waktu. Lebih lama, mungkin sangat lama. Apalagi jika aku ingin memahami dia. Bertahan menunggunya pun bahkan bisa menyakitkan. Tak menutup kemungkinan dia bisa tiba-tiba berubah, berbalik meninggalkanku mungkin. Iya aku tahu, bersamanya aku tak harus bertemu banyak orang, dia lebih tertutup hanya bertemu dengan segelintir orang saja. Tak perlu membuatku risau. Tapi tetap saja, tak ada yang bisa menjamin kesetiaan. Hati manusia itu dibolak-balikan pemiliknya. Tahu film Surga yang Tak Dirindukan? Semacam tokoh dalam film itu, bahkan saking sempurna baik hatinya dia, kemudian kesetiaan hancur pada saat itu juga. Pertanyaan semula pun terulang, bisakah aku sabar?

Kali ini bukan tentang sabar yang menjadi poin pentingnya, karena keduanya membutuhkan itu. Ini hanya soal pilihan. Bagaimana aku berani untuk mengambil resiko atas apapun yang aku pilih. Kemudian pada akhirnya aku pilih siapa? Saat ini aku memilih dia yang satu. Aku akan setia? Jangan bertanya. Hatiku bukan milikku, hatiku milik-Nya, kepada siapa aku akan setia, aku pun tak punya jawabannya. Tapi di sini aku berusaha setia. Bertahan dengan apa yang telah aku pilih. Sesulit apapun itu, sebesar apapun mungkin yang kelak harus aku korbankan, entah waktu, entah pikiran, entah rindu. Entahlah .. aku hanya bisa mencoba melakukan yang terbaik, untuk cerita tentang masa depan yang lebih baik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dia (read : skripsi)

Dia yang satu (read : kuantitatif)

Dia yang lain (read : kualitatif)

LOL

Inspirasi Judul : Syanap

(Sumber gambar : http://deniska.web.id/siska/2015/07/27/tentang-apa/)

  • view 230